Menari Hujan

Aku ingin menari
Lantas hujan turun
Tari semakin menjadi
Gelombang demi gelombang
Yang tercipta cuma indah
Hujan datang, basah
Hingga semua manusia mati

– Muhammad Baiquni –

Aku selalu bertanya, jika nanti aku mati, aku akan ke mana?

Sebagian orang percaya dengan kehidupan setelah mati. Begitu pun aku. Namun, sebagian yang lain juga percaya, tidak ada kehidupan setelah kematian. Proses berpikir manusia ada di bagian otak, kematian — dalam ilmu medis — berarti berhentinya kerja otak.

Hujan memberiku pelajaran. Ada sesuatu yang dinamakan siklus. Bumi memiliki langit, dan hidup akan semakin terbuka oleh kematian. Apakah langit adalah akhir? Jauh di atas biru yang sering kita saksikan, ada jutaan hitam dan milyaran bintang. Dan aku percaya, kematian bukan cuma jasad yang akan luruh di makan zaman. Ada dimensi di mana manusia belum mampu menjangkaunya, seperti sebuah pertanyaan di benakku: “Setelah langit, ada apa?

Kenapa sungai tidak pernah henti? Dan laut mengapa terus berombak. Atau tentang bumi yang berjalan.

Hujan, datang dengan tarian. Kadang, petir menyalak nyaring seperti benderang yang ditabuh, dan angin kencang mendesau, merintih, sehaluan dengan irama tarian. Kadang aku membayang, hujan adalah salah satu episode saat Tuhan sedang menari.

Kemana hujan pergi, setelah luruh turun. Apakah cuma terhenti di kubang-kubang? Atau masuk di antara sela, lalu ke laut dia akan bermuara. Atau, mungkin saja, memang turun untuk menghanyutkan seluruh umat manusia.

Bukanlah karena aku membenci manusia, maka aku ingin mereka semua lenyap. Hilang. Pupus. Ada menjadi tiada. Sungguh bukan!

Aku benci. Saat aku lihat manusia, mereka berjalan tanpa jiwa. Mereka semua mengira, teramat pasti, kematian cuma mimpi. Congkaknya mereka, juga percaya bahwa, nanti pada suatu saat, ketika otakmu mati untuk bekerja, tidak ada dunia lain yang engkau jalani. Engkau cuma mati. Menjadi bangkai lantas sudah.

Eloklah mereka. Manusia. Aku suka. Mereka yang selalu percaya bahwa mati itu pasti akan tiba, namun mereka teramat sangat mengerti bahwa dunia nanti setelah fana ini akhir adalah tujuan abadi. Di sana, kelak, apa yang engkau lagakkan di dunia akan menjadi tanggunganmu. Lantas, mereka pun paham. Mereka pun menyiapkan sebuah kematian yang sempurna. Aku menyebutkan: sesuatu yang indah.

Hujan masih menari saat aku menuliskan ini. Turun, lebat sekali. Namun aku yakin, suatu saat, setelah habis maka dia pun akan henti. Demikian pula manusia. Mereka seperti hujan, menari, namun ada saat mereka semua juga akan mati.

Incoming search terms:

  • …ini terlalu rumit buat saya. >.<"

  • Mantap ben :mrgreen: jadi inspirasi buat ane ben, dari dolo ane ngiri sama gaya bahasa dan kosakata tulisan ente nendang banget ke otak ane, suer dah ane paham inti cerita tulisan.

    mengandung banyak pesan kepada manusia terhadap ketidaktahuan, keterbatasan yang dimiliki manusia, tentang kematian de el el, tak mungkin ku ulas berpanjang lebar laksana si juragan aksara. ilmuku mengolah kata masih sangat terbatas.

    ====================================================================
    Aku benci. Saat aku lihat manusia, mereka berjalan tanpa jiwa. Mereka semua mengira, teramat pasti, kematian cuma mimpi. Congkaknya mereka, juga percaya bahwa, nanti pada suatu saat, ketika otakmu mati untuk bekerja, tidak ada dunia lain yang engkau jalani. Engkau cuma mati. Menjadi bangkai lantas sudah.

    • abanxc, seperti tulisan beni dengan judul “Epigon: Saling Menginspirasi“, kita memang hidup dalam dunia penuh inspirasi. Abang yang terinspirasi oleh Beni dan Beni oleh yang lain, dan yang lain oleh abang. Siklus, demikian adanya.

  • nice post… saya jadi ikut penasaran… πŸ™‚ penasaran tentang kehidupan dan kehidupan setelah mati… πŸ™‚

    • jangan penasaran bang, lebih baik dipersiapkan. Karena jalan kematian adalah jalan tanpa jejak menuju pulang.

  • Zakia Vonna

    filosofis sekali Bang Ben. tulisannya sulit dicerna tapi punya banyak makna πŸ™‚

    • una kok tahu ini tulisan banyak maknanya jika tulisan ini ternyata sulit dicerna πŸ™‚