Telkomsel Poin Mengecewakan

Sudah hampir 6 x 24 jam poin yang aku tukarkan tidak masuk-masuk. Entah sudah berapa kali aku menghubungi operator / customer service dan berujung kepada kekecewaan. Mereka memintaku bersabar namun dengan intonasi yang menekan seperti marah. Walau tidak ada bentakan. Sangat tidak menyenangkan.

Dari tanggal awal Desember aku menukarkan poin, dan ketika sudah 3 x 24 jam tidak masuk aku menghubungi customer service, dan aku diminta menunggu 6 jam. Sesudah menunggu, bonus poin pun masuk. Saat itu aku senang.

Masalahnya adalah dipenukaran tanggal 5 dan 8 Desember. Aku menghubungi customer service dan diminta menunggu 3 x 24 jam untuk masalahku. Aneh, aku bertanya mengapa tidak dimasukkan manual saja seperti yang sudah-sudah, namun mereka memintaku untuk menunggu dengan intonasi yang kurang menyenangkan. Aku tidak suka attitude mereka. Aku yang dirugikan kenapa mereka yang bersikap demikian.

Dan masalahnya menjadi lebih rumit setelah kemarin. Aku menelepon dan katanya, aku menghubungi mereka belum lagi 3 x 24 jam, dan mereka memintaku menunggu dan menunggu disertai nada kesal dari mereka.

Dan tadi pagi. Aku kesal. Ini sudah 3 x 24 jam. Dan tetap diminta menunggu. Bahkan aku merasa didikte ketika aku panik yang tanggal 8 Desember penukaran juga belum masuk. Mereka malah memintaku kembali menunggu 3 x 24 jam.

Apa-apaan ini! Mengapa sudah 3 x 24 jam dikalikan 2 masalah belum juga selesai. Terlebih, aku tidak mendapatkan kompensasi apa-apa dari keterlambatan tersebut.

Aku tidak tahu harus mengadu kemana. Cuma ke blog ini aku meneruskan kekecewaan.

Baca Selengkapnya

Aku Bahagia

Aku bahagia. Bahagia bisa berarti apa saja.

Tadi pagi, sekitar pukul 10.15 WIB aku tiba di Aula Telkom Flexi, menghadiri acara launching buku “Puisi Di Antara Hari” buah karya kak Afrida Arfah. Di sana ada Ibnu Syahri Ramadhan sebagai moderator dan Riza Rahmi sebagai pembedah buku.

Setelah acara selesai, ada pula sesi meminta tanda tangan kepada penulisnya. Di saat itulah si Riza ngomong, katanya ada yang ingin dia sampaikan kepadaku. Aku kira apa, ternyata yang ingin disampaikan adalah bahwa orang yang aku cintai itu saling berkunjung ke blognya dia dan saling membalas komentar.

Mendengar itu aku tersenyum. Aku senang. Sangat senang.

Baca Selengkapnya

Mencintai dan (tanpa) Dicintai

Ketika aku mencintai seseorang, aku ingin yang terbaik bagi kebahagian seseorang itu. Walau itu berarti, dia berbahagia dengan orang selain diriku. Bagiku itu bukan suatu masalah. Malah aku merasa senang, bahagia yang sulit untuk dijelaskan.

Seseorang yang aku cintai pernah bertanya kepadaku, mengapa aku selalu meminta dia untuk menyukai seseorang yang sedang dia cintai? Dalam artian, mengapa aku tidak memintanya untuk mencintai diriku sendiri.

Aku cuma ingin dia mencintaiku dengan setulus hati. Ketika di dalam hatinya aku mampu meraba ada orang lain di dalam sana, aku ingin dia menuntaskan dulu segala kegilaannya. Aku ingin dia mencerna, dia berpuas berjuang untuk cintanya. Saat dia telah lelah, saat dia telah berputus asa, saat itu ada aku di sana. Masih terus mencintainya.

Bagiku tidak masalah, ketika aku mencintai seseorang tanpa orang itu mencintai diriku. Sama sekali bukan masalah. Yang menjadi masalah adalah ketika kami sudah saling berikrar untuk sehidup-semati atas jawaban cinta, ketika itu dalam hati-hati kami muncul pengkhianatan. Itu yang menjadi masalah. Namun, sebelum ucap kata itu tiba, aku ingin segalanya menjadi jelas, terang, dan sejujur-jujurnya.

Aku tidak pernah meminta dia mencintai diriku. Yang aku ingin cuma satu, dia tahu bahwa aku mencintai dirinya.

Baca Selengkapnya

Memendam Rindu

Seseorang menuliskan namaku, “Muhammad Baiquni” di Google. Aku hanya tahu saja, apa yang terjadi pada seseorang itu. Aku cuma tahu, tidak lebih.

Nama-nama yang melumat hatinya mengalir pelan lewat ketikan-ketikan jemarinya. Memaksanya untuk melihat, membuka kerinduan, walau sekedar memandangi nama dan tempat seorang lelaki membongkar kata-kata.

Baca Selengkapnya

Aku Membosankan

Aku membosankan. Aku rasa, demikianlah aku.

Habis Isya tadi, begitu pulang, aku merasa sangat bosan. Dari sore tadi aku juga sangat bosan. Jujur, aku tidak tahu mengapa. Dan mengapa kita merasa bosan? Karena diri kitalah yang membosankan.

Aku mengetikkan hal tersebut di status facebook. Rata-rata teman mencoba menyemangati aku bahwa aku bukanlah orang yang membosankan. Beberapa bercerita bahwa mereka senang berada di dekatku, dan menunggu lawakan-lawakanku berikutnya. Bahkan seseorang sempat mengirimkan sebuah pesan, bertanya, apa yang terjadi padaku sebenarnya.

Tidak ada terjadi apa-apa selain aku mulai mengerti bahwa aku ini membosankan.

Baca Selengkapnya