Air Mata

Untuk siapa air mata itu hadir?
Mengapa dia mampu mengalir?
Apakah oleh hati yang sedang terluka atau karena bahagia?

air mata
sumber: http://sebuah-catatanku.blogspot.com
Hampir setiap orang merasa bahwa tangisan mampu membalikkan keadaan. Mungkin itu alasan mengapa setiap kesedihan memperanakkan air mata. Aku sendiri tidak mengerti, mengapa air mata harus tumpah, karena sesungguhnya yang sakit adalah hati.

Malam itu aku mendengarkan lagi isakan dari air mata yang menetes tumpah. Awalnya pelan, lantas seperti deru ombak dia mengeras, sebelum kemudian menjadi badai yang memilukan.

Aku katakan dengan sungguh! Dengan seluruh jiwa dan ragaku! Berhentilah menangis. Tolong berhenti…

Suaraku saat itu cuma mampu tertelan oleh tangis yang telah membadai. Terombang-ambing oleh hati yang mengkeruh. Aku tidak mengerti, tidak menyimpan duga, atas apa air mata itu sampai hadir dan sekarang menjadi gulma. Yah, terkadang air mata pun mampu menjadi gulma. Tumbuh seketika dan menyebar menutupi seluruhnya.

Tangisan itu mulai membangunkan orang-orang. Membangunkan mereka, terutama yang terikat oleh hati.

Baca Selengkapnya

Memelihara Luka

Harusnya aku menangis. Paling tidak ikut bersedih dan saling berbagi air mata. Tetapi nyatanya aku malah tertawa.

Memelihara Luka
sumber: ikoelike.blogspot.com
Ini bukan ceritaku yang aku tertawakan, namun tentang seorang perempuan yang sudah aku anggap sebagai adikku sendiri. Antara kasihan dengan penderitaannya atau malah tertawa karena kebodohannya. Ironi memang, karena sesungguhnya kebodohan adalah sesuatu yang sewajarnya ditangisi, namun jika tetap dipelihara, lebih baik kita ikut tertawa saja.

Aku tidak tahu berapa tahun dia masih menyimpan cinta. Tentang laki-laki yang masih diingatnya padahal dia sudah berkali berganti lelaki dan sang pria pun terhitung sudah 5 (lima) kali berganti wanita. Dan entah mengapa, aku menganggap perempuan yang aku anggap adikku itu sebangsa tolol. Sang lelaki beralasan tidak akan berpacaran 2 (dua) kali dengan wanita yang sama. Nah! Di sini aku melihat ketololannya. Jelas, itu sebangsa alasan yang diucapkan para pria yang sibuk mencari wanita, pria yang sudah puas cukup sekali dan ingin mencoba yang lainnya. Sebangsa, lelaki yang adikku cintai itu adalah seorang playboy. Itulah duga dan anggapanku sekarang.

Baca Selengkapnya

Di Ketinggian 60.000 Kaki

Direncanakan cuma aku sendiri yang akan terbang kembali ke Banda Aceh hari ini. Ayah dan Mamak tertahan. Tiket sudah di-refund, walau cuma 10% (sepuluh persen). Mamak harus masuk rumah sakit, tumor di kakinya semakin membesar. Mamak harus tinggal di Rumah Sakit Islam Cempaka Putih mulai Selasa ini, karena Rabu nanti, seorang professor onkologi akan melakukan tindakan.

Ternyata tidak. Aku tidak pulang sendiri. Akhirnya aku pulang dengan Anda (kakak ke duaku) yang memang menjadwalkan pulang pada tanggal 24 September ini pada jam yang sama denganku juga. Awalnya, berarti kami akan pulang berempat ke negeri para raja, namun yang akhirnya tersisa cuma dua.

Pesawat mulai bergetar hebat. Aku merapal doa yang aku bisa. Memohon kepada Tuhan agar getaran yang hebat ini bukan berarti apa-apa. Aku memang selalu ketakutan jika naik pesawat terbang. Terlebih, saat pemberitaan berbagai kecelakaan pesawat di negeriku ini, semakin membuat aku merasa was-was saat lepas landas. Dan akhirnya, kapal terbang ini berjalan di antara udara. Menembus awan. Melewati lautan. Menuju negeri seberang.

Pramugari itu mulai berdiri di jalur yang memisahkan dua kursi. Mereka, dalam diam mendemonstrasikan bagaimana menyelamatkan diri jika kelak pesawat yang sedang terbang ini akan luruh. Walau aku tahu, banyak penumpang yang bahkan sama sekali tidak peduli. Beberapa orang pria aku lihat terlihat begitu serius. Memandangi para pramugari itu. Entah apa yang berkecamuk di dalam pikiran mereka. Apakah soal keselamatan, atau, entahlah.

Aku sendiri punya pikiran lain. Jauh di bawah sana, di pulau Jawa. Aku memikirkan Mamak.

Baca Selengkapnya

Tak Sama Lagi

Manusia harus berubah
Manusia harus berubah
Kepada temanku, dalam ramah-tamah khas Aceh, di sebuah cafe sepi di Banda Aceh, aku pun mulai bertutur. Aku merasa tak sama lagi seperti dulu, semenjak aku mulai mengenal bahwa blog mampu menghasilkan uang. Aku kehilangan hampir separuh ruhku. Ruh menulisku yang ternyata begitu mudah terbeli dengan uang.

Saban hari, aku lebih cenderung memeriksa, apakah hari ini ada yang klik iklan di Google AdSense daripada memeriksa apakah ada yang membaca blogku atau malah memberikan komentar?

Dulu, aku paling suka saat orang-orang datang ke blogku lantas memberikan komentar. Sekarang, rasa itu masih ada walau mulai meredup padam. Sekarang, aku lebih suka melihat, apakah ada yang mengklik iklan? Sehingga aku bisa mendapatkan penghasilan dari 600 tulisan yang ada di blog ini?

Aku merasa, ruh yang dulu ada padaku mulai menghilang. Aku memang seorang pemalas, yang menjadikan mood cuma sebagai alasan sebuah produktivitas. Seharusnya, seorang idealis mampu menciptakan moodnya sendiri untuk menulis. Dan aku, ternyata, hanyalah seorang: pemalas dan juga gagal. Aku tidak akan membantah hal tersebut.

Baca Selengkapnya

Selamat Tinggal

Karena kita bukan Tuhan, maka tidak ada yang abadi. Setiap perjumpaan selalu memiliki perpisahan.

Selamat Tinggal
sumber: http://cahayasalaf.wordpress.com/
Kini telah sampai kita pada saat perpisahan. Mungkin — jika umur panjang — kita akan berjumpa kembali di tahun depan. Engkau, wahai bulan yang mulia, ini adalah saat perpisahan. Setelah sebulan bersamamu kami ditempa, bulan berikutnya adalah saat menjabarkan apa yang telah kami pelajari bersamamu selama ini. Mampukah kami berjalan dengan amalan di punggung, atau lebih buruk lagi: dosa yang menggunung.

Di antara dahaga dan rasa lapar, engkau mengajarkan tentang kesabaran. Engkau haramkan bagi kami apa yang halal sebelumnya untuk kami sentuh pada siang hari. Engkau katakan, itu demi kami menjadi lebih bertakwa daripada sebelumnya.

Pertanyaannya: sudahkah kami menjadi lebih bertakwa?

Baca Selengkapnya