Anak Haram

Bapakku setan. Ibuku jalang. Orang-orang bilang, aku anak haram.

Aku pernah ingin tanya, “Ibu, mengapa tidak aborsi saja?” Mengapa harus melampiaskan dendam kepada Bapak terhadapku. Mengapa pula harus selalu memakiku, menumbukkan kepalaku ke dinding, menamparku, dan menyuapi aku dengan darah yang mengalir dari bibir-bibirku yang pecah. Pernah aku ingin bertanya tentang hal itu, namun aku tak berani.

Lelaki yang disebut Bapak yang tidak aku tahu siapa dia. Kelak jika aku bertemu dengannya, aku ingin juga tanya hal yang serupa, “Bapak, mengapa tidak paksa saja Ibu aborsi. Agar aku tidak pernah lahir, agar aku tidak tersiksa.

Anak-anak lain jika ditanya, ingin bercita-cita menjadi apa? Mereka mungkin akan riang menjawab ingin menjadi dokter, pilot, guru, atau apapun. Aku, jika ditanya hal yang serupa, aku cuma ingin jawab: aku ingin bunuh mereka.

Baca Selengkapnya

Rindu dan Gila

Kerinduan. Berjalan pelan-pelan di antara hati kita. Walau kita sama-sama berdiri dalam keberdiaman, jauh dari suatu kebisingan. Aku dan kamu yang saling jatuh rindu. Sama-sama yang saling jatuh gila.

Bagaimana jika aku rindu?” Seseorang kembali bertanya.

Aku diam. Entah mungkin bisa dijabarkan lewat seribu bahasa. Yang jelas, aku cuma mampu diam. Karena jika aku berbicara, aku tidak akan mampu berbicara dengan satu bahasa. Butuh banyak bahasa untuk mengungkapkan kerinduan. Jika dipaksakan cuma satu bahasa, yang ada cuma racauan. Ricuh bertubi-tubi dari bibir yang tidak lagi mampu akulturasi dengan otak yang dihimpit beban.

Kadang, jika demikian aku akan bertanya. “Apa kau rindu aku?

Baca Selengkapnya

Cemburu

Aku cemburu. Tetapi bukan kepada manusia. Aku cemburu sama blogku yang lain yang beralamat di http://blog.baiquni.net. Kenapa? Karena ternyata blog itu lebih banyak pengunjung daripada blogku yang ini. Padahal blog yang di sana sengaja jarang aku update dibandingkan blogku yang ini.

Kemarin aku melihat, statistik pengunjung blogku di sana sekitar 200-an orang. Sedangkan pengunjung di sini masih berkisar 100-an orang.

Padahal aku ingin menurunkan alexa blogku ini. Memang sih, di blogku yang di sana beberapa artikel tentang komputer dan pemograman, sedangkan di sini isinya cuma curhat-curhat-curhat dan sesekali tentang apa yang aku pikirkan.

Tetapi, yang jelas aku cemburu.

Baca Selengkapnya

Hujan Yang Aneh

Hujan yang aneh. Biasa orang menyebutnya hujan lokal. Sudah dua kali aku diserang. Dia yang turun dari langit yang membuatku kuyup. Basah. Lantas kedinginan.

Tadi aku di FLP, menjaga sekretariat untuk pendaftaran LMuS (Lomba Menulis Untuk Siswa). Kebetulan, kuitansi dan anak klip sudah habis, jadi aku ditugaskan untuk membeli peralatan tersebut.

Seorang anak FLP, yang berjenis kelamin laki-laki dan bernama Syukri Aba ternyata membawa sepeda. Berbeda dengan aku dan Ibnu yang membawa Honda. Di sini, di Aceh, kami lebih sering menyebutkan sepeda motor itu dengan Honda. Terserah mau merek apa, baik itu honda Yamaha, honda Supra, atau honda Suzuki. Pokoknya yang orang Jakarta sebut motor, atau sepeda motor, di sini disebut honda.

Jadi, aku yang sudah lama tidak bermain sepeda meminjam sepeda milik si Syukri Aba. Aku pun berjelajah mencari fotokopi terdekat dengan FLP. Di daerah Lampriet, akhirnya ada sebuah fotokopi yang buka. Tokonya kecil, hampir seluruhnya cuma terbuat dari kayu.

Lepas setelah aku membeli anak klip dan kuitansi, aku pun mencari toko swalayan terdekat. Aku membeli Pulpy Orange. Nah, kesialan bermula di sini. Saat hendak pulang, hujan pun turun. Tanpa komando, langsung menderas. Aku pun tiba di FLP dalam keadaan tenggelam.

Baca Selengkapnya

Andai Negeriku Seperti Mereka

Puluhan Nabi diangkat dari ummat itu,
Aku cemburu.
Tetapi perjuangan mereka hari ini adalah bukti,
:bahwa mereka memang istimewa.
Aku semakin cemburu.

30 tahun ini, mereka tidak buta dan mati dalam ketakutan.
Mereka merangkak perlahan,
menjalin genggaman demi genggaman tangan,
menjadi barisan kokoh.

30 tahun ini, mereka tidak gemetar dan gentar!
Kupikir mereka kumpulan banci,
ketika menutup gerbang bantuan ke Palestina.
Tak malu pada tuhannya,
tetapi aku salah.

Ternyata selama ini giginya gemeretak geram,
melihat sejarah negerinya dibungkam dan dikhianati.

30 tahun ini,
kupikir mereka diam tertunduk, bungkam tak perduli.
Mereka mengkhianati sejarah megah tanah suci itu,
tetapi, negara seribu menara itu membuktikan
Aku salah,
ketika suara2 lantang itu membahana di langit mesir..

Andai negeriku bisa seperti mereka.

Baca Selengkapnya