“EL!” pekiknya.
Aku menengadah ke atas, mencoba mencari El di atas langit-langit dunia. Pekikan-pekikan kami terbitkan, demikian seperti yang diajarkan para murshid. Pekikkan nama El di mana kalian butuh dia, kapan pun, di mana pun.
“EL !!!” Aku ikut serta memekik. Semoga El belum lagi tuli.
Kau tahu? Aku hampir tidak percaya dengan keberadaan El. Aku rasa, omongan-omongan El yang sering kudengar lebih seperti mitos, atau dongeng-dongeng. Ketakutan manusia atas ketidakberdayaan mereka, lantas mencari sosok supreme untuk mampu membuat mereka merasa tenang. Diciptalah dia yang bernama El.
El adalah keberadaan. Ide mutlak dari setiap khayalan. Dia yang bahkan tidak memiliki nama, namun memberi nama agar mampu dimaknai. Dia yang ada dalam ketiadaan. Sesuatu yang tak mampu dibicarakan. Lebih ada dari semesta mayapada, lebih hening dari laksa labirin-labirin hitam ekstase. El, kerinduan.