Janji Seribu Hari

Kepada seorang bidadari, aku telah memberikan janji seribu hari. Kelak, dalam waktu itu aku akan belajar menegakkan punggungku untuk berdiri. Tidak cuma menjadi seseorang yang telah mampu mencukupi kebutuhan nalurimu, tidak cuma untuk kebutuhan sandang, pangan, dan papanmu. Namun, aku berjanji untuk tegak berdiri, juga berarti menjadi seseorang yang menuntun batinmu. Menjadi satu, kita, sama-sama berjalan di jalan yang penuh bara.

Hari-hari menuju seribu adalah hari-hari yang penuh dengan rindu. Kerinduan-kerinduan, saling terpilin, seperti tali-temali serabut yang memilin menjadi kokoh dan kencang yang bahkan mampu menahan kapal-kapal tongkang. Kerinduan juga seperti serabut tipis, yang mampu dipilin menjadi sesuatu tekad yang akan mampu mengikat apapun, ataupun engkau burai dia, cuma menjadi serabut tipis, yang akan lapuk dan cepat putus. Memilin kerinduan adalah keputusan.

Baca Selengkapnya

Layla Majnun

Seorang lelaki sedang jatuh gila. Kali ini dia bukan lagi jatuh cinta. Namun cinta di atas cinta. Dia telah menjadi gila. Sangat gila. Teramat gila.

“Majnun, kamu!” hardik wanita yang sedang dicintainya itu.

“Sudah lama aku Majnun,” pasrah lelaki. “Kamu aja yang tidak tahu.”

Sudah berabad lamanya lelaki menjadi gila. Gila karena jatuh cinta. Dan cinta itu yang membabat habis edisi waras dari kehidupannya. Dalam hatinya, cuma ada goresan satu nama, yang lain telah pudar terhapus. Cuma nama wanita itu. Nama perempuan itu. Bidadari ketiga.

Baca Selengkapnya

Cinta Tanpa Kata

Seseorang membaca blogku dan mulai berbicara. “Cintamu tidak sedalam cinta yang aku punya.”

Saat itu aku tidak membalas apapun yang hendak dikatakannya. Aku cuma diam, takzim, mendengarkan runut cerita berikutnya.

Engkau mencintai dengan kata-kata, dengan berbicara, dengan berbahasa. Engkau bercerita di mulut keduamu ini, tentang segala hal yang engkau rasa. Pitin-pitin hati yang memilin. Sebuah rasa yang sulit engkau tanggung, membeban di dalam hati lantas engkau tumpahkan di sini. Dan aku sungguh berbeda darimu. Cintaku lebih tulus daripada cintamu. Cinta tanpa kata.

Baca Selengkapnya

Gelisah

Pulang dari kampus tadi, sekitar jam 14.00 WIB. Entah mengapa hatiku deg-degan. Gelisah.

Aku sendiri tidak paham, dari mana datangnya gelisah mengapa dia harus sampai hadir. Aku cuma tahu, debar jantungku tidak enak. Terasa sekali tanganku gemetar dan mendingin. Segala hal menjadi tidak enak. Duduk tidak nyaman, tidur pun tidak menyenangkan. Kepala ini pusing sekali. Sangat.

Entah apa yang terasa. Apakah ini yang disebut firasat buruk?

Rasaku tidak. Tidak ada firasat buruk apa-apa. Aku menduga bahwa ini efek salah makan, atau mungkin salah minum. Kafein sedang mencoba merusak tubuhku. Seingatku tadi sekitar pukul 12.00 WIB, di kantin aku makan sepiring Indomie basah dicampur telur dan segelas besar Cappucino dingin.

Aku memang mulai alergi kopi. Dulu tidak, sampai akhirnya aku mendengarkan cerita tentang Aik yang bagaimana dia begitu alergi terhadap kopi. Seteguk kopi bisa membuat dia harus kehilangan napas dan begitu gelisah.

Baca Selengkapnya

Perempuan dan Defensif

Menurutku, kebanyakan perempuan ditakdirkan untuk menjadi seseorang yang defensif. Hal tersebut sangat berguna karena posisinya yang diciptakan alam sebagai pengasuh, menjaga anak-anak serta mendidik. Berbeda dengan lelaki yang diciptakan alam dengan sifat agresif, pemburu, dan kepemimpinan.

Mau-tidak-mau, sifat defensif itu menjadi kompulsif di dalam sifat wanita. Bagaimana cara mereka menilai serta berpikir. Jika kita menggunakan algoritma kasar sebuah komputasi, mungkin begini logikanya: tolak semua apapun dari siapapun kecuali dari mereka yang diinginkan.

Ada sebuah kasus yang menarik, tentang perempuan yang defensif dan seorang lelaki yang agresif.

Baca Selengkapnya