Miskin Bukan Tipuan

Miskin itu ditentukan oleh negara!

Salah! Yang benar, miskin itu ditentukan oleh bank!

Lho, teori dari mana pula itu? Lah, ya benerlah bahwa kemiskinan itu ditentukan oleh bank. Orang-orang dengan rekening gemuk adalah mereka yang kaya, sedangkan indeks kemiskinan seseorang bisa dihitung dari seberapa tebal kantong rekeningnya di bank.

Aku adalah salah satu kaum marginal yang terkena proses kemiskinan oleh bank. Tabunganku terakhir dicek cuma berkisar Rp 190.000,- dan di kantongku cuma ada kurang dari Rp 200.000,- itulah kekayaan terkini seorang Muhammad Baiquni.

Sungguh, aku jatuh miskin bukan buatan.

Baca Selengkapnya

Menggenggam Awan

Aku pernah naik pesawat. Ketika berada di puncak bumi, aku melihat sekumpulan awan. Mereka seperti sebuah negeri. Engkau tahu? Aku rasanya ingin terjun bebas di sana, berdikari bersama awan-awan, tidur, dan menikmati pancaran matahari yang mengelus lembut kulit-kulit putihku yang halus.

Apa yang dipikirkan manusia, terkadang berbeda dengan realitas yang nyata. Aku beberapa terakhir ini sering berpikir tentang push up, rasanya mudah sekali melakukan push up, namun ternyata ketika aku coba rasanya sulit sekali. Perutku sampai sakit dibuat, padahal dalam nalarku, segalanya berlangsung dengan mudah.

Begitu juga dengan awan-awan. Suatu hari, aku berpikir ingin menggenggam awan. Memeluknya, menjadikannya tidak sekedar khayalku.

Kita sering seperti diriku. Berkhayal tentang sesuatu yang ternyata tidak mampu teruji di dalam dunia nyata. Walau terkadang khayalan ada yang memiliki nilai dalam pergerakan dunia. Khayalan Einstein tentang andai dia berjalan secepat cahaya, dan melihat dunia seperti adegan stop sebuah film kehidupan. Atau bayangan Copernicus tentang bumi, matahari, dan bintang-bintang.

Baca Selengkapnya

Sebuah Beban

Masih ingat ceritaku tentang Surat Perjanjian di mana kakakku akan membelikan aku motor dengan syarat aku harus menyelesaikan kuliahku? Jujur, aku merasakan itu sebagai sebuah beban, terlebih ketika beberapa hari yang lalu aku berbicara dengannya.

Saat itu aku berada di mesjid Oman, Lampriet, bersama kawanku di FLP, Ibnu. Dari Dhuhur kami di sana sambil menunggu Ashar. Kira-kira pukul 15.00 lebih sedikit, Anda, kakakku telepon.

Pada suatu pembicaraan, Anda, kakakku bertanya apakah Yahdun (pamanku) ada datang ke rumah? Selidik, ternyata kakakku hendak mengambil kredit. Aku tanya untuk apa? Jawabnya, ya untuk membelikanku motor.

Mendengar jawaban itu, hatiku tertohok. Sangat dalam, namun aku mencoba menyembunyikannya di dalam tawa. Saat itu, aku merasa seperti sebuah beban. Aku merasa menjadi beban bagi orang lain. Aku tidak suka.

Baca Selengkapnya

My BlackBerry Cannot be Repaired

Ketika sedang mengaji di mesjid Oman, Lampriet, untuk menghabiskan jatah 9 halaman setiap habis shalat, aku dikejutkan oleh sebuah sms. Isi pesannya: “HP BB NYA TDK DPT D PERBAIKI, VIRTUAL COM

Sedih rasanya ketika membaca pesan tersebut. Bagaimana tidak, BlackBerry yang aku beli via eBay, dengan harga $245, belum sebulan digunakan, telah rusak.

Awalnya, sekitar 3 minggu yang lalu BlackBerry-ku terbanting dari tempat tidur ketika aku sedang bersih-bersih kamar. Aku tidak sengaja menjatuhkannya ketika aku hendak melipat selimut. Ketika sedang aku kepakkan selimutnya, eh BlackBerry-nya ikutan terangkat dan terjatuh.

Aku kira bakal sama dengan handphone-handphone-ku yang lain, alias tidak bakal terjadi apa-apa, namun kali ini berbeda. BlackBerry-ku padam, tidak hidup.

Baca Selengkapnya

Kepak Sayap-sayap Tumpul

EL!” pekiknya.

Aku menengadah ke atas, mencoba mencari El di atas langit-langit dunia. Pekikan-pekikan kami terbitkan, demikian seperti yang diajarkan para murshid. Pekikkan nama El di mana kalian butuh dia, kapan pun, di mana pun.

EL !!!” Aku ikut serta memekik. Semoga El belum lagi tuli.

Kau tahu? Aku hampir tidak percaya dengan keberadaan El. Aku rasa, omongan-omongan El yang sering kudengar lebih seperti mitos, atau dongeng-dongeng. Ketakutan manusia atas ketidakberdayaan mereka, lantas mencari sosok supreme untuk mampu membuat mereka merasa tenang. Diciptalah dia yang bernama El.

El adalah keberadaan. Ide mutlak dari setiap khayalan. Dia yang bahkan tidak memiliki nama, namun memberi nama agar mampu dimaknai. Dia yang ada dalam ketiadaan. Sesuatu yang tak mampu dibicarakan. Lebih ada dari semesta mayapada, lebih hening dari laksa labirin-labirin hitam ekstase. El, kerinduan.

Baca Selengkapnya