Menari Hujan

Aku ingin menari
Lantas hujan turun
Tari semakin menjadi
Gelombang demi gelombang
Yang tercipta cuma indah
Hujan datang, basah
Hingga semua manusia mati

– Muhammad Baiquni –

Aku selalu bertanya, jika nanti aku mati, aku akan ke mana?

Sebagian orang percaya dengan kehidupan setelah mati. Begitu pun aku. Namun, sebagian yang lain juga percaya, tidak ada kehidupan setelah kematian. Proses berpikir manusia ada di bagian otak, kematian — dalam ilmu medis — berarti berhentinya kerja otak.

Hujan memberiku pelajaran. Ada sesuatu yang dinamakan siklus. Bumi memiliki langit, dan hidup akan semakin terbuka oleh kematian. Apakah langit adalah akhir? Jauh di atas biru yang sering kita saksikan, ada jutaan hitam dan milyaran bintang. Dan aku percaya, kematian bukan cuma jasad yang akan luruh di makan zaman. Ada dimensi di mana manusia belum mampu menjangkaunya, seperti sebuah pertanyaan di benakku: “Setelah langit, ada apa?

Baca Selengkapnya

Perempuan dan Jilbab

Pertama sekali dalam hidupku, aku mendengar seorang perempuan menangis karena sebagian rambutnya terlihat. Padahal, semua itu terjadi di luar kesengajaannya. Hal kontras yang lain terjadi, perempuan, rela melepaskan jilbabnya demi karir, ambisi, atau cuma karena ingin dibilang cantik. Aku miris.

Awalnya begini. Tanpa sengaja, aku melihat sebuah foto yang aneh dari album seorang temanku. Awalnya aku tidak “ngeh”, aku merasa, oh mungkin saja itu foto adiknya. Tetapi, setelah aku perhatikan lebih baik, bukan, itu bukan foto adiknya. Itu foto seorang temanku. Melihat itu, aku pun segera menghubunginya, sekedar bertanya, “apa kamu sekarang sudah melepaskan jilbab? Ada fotomu tanpa jilbab di facebook.”

Baru tengah malam, aku mendapatkan telepon. Dia bertanya, apa aku tidak salah lihat?

Aku katakan, semoga saja salah. Jika memang benar, foto itu ada di album “mobile uploads”.

Beberapa saat kemudian, dia menangis, setelah mengetahui ada kebenaran dalam pertanyaanku. Sebuah fotonya tanpa jilbab hadir di sana, bersama beberapa foto kue pancake.

Aku tahu, itu di luar kesengajaannya. Dia tidak sengaja mengupload foto itu di antara beberapa foto kue yang disebarkannya lewat facebook. Aku membayangkan bola matanya yang mulai nanar, memerah bercampur air mata. Teringat jelas dalam telingaku, bagaimana sesegukan itu hadir lantas tumpah menjadi tangisan. Kekalutan, kebingungan, gundah, segalanya hadir. Semuanya itu penuh dengan penyesalan.

Baca Selengkapnya

Siapa Dia?

Aku bertanya kepada langit, siapa dia?

Hari itu, seperti yang sudah-sudah, langit masih sama. Langit memendam semua cerita. Menyimpan. Tak bersuara.

Kadang aku merasa tidak butuh langit, selain hanya sebagai tempat aku berteduh. Aku tidak berteduh dari hujan kawan, tapi aku berteduh segenap ataupun seganjil radiasi yang dihasilkan dari luar bumi. Kita, teramat kecil dan rapuh.

Hari itu, seperti yang sudah-sudah, aku untuk kesekian kali bertanya: siapa dia?

Tidak jarang aku bahkan berteriak. Membahana. Atau kadang aku memelas bercucur air mata, demi satu tanya yang belum juga usai dan aku tidak menemukan jawabannya: SIAPA DIA?

Baca Selengkapnya

Memeluk Ayah 2

Kadang aku merasa menjadi lelaki itu tidak menyenangkan. Seorang lelaki tidak dengan bebas memeluk lelaki lain. Tidak seperti wanita, mereka bebas dengan ragam ekspresifnya. Seorang perempuan, memeluk perempuan yang lain, orang tidak akan salah duga. Beda dengan lelaki, mungkin banyak yang akan mencibir, atau bertanya: mungkin lelaki yang sedang berpelukan itu bukanlah seorang lelaki dengan orientasi seksual yang berbeda.

Aku iri dengan wanita. Mereka hidup dalam dunia penuh cinta. Orang tidak akan risih, dengan semua air mata yang tumpah dari mata seorang wanita. Beda dengan lelaki, jika seorang lelaki menangis, banyak orang mengira dia banci.

Ada seorang lelaki yang selalu ingin aku peluk. Tetapi, semakin aku dewasa, aku semakin malu untuk memeluknya. Seperti ada rasa janggal, seorang lelaki memeluk lelaki lainnya. Kadang, aku cuma bisa membayangkan, saat-saat dulu, saat aku dipeluk dari balik punggungnya.

Baca Selengkapnya

Berbagi Hati

Hatiku untukmu seperti hatimu yang kau berikan untukku. Cinta menembus segala batas, bahkan melewati sebelas dimensi. Sebuah pertemanan aku coba ukir, agar setiap kita bisa menyebutnya: ABADI.

berbagi hatiSuatu hari aku berkata, “hatiku sedang retak.

Dia gaduh. Bertanya. Memintaku buka suara. Aku heran, kenapa malah dia yang menangis. Dia yang membuang semesta air mata dari kedua bola matanya yang indah. Memintaku untuk bersuara, ada kisah apa di balik hati yang menjadi bongkah.

Aku diam. Bungkam. Memilih untuk menyimpan.

Dia masih menangis. Aku tidak kuat. Terutama saat bilang benci. Dia benci saat aku terluka, mungkin lebih besar dari perasaanku yang senang saat melihatnya bahagia. Aku pun tak kuat. Melihatnya menangis aku luluh. Aku masih menyimpan, namun aku katakan kepadanya, “aku butuh hati.

Untuk apa?” Tanyanya heran.

Agar hatiku telah rongsok bisa aku buang,” jawabku.

Lalu, aku bagaimana?” Dia heran.

Kita berbagi hati.” Cuma itu yang bisa aku jawab.

Baca Selengkapnya