Selaksa Hampa

Selaksa hampa!

Berjuta perasaan yang ada di dalam hati, semuanya hanya satu; jenuh. Dan jenuh itu akan terus ada, serasa abadi. Begitu absolut. TAK TERGUGAT!

Tak pernah aku membagi perasaan ini, tak pernah kecuali pada seseorang. Saat jenuh ini mencapai titik akumulasi, aku menghubunginya. Seseorang nan jauh ada di sana, di pulau Jawa, di Malang. Kepadanya aku membagi perasaan ini, namun aku tak pernah ingin jujur. Aku hanya jenuh teman.

Apakah kamu mengerti apa yang disebut dengan sepi?

Apakah kamu paham apa yang dimaknai dengan kehampaan?

Apakah kamu pernah mengeja arti tiap kesunyian?
Baca Selengkapnya

Mas Wawan

“Mas Wawan tu dah berubah, ga kaya dulu. Gara-gara Datul bilang kalo Beni mo nikah ma Datul.”

”Buat apa kasih dia? Foto itu dirobek aja atau dibakar aja, gampang kan?”

”Bukan gitu tapi Datul emang ga suka foto-foto. Mas Wawan tuh mungkin saja sekarang dah punya pacar. Mana boleh Datul ganggu dia.”

”Beni ga salah kok. Ga usah minta maaf ya… :). Tentang Mas Wawan dah berubah itu lupain aja. Datul ga pernah harap apa-apa. Cuma ga pengen kehilangan teman aja. Kalo emang dia ga mau sms-an ma Datul lagi, ya ga papa, terserah dia, asal dia senang. Itu udah cukup :-).”

”Cinta apaan, kan cuma suka.”

……….

Baca Selengkapnya

Cinta Itu Berat

DatulSumpah aku benar-benar mencintainya. Cinta yang dalam yang sedang kurasakan. Aku masih menyimpan SMS tanggal 9 Juli 2007 jam 3:59 pagi saat dia juga berkata suka padaku, aku masih menyimpannya hingga sekarang. SMS yang selama ini kukenang. SMS yang jika kubaca mampu membangkitkan semangatku ditengah keletihan jiwa, SMS yang selalu kumaknai mampu membuatku menempus atmosfir-atmosfir bumi untuk meluncur ke langit ketujuh. Sumpah!

Salahkah aku?

Aku mungkin bukan pria seperti pada umumnya. Aku tak mudah untuk melupakan cinta, tidak mudah. Saat pagi ini tanggal 23 November 2007 jam 6.00 pagi dia sms ingin berteman saja denganku, aku cuma bisa pasrah. Saat menerima itu, aku menggigil, muntah-muntah, tanganku gemetaran, aku serasa sakau. Sungguh, cinta itu amat berat dan dia amat menyakitkan.
Baca Selengkapnya

Episode Monolog

“Aku lelah… teramat lelah.”

Tiba-tiba saja dia berkata seperti itu, aku tak mengerti dari mana suara itu timbul. Dari bibirnya, atau dari hatinya. Aku sungguh tak tahu.

”Ben, hidup ini rasanya terlalu lama. Terkadang juga begitu singkat.”

Kali ini aku menoleh kepadanya, mencoba lebih fokus terhadap setiap ucapannya, ucapan yang biasa saja namun terkadang sulit untuk ku pahami. ”Mengapa demikian?”

”Lihatlah langit itu,” katanya sembari mengangkat dagunya berusaha menatap langit. ”Berapa lama ia telah demikian, menaungi bumi dan semesta. Apa tak terbersit bosan dihatinya?”
Baca Selengkapnya

Taman Surga

Sayang, apa yang engkau takutkan? Bukankah aku telah berjanji tidak akan poligami! Apakah itu tidak cukup bagimu?

Sayang, bukankah aku telah katakan padamu bahwa aku memilihmu bukan karena aku diterima atau ditolak oleh sang puteri, sama sekali bukan. Posisimu absolut di dalam hatiku, bukan sebuah perasaan hasil reinkarnasi masa lalu atau sebuah rasa yang tercipta oleh kenangan masa lalu. Sungguh sayang, aku tidak mencintaimu karena aku pernah mencintai seseorang yang mirip denganmu! Tidak juga aku membandingkanmu dengan sesuatu yang lain! Bukan karena kamu mirip chinese atau memiliki wajah yang polos, bukan itu sayang. Posisimu mutlak seperti saat aku mencintai cinta pertamaku.

Sayang, aku harap kamu mengerti. Kelak…
Baca Selengkapnya