Keputusan Besar

Adakah yang lebih indah daripada engkau mencintai seseorang dan orang tersebut juga mencintai dirimu? Sungguh aku sedang mencintainya dan aku pun merasa dia sedang mencintai diriku. Dan dia serius dengan cintanya ketika gamangnya dia hendak bertanya kepada siapa tentang aku. Aku seutuhnya. Aku sejujurnya.

Tetapi cinta juga harus dibarengi dengan konsekuensi. Cinta harus pula memikul tanggung jawab. Kedua kami belum lah lagi mampu untuk itu.

Pertama sekali sebuah email tentang rasa masuk ke dalam inbox-ku, aku seperti melayang ke surga. Aku menangis. Aku tidak mampu mengukir kata untuk menjawabnya. Aku cuma bisa kata: “aku juga.

Kilatan mimpi-mimpi terbang menembus awan. Orang-orang bumi sering mengatakan: itu kebahagiaan. Aku merasa sangat bahagia dengan hari itu. Aku merasa mimpi-mimpi yang aku kalkulasikan akan segera menjadi nyata.

Bagiku, mencintai dan dicintai bukanlah sebuah beban. Bukan sesuatu yang harus dibenci dan diasingkan. Adalah bagaimana kita bisa mengontrolnya.

Baca Selengkapnya

Cuma Nama

Ah malam, mengapa membuat jantungku berdetak dengan sedemikian kencang.

Baiquni kenapa?

Angin malam menusuk dadaku. Memompa jantungku dengan tasbih degub yang tiada berjalan beriringan.

Apa yang telah kau sentuh?

Cuma 2 botol Tebs dan sepotong burger yang over sambal.

Lantas mengapa angin dan apa yang kau sentuh meminta jantungmu berdetak lebih kencang?

Apa mungkin karena rindu? Mungkin benar ini karena rindu. Mungkin benar ini karena rindu. Sungguh benar ini karena rindu.

Baca Selengkapnya

Berhenti Membaca

Aku TIDAK memiliki tekad untuk BERHENTI membaca, namun membaca membuat aku semakin sesak. Jantungku selalu berdebar lebih kencang saat membaca, suatu fase yang aku sendiri tidak paham.

Buku-buku semakin aneh. Aku bingung dengan laku yang diceritakan pada setiap buku. Aku semakin tak paham, tak juga mampu tuk dimengerti. Kadang kisah dalam buku adalah kisah-kisah yang indah, namun mengapa sekarang aku membaca kisah yang pilu. Aku belum sanggup untuk menanggung semua derita, derita dari setiap buku atau aku yang menderita karena buku.

Aku cuma seorang pembaca. Membaca apapun yang terserak.

Hati-hati manusia itu seperti buku. Agak sulit membaca banyak buku dalam waktu beriringan. Sebelum satu buku khatam, engkau membuka lembar lain dari buku yang berbeda. Ejaan perasaan, tekad, kesabaran, cinta, usaha, kegigihan, dan keterpurukan. Semua aksara telah dengan jelas diguratkan pada lembaran-lembaran kisah, namun pada aksara mana kita menulis.

Baca Selengkapnya

Benci

Entah mengapa, aku tidak suka jika seseorang menyimpan energi kebencian di dalam dirinya. Sama seperti tidak sukanya aku kepada dia yang telah membenci diriku. Dan aku pun tidak suka kepada diriku sendiri yang membenci seseorang yang memang patut untuk dibenci.

Dan seseorang yang sedang aku cintai ternyata sedang memendam sebuah kebencian, kepada seseorang yang dia ceritakan kepadaku barang tempo hari.

Sungguh aku ingin katakan, “tolong jangan pernah membenci

Terlebih, terhadap kebencian-kebencian yang tidak beralasan. Dan jangan mencari-cari alasan untuk membenci. Bencilah sesuatu yang memang seharusnya dibenci, seperti engkau membenci kemungkaran sebagaimana engkau dibenci dimasukkan ke dalam neraka jahanam.

Kadang benci timbul akibat efek rindu. Semakin benci engkau, sesungguhnya semakin rindu pula dirimu. Engkau yang rindu untuk membencinya atau engkau benci dengan kerinduan yang engkau ingkarkan itu.

Baca Selengkapnya