Perasaan Yang Aneh

Aku mendaftarkan diri untuk berlangganan tulisan-tulisannya. Tentang hidupnya, semangatnya, dan apa-apa yang hendak digapainya. Aku dan dia sangat berbeda. Aku adalah sederhana. Aku mungkin bisa dibilang tidak punya mimpi. Aku cuma ingin hidup sebagai manusia apa adanya.

Sikap hidupku ini aku tidak tahu mengapa? Tetapi aku rasa mungkin karena aku menikmati kisah-kisah tentang Budha.

Beberapa hari ini aku tidak buka internet. Terlalu sibuk jalan ke sana-sini membuat aku terlalu capek bahkan untuk sekedar menghidupkan laptop dan browsing mencari apa-apa yang menarik untuk dicari. Jadi, tadi begitu membuka email, aku menemukan notifikasi sebuah tulisan.

Perasaan yang aneh. Jantungku berdebar kencang. Kakiku semerta menjadi dingin. Aku gemetaran.

Baca Selengkapnya

Catatan Kaki

Aku masih memantau. Ternyata dia masih melihat blogku saban hari. Hampir setiap hari.

Beberapa waktu yang lalu, sebelum keputusan besar aku ambil, aku berkonsultasi dengan No. 34 tentang masalahku itu, apa aku harus memblock dia agar tidak membaca catatan-catatan kakiku ini lagi. Bukankah dia bertekad hendak lupa dengan eksistensiku.

Kata No. 34, TIDAK USAH. Keputusanku meremove facebooknya sudah benar karena terkadang kita tidak bisa mengendalikan aliran pesan, status, dan komentar yang tercetak di beranda kita. Namun kalau soal mengunjungi blog ini, itu adalah keputusan mandirinya.

Bagiku, benar juga apa yang telah diucapkan oleh No. 34, bahwa mungkin dia sesekali ingin melihat beberapa catatan kakiku. Dan ketika dia membuka halaman demi halaman ini setiap hari, jujur, aku senang. Tetapi, bagaimana dengan dia?

Baca Selengkapnya

Ruang Hati

Kemarin, aku memiliki sebuah ruang yang kunamakan ruang hati. Di tempat itu aku sering berteduh, bercerita, dan sesekali curhat tentang aku dan kehidupanku. Namun, ruang itu sekarang ketika aku melihat sudah disegel. Sebuah papan bertuliskan: “SEDANG DIRENOVASI” ditulis besar-besar menghalangi pintu masuk.

Aku bingung. Gundah. Tak mengerti.

Ruang itu terlalu sering aku gunakan, ketika hujan sepi datang di sekitar pekarangan jiwaku, ruang itu selalu aku masuki. Hujan sepi terlalu sering datang, dan aku dulu terlalu sering kehujanan. Cuma ruang hati itu tempat aku berteduh, sangat spesial, karena selain berteduh dari sepi, di sana aku juga menemukan kehangatan. Di sana cinta bersemayam, sering sekali memberikanku selimut untuk menghalau semua berkas hujan sepi yang membasahi diriku.

Aku kangen cinta. Aku sayang cinta. Aku mencintai cinta karena cinta.

Baca Selengkapnya

Kisah Cinta Seorang Dinda

Suami saya adalah seorang jurnalis, saya mencintai sifatnya yang spontan dan saya menyukai perasaan hangat yang muncul di hati saya ketika bersandar di bahunya.

Tiga tahun dalam masa perkenalan dan dua tahun dalam masa pernikahan, saya harus akui, bahwa saya mulai merasa letih, lelah, alasan-alasan saya mencintainya dulu telah berubah menjadi sesuatu yang menjemukan.

Saya seorang wanita yang sentimental dan benar-benar sensitif serta berperasaan halus. Saya merindui saat-saat romantis seperti seorang anak kecil yang sentiasa mengharapkan belaian ayah dan ibunya. Tetapi, semua itu tidak pernah saya peroleh. Suami saya jauh berbeda dari yang saya harapkan.

Rasa sensitifnya kurang. Dan ketidakmampuannya dalam menciptakan suasana yang romantis dalam perkawinan kami telah mematahkan semua harapan saya terhadap cinta yang ideal.

Suatu hari, saya beranikan diri untuk mengatakan keputusan saya kepadanya, bahwa saya menginginkan penceraian.

Baca Selengkapnya

Terkapar Rindu

Lelaki terkapar. Memandang langit. Berusaha melukis rindu.

Badai ini tidak datang untuk pertama kali. Mengapa tidak mengeja masa lalu, ketika badai yang sama terbit dan bagaimana engkau mengeja langkah. Meminta jejakmu tetap tegak dengan kaki kokoh menopang segenap gundah.

Semalam, gundah semakin gulana. Berpuluh-puluh lembar mushaf terbuka, namun gundah belum juga hilang. Lelaki seperti hendak gila.

Mungkin beginilah Majnun, ketika digilakan oleh Layla. Atau beginilah Zulaikha yang begitu rindu kepada Yusuf pujaannya.

Baca Selengkapnya