Menakar Rindu

Menakar rindu, namun tak pernah kunjung usai. Terus menderai, tak jua dia mereda.

Aku rindu. Apa engkau tahu?

Dari semalam mataku tak mampu juga tertutup. Kepalaku serasa ingin pecah. Namamu menderai memenuhi selaksa selaput korteksku. Aku hapalkan namamu agar aku reda, agar terlelap aku lantas memimpikan kamu. Namun tidur semalam tak pernah ingin bersahabat. Dia menjadi penentangku setentang-tentangnya: dia ingin aku alpa soal kamu.

Aku berontak. Aku luluhkan seluruh saraf yang berjejal di sekujur kulit ototku. Aku memaku napas-napas berlahan, dari perut dia aku masukkan lantas melalui mulut aku buang. Mataku terpejam, tegak punggung dengan posisi bersila. Namamu, aku sebut pelan-pelan di atas bayang. Namamu yang tak kunjung usai, tak pernah mati, nan abadi.

Aku rindu. Apa engkau tahu?

Baca Selengkapnya

Marxisme Untuk Pemula

Gara-gara membeli buku Marxisme Untuk Pemula waktu acara Peluncuran buku Lelaki di Gerbang Kampus yang diadakan oleh Gemasastrin, aku jadi penasaran dengan arus pemikiran kiri tersebut.

Kemarin, aku mengobok-obok website scribd.com untuk mencari buku yang bernama Das Capital volume I, dan ternyata bernama Das Kapital pada versi aslinya yang berbahasa Jerman. Buku itu diterbitkan oleh Karl Mark pada tahun 1867. Alih-alih sukses di Eropa, pembaca buku tersebut malah lebih berkembang di dunia Timur seperti Uni Soviet, bahkan Cina.

Secara ramalan, Marxisme TELAH GAGAL. Ramalan yang mengatakan bahwa kapitalis akan runtuh dan pada suatu saat akan berdirinya sosialisme dengan munculnya kediktatoran proletariat.

Baca Selengkapnya

Menjadi Apapun, Siapapun

Aku suka bergonta-ganti peran. Menjadi apapun, siapapun. Namun sayangnya, aku terjebak dengan karakter-karakter yang aku perankan. Aku menjadi reduksi, distorsi, aku kehilangan Aku yang sebenarnya. Aku mencari, namun dia telah lari.

Aku sering menyebut AKU yang hilang itu dengan “dia” atau “pria” atau “lelaki itu”. Aku kehilangan dia, seorang lelaki yang adalah pria (permainan kata yang memusingkan).

Pertama lahir, aku dididik dalam peran manja. Karakter khas seorang anak terakhir, lelaki satu-satunya. Apapun keinginanku selalu ada. Aku tidak diijinkan keluar rumah terlalu larut, bahkan diwajibkan tidur siang. Aku tidak boleh memegang pisau, tidak boleh mencuci, tidak boleh memotong, dan semuanya. Segala hal serba tidak boleh.

Baca Selengkapnya

Duhai Engkau Yang Begitu Lembut

Barusan tanpa tersadar aku menitikkan air mata. Aku melihat dia “Bidadari ketiga” di balik dunia maya, dan betapa aku tersadar betapa lembut hatinya, dan betapa kuat ghirahnya akan kemurnian mencapai Islam.

Detik itu, hatiku berdoa: “Ya Allah, catatlah dalam takdirku bahwa dia benar-benar akan menjadi bidadariku.

Duhai engkau yang begitu lembut. Yang tak pernah ingin menyakiti hati-hati manusia yang lain. Duhai engkau yang selalu bersyukur atas apa yang Allah turunkan kepadamu, dan yang bersabar atas apa yang Allah ujikan kepadamu. Duhai engkau yang selalu ingin berada di dalam jalan yang lurus.

Baca Selengkapnya

Baru Beli Buku

Sudah beberapa hari ini kakakku yang nomor 2 minta diantarin ke toko buku. Awalnya aku ogah, namun setelah diiming-iming bakal disubsidi Rp 100.000,- maka aku pun semangat. Hehehe…

Kemarin aku ke toko buku, tepatnya Rumah Buku di samping Cafee Niagara. Mungkin karena mati lampu jadi suasananya panas, mereka cuma mengandalkan genset untuk menghidupkan lampu namun AC na di matikan.

Udah itu, karena kami ke sana sekitar jam 6, kondisi toko juga mau tutup. Aku sedih, biasanya kami bisa meminta disampulkan buku secara gratis, namun karena pintu sudah mau tutup ketika aku membayar, yaudah semua buku kakakku dan bukuku tidak disampulkan. Padahal total belanja kami berdua cukup banyak lho, sekitar Rp 400.000,- lebih.

Baca Selengkapnya