Cintaku Padamu Tak Akan Berubah

Beberapa hari ini aku suka mendendangkan lagu ini dengan syiar khas aku sendiri. Aku tipe orang yang sulit sekali menghapal, jadi kalau ada lagu, aku cuma tahu nadanya bagaimana, namun liriknya aku ubah semauku.

Hahaha, alhamdulillah belum ada yang protes selama ini. Paling yang ada cuma beberapa orang cekikikan mendengarkan kalau aku bernyanyi.

Cintaku padamu, tak akan berubah
walau diterang waktu <– harusnya ditelan waktu
dadada…

Dan karena sedang ketagihan kebab, lirik lagu itu aku ubah tanpa pemberitahuan sebelumnya kepada sang pencipta lagu. Hasil gubahanku yang sangat luar biasa dan jenius itu begini:

Kebabku padamu… tak akan berubah
walau berganti resep
rasanya akan tetap sama

Tetap dinyanyikan dengan nada yang sama. Hohoho…

Baca Selengkapnya

Racun dan Madu

Jika saya memegang racun dan mengatakan itu madu, apakah substansi racun akan berubah menjadi madu?

Dengan tegas kita akan mengatakan TIDAK! Madu adalah madu. Racun adalah racun.

Tetapi tidak demikian. Banyak dari kita akan berikrar, itu adalah madu walau substansi sejatinya adalah racun. Demikianlah hidup ini yang terkadang serba tidak menentu. Dari suatu madu terkandung racun dan dari apa yang kita kira racun sesungguhnya adalah madu.

Racun-racun yang mulai menyebar sekarang ini rasanya lebih manis dari madu. Dan orang-orang yang berusaha membela keaslian madu dianggap sebagai mereka yang menebarkan racun.

Baca Selengkapnya

Catatan Kaki

Aku masih memantau. Ternyata dia masih melihat blogku saban hari. Hampir setiap hari.

Beberapa waktu yang lalu, sebelum keputusan besar aku ambil, aku berkonsultasi dengan No. 34 tentang masalahku itu, apa aku harus memblock dia agar tidak membaca catatan-catatan kakiku ini lagi. Bukankah dia bertekad hendak lupa dengan eksistensiku.

Kata No. 34, TIDAK USAH. Keputusanku meremove facebooknya sudah benar karena terkadang kita tidak bisa mengendalikan aliran pesan, status, dan komentar yang tercetak di beranda kita. Namun kalau soal mengunjungi blog ini, itu adalah keputusan mandirinya.

Bagiku, benar juga apa yang telah diucapkan oleh No. 34, bahwa mungkin dia sesekali ingin melihat beberapa catatan kakiku. Dan ketika dia membuka halaman demi halaman ini setiap hari, jujur, aku senang. Tetapi, bagaimana dengan dia?

Baca Selengkapnya

Bahagia, Benci, Iblis

Awalnya aku bahagia, namun ternyata berita langit berkata lain. Bahagia aku undur.

Bahagia berubah menjadi geram. Ya, sangat geram! Aku jadi benci. Benci sekali.

Iblis-iblis dalam hatiku bilang: makhluk yang aku benci itu adalah makhluk yang egois! Iblis tidak salah, aku sepakat dengannya. Makhluk itu memang sangat egois.

Mengapa egois? Karena dia cuma memikirkan dirinya sendiri. Dan aku selalu diajarkan oleh lelaki tua agar selalu memperhatikan orang lain. Aku makan hati!

Baca Selengkapnya

Bab Satu (I am Dummies)

Meleset. Tidak seperti yang aku pikirkan. Ternyata aku lebih dungu dari yang aku kira.

Aku tahu aku ini sebenarnya bodoh. Jelas, hasil tes IQ juga setelah aku lakukan secara online juga berada di bawah rata-rata. Nilai TOEFL-ku juga sangat buruk sekali, di bawah anak TK yang bisa berbicara bahasa Inggris. Pokoknya aku ini bisa dikatakan dummies sekalilah.

Bisa kuliah bahkan hingga semester 13 saja sudah membuat aku bangga. Kenapa? Karena aku bisa bertahan untuk tidak didepak secepat mungkin dari universitas ini. Bahkan bisa kuliah saja sudah membuat aku sangat bangga! Aku kira aku tidak akan pernah mengecap pendidikan tinggi ini jika mengingat betapa tumpulnya otak kiriku ini.

Tetapi ini tidak seperti yang aku duga. Aku lebih bodoh dari yang aku kira. Ini sudah kelewatan!

Baca Selengkapnya