Jangan Berhenti Untuk Tersenyum

Tiba-tiba saja aku teringat seseorang. Dan aku mengambil sebuah pelajaran bermakna, bahwa apa yang kita tangiskan kemarin mungkin akan berbuah senyuman hari ini.

Dulu sekali, aku berharap dia akan mengisi hidupku. Dia adalah yang mengajari aku bangun di sepertiga malamku. Dan sekarang dia sudah menikah. Malah sudah hamil. Entah mengapa, aku pun berbahagia. Sangat bahagia bahwa orang yang dulu pernah aku cintai telah menemukan kebahagiannya.

Padahal, dulu ketika kami bersepakat untuk berhenti memberitakan malam. Ketika kami bersepakat, biarlah malam kami kejar, namun tak usah kami ceritakan. Biarlah sebuah sujud hadir karena bukan akibat bunyi dering yang membangunkan. Aku menangis ketika itu.

Bahkan aku pernah berharap. Kelak jika punggungku tegak, dia yang akan aku kabari untuk itu. Namun, sebelum punggungku tegak, dia telah menyelesaikan satu takdir terbaiknya.

Baca Selengkapnya

Mencintai Bulan

Matahari sedang mencintai bulan. Siapa bulan? Dia yang hadir ketika malam datang. Kehadiran yang hakiki ketika matahari ada di bawah jejak-jejak kaki.

Matahari tidak pernah punya maksud. Entah bulan hadir ketika malam tiba, atau menggugat matahari ketika gerhana-gerhana muncul mengkudeta.

Matahari tidak punya amarah, walau sejuta sinar hadir dalam dirinya. Walau merah membara setiap makhluk ketika berada di dekatnya. Matahari tidak punya amarah.

Bulan adalah hitam. Cuma terlihat ketika matahari membagi cahaya. Matahari tidak pernah merasa kehilangan sinar, atau juga cemburu ketika semua manusia mencintai bulan. Matahari sadar, dia tidak memiliki apapun, tidak juga keindahan, hanya sinar yang terang benderang.

Baca Selengkapnya

Serba Tiba-tiba

Suatu ketika iblis bertanya, “kau yakin?

Aku mengkerutkan keningku. Entah mengapa aku merasa ada sesuatu yang aneh dari pertanyaan iblis. “Yakin tentang apa?” tanyaku.

Ya, tentang dia. Siapa lagi coba?” iblis memberikan penekanan.

Ada apa tentang dia?” aku tak mengerti.

Dia sebenarnya tidak mencintai dirimu. Cinta sejatinya ada di masa lalu. Dia cuma takut engkau sakit setelah apa yang telah dilakukannya,” jelas iblis.

Dia tidak melakukan apa-apa padaku. Apa yang harus ditakutkan?” aku mulai tak mengerti.

Dia cuma merasa bertanggung jawab. Jadi kamu ga usah ge-er. Cintanya kepadamu telah mati!” iblis mulai menghasutku.

Aku terdiam. Benarkah?

Baca Selengkapnya

Episode Pertanyaan

Apakah aku sedemikian buruknya?

Episode-episode pertanyaan berjejal di tempurung otakku. Memintaku menjawab semua tanya yang muncul, entah itu dari logika atau dari rasa.

Kadang aku merasa begitu amat buruk, terlebih ketika seseorang mulai berjalan membelakangi punggungku ke arah yang berbeda. Ketika seseorang yang selalu tersenyum mulai memudarkan senyumnya kepadaku. Atau, ketika sentuhan yang langsung menyentuh dadaku mulai ditarik pelan-pelan. Aku bertanya: apakah aku sedemikian buruknya?

Hingga berapa lama waktu untuk mengingat tersedia?

Pertanyaan yang lain tiba. Datang, sejengkal demi sejengkal. Menunggu waktu untuk sebuah jawaban. Hingga kapan waktu untuk mengingat tersedia? Aku tidak tahu berapa lama total waktuku tersedia di dunia, jadi aku akan bertanya hingga kapan episode mengingat itu memperkosa hidupku, menahan semua ingatan lain yang hendak muncul.

Baca Selengkapnya

Jadilah Bumi

Ada berapa ribu gempa yang terjadi setiap hari di bumi? Badai yang memporak-porandakan. Laut yang menelan. Namun bumi ini tidak pernah sedetik pun berhenti berputar.

Aku seharusnya menjadi bumi. Tidak terhenti ketika begitu banyak masalah menghantam bertubi. Terlebih, jika itu soal cinta.

Kesepakatan. Aku belajar banyak dari kawanku bahwa kesepakatan tidak berarti apapun!

Si nomor 34 yang telah bersepakat dengan jiwa untuk melupakan sebelas huruf toh tidak juga melupakannya. Dia masih saja mengigil jika suara sebelas huruf bergema. Lima tahun bukan waktu yang singkat, jika terhitung dari umur-umur manusia.

Baca Selengkapnya