Puisi Cahaya

Sudah lama tidak menulis puisi. Kalau seseorang yang suka puisi itu jarang membaca dan menuliskan puisi, maka ruh kata-katanya akan hilang atau sering manusia bumi katakan akan tumpul.

Jika engkau menyukai puisi, jangan berhenti dengan cuma menikmati atau membaca puisi. Tuliskan setiap puisimu, tentang napas yang berganti yang menemani hidupmu, tentang setubuh antara engkau dan Tuhan, juga tentang lintasan-lintasan waktu yang membuatmu mendekati kematian.

Adalah waktu. Dia yang terus bergerak, syahdan terinspirasi oleh seberapa cepat engkau berjalan bersama cahaya. Menurut seseorang, waktu akan terhenti ketika engkau bergerak dengan kecepatan sama seperti cahaya bergerak. Apakah memang demikian?

Baca Selengkapnya

Kuangen

Kadang rasa kangen bisa saja muncul padahal seseorang itu selalu ada di depan kita. Jadi, ketika seseorang itu berada jauh dari kita, wajar saja jika rasa kangen itu sering mendadak muncul.

Sudah beberapa hari ini aku kehabisan pulsa. Terlebih, mengirim sms ke luar negeri itu cukup mahal, sekitar Rp 600 per sms. Kalau menyapa via ym, seringnya aku atau dia terlalu sering sibuk dengan pekerjaan masing-masing.

Memang lebih enak pakai sms, kapan pun di mana pun selama sinyal masih ada bisa saling berkirim kabar dan menanyakan kabar masing-masing. Tetapi ya itu kendalanya, aku sekarang menjadi korban fakir pulsa. Dulu, aku malah tidak pernah berpikir akan kehabisan pulsa.

Huff. Dunia sedang berbalik di saat aku terserang demam mala-kuangen.

Dikhianati

Apa yang lebih menyakitkan daripada cintamu ditolak? Jawabannya adalah ketika cintamu dikhianati.

Ben, apa kamu pernah diselingkuhi?” Tanyanya pada suatu sore lewat pesan sms.

Iya, pernah,” jawabku datar.

Sakit banget ya, Ben. Rasanya sakit sekali. Kadang aku ingin maki dia yang mengkhianatiku. Ingin aku cincang-cincang tubuhnya, biar rasa sakit ini hilang. Kalau bisa, dia hidup lagi 1000 kali terus nanti aku cincang juga 1000 kali.” Bergetar suaranya di sela sayup air mata yang tumpah. Pembicaraan kami telah beralih ke telpon.

Saat itu aku diam. Aku tidak bisa memberikan komentar apa-apa. Lama rasanya waktu putar tentang pengkhianatan, namun aku merasa fragmen itu membeku, menyisakan lukisan tragis yang terus aku benci namun terus terkenang. Rasa sakit yang tidak mampu ditawar. Rasa sakit yang terus jeda, terekam oleh waktu.

Pengkhianatan tidak cuma oleh perselingkuhan yang terang-terangan. Terkadang juga terbit dari perselingkuhan diam-diam. Syahdan, bahwa engkau mungkin tidak selingkuh namun ketika hatimu terpaut kepada seseorang yang lain selain pasanganmu, walau sedetik, engkau menikmati, engkau telah mengkhianati.

Baca Selengkapnya

Tentang Pertemuan

Kita pernah duduk bersama tanpa meja bangku
Dalam percakapan ringan tanpa buku-buku yang kaku
Lambat laun setelah waktu itu, aku tahu kaulah masa depanku

Aku menemukan cahaya dalam matamu
Ia menyelinap kuat bagai api yang terus diramu
Sampai di ujung malam, mimpimu dan mimpiku bertemu

Akulah lelaki yang tersusun dari tulang belulang
Yang satu di antaranya menghilang
Sampai engkau membawanya pulang

Sumber: http://giewahyudi.com/tentang-pertemuan/

Baca Selengkapnya

Barisan Yang Tertipu

Jika mau jujur, aku adalah termasuk mereka golongan barisan yang tertipu. Entah menipu diri sendiri, atau tertipu oleh diri sendiri. Sekejap aku tersadar, namun dalam kejapan yang lain semua kembali terlupa. Karenanya kali ini aku catat, agar aku tidak kembali lupa.

Naas. Manusia sering sekali tertipu oleh napsu-napsu mereka. Oleh diri mereka sendiri.

Dia bertanya, “Apa kamu masih mengaji?

Dia bertanya, “Apa kamu masih ikut haloqah?

Dengan sejujur-jujur bahasa aku menjawab, “Tidak. Bahkan sudah lama aku tidak membuka mushaf suci itu.

Pantas,” jawabannya. Kontan. Spontan.

Baca Selengkapnya