Logaritma, Aku Terkagum

Diantara semua sahabat, ada seorang yang membuatku bangga. Aku ingin dia tak tahu betapa bangganya aku terhadapnya, karenanya marilah kita beri dia inisial “Logaritma“.

Aku punya beberapa sahabat, namun tak ada yang sedrastis dia. Keinginannya menjadi manusia yang terbaik dalam menjalankan agama membuatku terkagum. Engkau tahu kawan? Banyak kulihat orang-orang yang dulunya baik namun melemah karena kurangnya iman, atau mungkin karena kejenuhan. Terkadang mereka adalah orang-orang yang tidak tahan mendengarkan olok-olok dari sebagian orang.

Logaritma dulunya adalah sekumpulan mereka, kaum-kaum yang berada diambang olok-olok. Dulu dia adalah seorang yang memandang sebelah mata pada bidadari yang mencoba menjalankan keputusan Tuhan dengan segenap keikhlasan, orang-orang yang tidak cuma berucap cinta kepada Tuhan namun tanpa disertai dengan perbuatan, bukan mereka orang-orang yang berangan-angan tentang Tuhan.

Baca Selengkapnya

Ketika Cinta Sahabat

Aku memiliki seorang sahabat dari dunia IRC. Dia adalah seorang yang pertama kali dan satu-satunya yang mengirimkanku ucapan SELAMAT melalui kartu pos. Awalnya ku kira dunia irc sama sekali berbeda dengan dunia nyata, dan memang terkadang berjalan demikian namun sosok ini berbeda.

Dan kau tahu teman, engkau adalah sahabat IRC ku yang paling rewel, namun paling dekat denganku.

Dan ketika aku telah berubah, ku ingin dia juga berubah. Setiap kita selalu ingin agar orang-orang di sekeliling kita yang kita cintai menjadi seperti kita. Atau paling tidak, menjadi seperti sosok yang kita anggap benar. Aku juga ingin dia kembali benar.

Baca Selengkapnya

Wanita dan Tangisan

Wanita itu datang kepadaku dengan muka memar biru. Wajahnya lebam-lebam, dapat kulihat dia begitu tersiksa. Air matanya meleleh, seolah melolong teriak minta tolong.

Tangannya menutup wajah, suaranya goyah, air mata jatuh disela-sela jemari halusnya. Kasihan.

Terisak, dia menangis sedu-sedan. Jika manusia melihatnya, tak ada seorangpun yang tak akan iba. Wanita, mengapa selalu tersakiti?

“Lho, kamu kenapa Nis?” Tanyaku.

Makin kutanya, lengkingan suaranya semakin mengkerat hati. Pilu, sayatan bahasa suara kalbunya membuat semua ingin mewarta; wanita mengapa selalu terkorbankan.

“Ada apa?” Aku mengulang tanya untuk kesekian kali, mencoba robohkan bungkamnya yang terlalu lama diperanakkan.

Baca Selengkapnya

Melata Seperti Sundal

Aku makan perempuan itu. Bulat-bulat. Mentah-mentah.

Tidak peduli ujung akhir kisah. Entah dia menangis atau bahagia. Aku tidak memikirkan itu kini, aku cuma memikirkannya.

Bukan salahku, aku tak memaksa. Dia yang berkata iya.

Awalnya seperti ilusi. Antara yakin dan tidak. Dikerumunan aku melihat dia, bagai pualam putih diantara batu nan kokoh. Sayang, dia rapuh.

Semua orang mengira, sangatlah sulit menaklukkan ego wanita, terutama perempuan itu. Aku pun dulu demikian, tetapi semuanya salah.

Dia bodoh. Tertipu. Angkuh namun rapuh. Melata seperti sundal.

Baca Selengkapnya

Dewasa (?)

Aku baru tahu, ternyata dia telah berubah. Sudah lama aku tidak bertemu dengannya, dan memang bukan hakku lagi untuk meluruskannya lagi. Hanya akan menjadi petaka baru jika dia kuluruskan, telah terlampau menyimpang apa yang ada padanya.

Dewasa. Mungkin sudut pandang kami tentang dewasa itu berbeda.

Baru ku tahu, cara berpakaiannya telah berubah. Kata temannya, sekarang dia telah dewasa. Aku cuma tersenyum, miris, geleng-geleng kepala.

Entah apa yang telah terjadi sehingga dia berubah menjadi begitu cepat. Semoga tidak liar. Yang aku takutkan semoga tak terjadi, semoga dia tidak seperti makhluk-makhluk yang sering bercerita hingga pagi tiba kepadaku, tentang bagaimana mereka hilang dalam hidup. Atau cerita tentang mereka-mereka yang telah terpeleset hingga ternoda dan tercederai.

Berjuta kali aku berdoa. Tuhan, selamatkan dia.

Baca Selengkapnya