Menjadi Apapun, Siapapun

Aku suka bergonta-ganti peran. Menjadi apapun, siapapun. Namun sayangnya, aku terjebak dengan karakter-karakter yang aku perankan. Aku menjadi reduksi, distorsi, aku kehilangan Aku yang sebenarnya. Aku mencari, namun dia telah lari.

Aku sering menyebut AKU yang hilang itu dengan “dia” atau “pria” atau “lelaki itu”. Aku kehilangan dia, seorang lelaki yang adalah pria (permainan kata yang memusingkan).

Pertama lahir, aku dididik dalam peran manja. Karakter khas seorang anak terakhir, lelaki satu-satunya. Apapun keinginanku selalu ada. Aku tidak diijinkan keluar rumah terlalu larut, bahkan diwajibkan tidur siang. Aku tidak boleh memegang pisau, tidak boleh mencuci, tidak boleh memotong, dan semuanya. Segala hal serba tidak boleh.

Baca Selengkapnya

Duhai Engkau Yang Begitu Lembut

Barusan tanpa tersadar aku menitikkan air mata. Aku melihat dia “Bidadari ketiga” di balik dunia maya, dan betapa aku tersadar betapa lembut hatinya, dan betapa kuat ghirahnya akan kemurnian mencapai Islam.

Detik itu, hatiku berdoa: “Ya Allah, catatlah dalam takdirku bahwa dia benar-benar akan menjadi bidadariku.

Duhai engkau yang begitu lembut. Yang tak pernah ingin menyakiti hati-hati manusia yang lain. Duhai engkau yang selalu bersyukur atas apa yang Allah turunkan kepadamu, dan yang bersabar atas apa yang Allah ujikan kepadamu. Duhai engkau yang selalu ingin berada di dalam jalan yang lurus.

Baca Selengkapnya

Nan Tak Kunjung Reda

Nan tak kunjung reda. Bingung. Entah bagaimana aku terus memikirkannya saban hari. Ingin berhenti sejenak dari deburan cinta ini, namun dia seperti ombak di pepantai, tak kunjung surut, tak kunjung reda.

Aku mungkin bisa tersenyum. Aku tertidur. Aku membaca. Aku tersujud, namun hatiku tak mampu dipungkiri, selalu mengarah kepadanya. Aneh nian, tak pernah kami saling bertatap wajah, namun mengapa namanya mengalir di sekujur pembuluh nadiku.

Ingatkah dia tentangku? Apakah dirinya memikirkan aku? Adakah aku di dalam satu bait kehidupannya. Aku ingin dia memikirkan aku seperti aku memikirkan dirinya. Aku ingin dia juga tak reda, seperti aku yang tak kunjung reda.

Baca Selengkapnya

(Bukan) Dari Mata Turun ke Hati

Dari 5 (lima) kali jatuh cinta, 2 (dua) yang terakhir aku cintai tanpa pernah bertatap muka langsung dengan mereka alias melalui dunia maya. Jadi, bagiku pepatah yang berkata: dari mata turun ke hati, tidak 100% adanya. Mungkin bagi orang-orang yang menomor satukan masalah rupa hal itu bisa saja terjadi, namun aku tidaklah demikian.

Salah seorang temanku, ketika bercakap-cakap denganku di udara pernah berkata begini: “Ben, aku tak percaya ada cinta yang berasal dari dunia maya tanpa menatap langsung orangnya.

Awalnya akupun tak percaya. Namun interaksi bisa membuat rasa itu hadir. “Tak kenal maka tak cinta,” begitulah kata pak lurah di desaku. Dan benar adanya, interaksi mampu membuat seseorang yang terpisahkan oleh jarak ribuan kilometer mampu jatuh cinta.

Baca Selengkapnya

Bidadari dan Bidadari Ketiga itu BEDA

Mungkin banyak yang bertanya-tanya dan kebingungan dengan istillah bidadari dan bidadari ketiga. Harus kutegaskan di sini bahwa sebutan itu mengacu kepada 2 orang yang berbeda. Sebutan bidadari tanpa embel-embel ketiga itu sebenarnya tertuju kepada bidadari kedua, yang mengajarkan aku shalat di sepertiga malamku, sedangkan bidadari ketiga adalah seseorang yang sedang kucintai saat ini.

Sekarang hatiku ini hanya tertuju kepada seseorang, yaitu bidadari ketiga. Jadi hubunganku dengan bidadari cuma persahabatan biasa, tanpa ada embel-embel yang lain.

Dengan bidadari ketiga? Ya berteman seperti biasa juga, tanpa ada embel-embel. Namun hati ini tidak dapat dipungkiri bahwa dia memiliki rasa. Aku sendiri tidak bisa menduga kapan rasa ini akan selesai, atau akan terus berlanjut.

Baca Selengkapnya