Kehidupan dan Lukisan

Pernah memandang lukisan? Apa pendapatmu tentang lukisan.

Walau setiap orang memiliki rasa tersendiri terhadap seni, bahkan juga lukisan, namun kita memiliki satu pendapat yang sama untuk menilai lukisan: kita tidak bisa menilai sebuah lukisan hanya dengan mengandalkan satu titik.

Apa pendapat orang tentang lukisan Monalisa. Indah? Bagaimana jika kita menilai lukisan tersebut hanya pada satu titik, misalnya sebintik titik pada fokus mata lukisan tersebut. Adakah unsur keindahan?

Lukisan menjadi indah ketika semua warna bercampur menjadi satu. Entah itu garis, kurva, garis lengkung, atau apalah. Sejatinya keindahan lukisan adalah warna. Karena warna dia bermakna.

Baca Selengkapnya

IQ Aku Jongkok

Anda telah mendaftar di Intelligent Elite. Anda sekarang dapat melihat hasil tes anda begitu juga untuk mengikuti lebih banyak tes profesional lainnya. Namun, nilai IQ anda masih dibawah nilai yang ditetapkan untuk dapat bergabung dengan kami. Anda dapat mencoba untuk mengikuti tes ulang disini: http://www.intelligentelite.com/iq/info/short/

Yang Lin
Customer Relationship Manager
Intelligent Elite

Itu adalah cuplikan email yang saya terima dari pendaftaran akun Intelligent Elite. Awalnya tertarik dengan tes yang dilakukan oleh teman saya Judotens sang programmer tunggal website tuitwit.com

Menurut hasil penelitian dengan tes yang dilakukan selama 10 menit. Skor IQ saya adalah 87. Saya sangat senang sekali walau mungkin masih dikategorikan orang dengan lemah dan cacad otak, daripada dengan IQ 60 seperti yang saya duga sebelumnya.

Baru kali ini saya mengetahui nilai IQ saya, walau belum tahu apakah hasil tersebut benar-benar tepat atau tidak.

Baca Selengkapnya

Teka-teki Sebuah Perjalanan

Hidup adalah teka-teki.
Hidup adalah perjalanan.
Hidup adalah teka-teki sebuah perjalanan.

Kita semua sedang menebak-nebak sebuah teka-teki mahapenting. Teka-teki yang kita namakan kehidupan. Sebagian dari kita berkata bahwa itu adalah sebuah perjalanan. Bagiku, hidup adalah rangkaian puzzle acak yang menunggu untuk disatukan. Puzzle tentang cinta, puzzle persahabatan, puzzle kesuksesan, dan puzzle Tuhan.

Tuhan akan marah jika kita berhenti mencoba. Karenanya, dia mengharamkan surga bagi mereka yang memutuskan mati sebelum semua puzzle lengkap terbentuk.

Puzzle kita adalah rangkaian takdir. Tidak harus indah, namun keikhlasan dalam menjalani serta doa yang selalu kita mintakan kepada Tuhan akan menjadi score penting, kelak suatu hari ketika puzzle-puzzle kita dinilai pada suatu sidang.

Baca Selengkapnya

Yang Pantas Untuk Dikenang

Tolong kenanglah aku.” Pintanya suatu ketika.

Dan aku menggeleng. Tidak! Tegasku dalam ucap gerak tubuh itu. Aku tidak ingin mengenangmu, walau engkau adalah yang paling indah jika kukenang. Aku belum lagi pupus mencintaimu, jangan buat aku menyerah sebelum sebuah ucap kata pinta meminangmu tiba. Jikalah itu telah sampai, dan engkau pun di waktu itu menolak pintaku membangun rumah di antara setengah agama, maka aku rela. Saat itu, engkau, yang pantas untuk dikenang.

Tegakah engkau merobek sayap hatiku? Mencabiknya menjadi serpihan, lantas memintaku cuma mengenang. Mengapa tak kau minta saja aku mendaki Nepal, berdiam lama dengan mata tertutup di sana. Mungkin suatu laksana aku akan menjadi Budha, tercerahkan, dan karmaku dalam mengingatmu hilang ditelan Nirvana.

Atau kau buang bungkam, untuk kata aku menitilah api suci para Brahmana, seperti ketika Sinta berjalan di sana ketika Rama menguji masihkan suci cinta Sinta selepas dia disekap Rahwana. Dan kisah pun berakhir, tak pernah lagi terdengung lanjutan tentang Sinta selepas dia meniti api suci. Terbakarkah ia oleh cinta, atau cinta meredam api.

Baca Selengkapnya

Tahajud dan Piala Dunia

Tadi, khatib Jumat yang ada di mesjid dekat rumahku berbicara begini. Suatu pembicaraan yang membuat jantung berdetak lebih kencang. “Mengapa orang-orang rela terbangun untuk menonton piala dunia, namun untuk tahajud begitu susah?

Sebuah pertanyaan yang membutuhkan renungan lebih. Ya, membutuhkan renungan panjang. Bukan pertanyaan dengan jawaban singkat, karena untuk menjawabnya dibutuhkan suatu pencerahan kecuali cuma jawaban kosong yang tiada meninggalkan bekas. Butuh waktu untuk menjawab pertanyaan khatib tersebut.

Jelas aku tersentak. Aku merasa pertanyaan khatib itu adalah pertanyaan Tuhan yang dititipkan lewat mulutnya. Aku merasa Tuhan sedang ingin menyindirku. Seolah dia bertanya: “Kamu Baiquni, mengapa rela bergadang malam untuk hal-hal yang bersifat duniawi? Mengapa kamu rela duduk di depan komputer terus-menerus tetapi untuk membaca ayat-ayatKu saja kamu begitu susah. Mengapa untuk tersungkur sujud di hadapanKu kamu begitu angkuh. Sombong. Siapakah Tuhanmu?

Khatib tadi yang menjadi Kepala Bidang Dakwah di Dinas Syariat Islam juga bercerita. Mereka terkadang malam sering ke Ulee Lhue, mencegah muda-mudi untuk berpacaran di sana, tetapi apa jawaban mereka? “Kami mau masuk surga atau neraka ya itu urusan kami, apa urusan dengan Bapak?

Baca Selengkapnya