Episode Pertanyaan

Apakah aku sedemikian buruknya?

Episode-episode pertanyaan berjejal di tempurung otakku. Memintaku menjawab semua tanya yang muncul, entah itu dari logika atau dari rasa.

Kadang aku merasa begitu amat buruk, terlebih ketika seseorang mulai berjalan membelakangi punggungku ke arah yang berbeda. Ketika seseorang yang selalu tersenyum mulai memudarkan senyumnya kepadaku. Atau, ketika sentuhan yang langsung menyentuh dadaku mulai ditarik pelan-pelan. Aku bertanya: apakah aku sedemikian buruknya?

Hingga berapa lama waktu untuk mengingat tersedia?

Pertanyaan yang lain tiba. Datang, sejengkal demi sejengkal. Menunggu waktu untuk sebuah jawaban. Hingga kapan waktu untuk mengingat tersedia? Aku tidak tahu berapa lama total waktuku tersedia di dunia, jadi aku akan bertanya hingga kapan episode mengingat itu memperkosa hidupku, menahan semua ingatan lain yang hendak muncul.

Baca Selengkapnya

Draft

Beberapa hari terakhir ini aku cuma menuliskan draft blog. Entah mengapa, ide utama selalu gagal aku sajikan seutuhnya, lantas merasa sayang jika itu hilang, maka aku simpan sebagai bentuk draft.

Ada beberapa catatan kaki juga hati yang hendak aku posting, namun aku merasa ragu untuk mempublikasikannya. Rasa-rasanya tidak begitu bagus dan terlalu mewek.

Untuk menulis sesuatu yang kemudian aku tahu itu bernama kontemplasi juga aku tidak minat. Rasanya sungai ide itu mengering, seperti sedang kemarau, padahal aku sedang badai sehebat-hebatnya.

Dulu sekali aku pernah terjadi badai. Dari badai lahirlah sebuah surat betapa aku tidak ingin suatu ikatan hati berbuah nista. Surat itu aku namakan “Surat Untuk Cintaku“.

Baca Selengkapnya

Jadwal Kencan

Aku senang sekali. Nanti malam jadwalku kencan dengan teman liqo dan besok paginya ada pengajian salafi.

Baru minggu kemarin aku mulai ikut dengan pengajian salafi, namun aku tidak mengikuti liqo mereka. Sebenarnya sistem di salafi juga seperti di tarbiyah, di sana ada yang namanya haloqah per kelompok-kelompok kecil. Tetapi aku tidak begitu mengerti sistemnya, karena aku tidak mengejar sistem.

Di tarbiyah pun, walau telah lama namun aku tidak terlalu mengikuti sistem. Bagiku, menetralisir segala keburukan itu sudah lebih dari cukup. Pernah tidak aku cerita bahwa teman-teman liqo-ku yang lain yang bahkan lebih baru dariku tetapi tingkat amalan mereka lebih baik, bahkan terkadang mereka juga ikut diterjunkan ke dalam lingkup dakwah yang lebih besar. Tetapi aku lebih memilih tetap tidak ikut itu.

Baca Selengkapnya

Jerawat!!!

Stt… jangan bilang siapa-siapa yah kalau mukaku mulai terkena epidemi jerawat yang super gawat.

Bayangin aja, jerawatnya itu besar-besar sebesar bisul! Stt… jangan keras-keras, pelan-pelan aja ngomongnya.

Padahal aku sudah mempraktikkan cara mandi yang baik dan benar. Pertama, cuci rambut dulu, kedua baru mandi pakai sabun, ketiga gosok gigi, dan terakhir membersihkan muka.

Aih, kenapa jerawatku bisa besar-besar begini ya? Kalau dilihat orang pasti menjijikkan sekali, apalagi kalau dibayangi dengan adegan-adegan romantis, pasti bakal terjadi sensor besar-besaran karena jerawat yang super gawat ini.

Baca Selengkapnya