Mimpi Buruk

Semalam aku bermimpi buruk. Lagi.

Aku merasa tidur selama seharian, namun ketika melihat jam aku cuma tidur sekitar 1 jam. Beruntunglah mereka yang tidur namun hampa mimpi. Mereka yang benar-benar menikmati nyanyian sunyi.

Baru awal tidur, aku sudah menduga aku akan bermimpi buruk. Baru awal tidur, aku sudah merasa seperti ditarik ke udara, dan aku tidak mampu bangun. Kalau kuhitung, mungkin ini mimpi berlapis. Di dalam mimpi itu, aku adalah seorang yang sedang bermimpi buruk. Mimpi di dalam mimpi. Ketika aku terbangun dari mimpi buruk, aku tidak terbangun total, cuma bangun dari lapisan mimpi.

Ruh-ku seperti dipaksa keluar.

Angin kencang lagi dingin menyelimuti segenap selaksa hitam galaksi mimpi. Aku dibawa terbang ke udara. Aku ingin lari, namun tak bisa, karena aku tidak lagi punya kaki.

Asma Allah aku lapalkan, namun tiada guna. Mereka tidak mau kalah. Bahkan mereka seperti tuli. Asma yang bertalu-talu aku teriakkan, seperti hampa. Tak berjejak. Tiada makna.

Terbangun total pertama aku membaca ayat kursi. Namun kantukku masih sangat. Aku pun dipaksa tidur kembali. Namun, buruk itu kembali hadir. Aku dibawa jauh ke ruang yang tiada aku mengerti. Aku di tengah ruang hampa, melayang, sekelilingku angin berderu dengan sangat kencang.

Terbangun total kedua, aku memegang quran. Namun mimpi itu tidak juga selesai. Kali ini, aku dimasukkan ke dalam dimensi keburukan. Aku dipaksa lari sebelum hendak dibunuh. Aku seperti hendak dilemparkan ke neraka. Teriakan-teriakan yang tiada jeda bergaung di telingaku. Aku kalut. Sebelum bangun di lapisan mimpi pertama, aku terbunuh dalam mimpiku, tepat ketika aku sedang bangun. Sebuah benda melayang kencang memotong leherku.

Terbangung total ketiga, aku memeluk mushaf itu di dadaku. Mimpi mereda.

Sebelum aku memeluk mushaf, aku melihat jam menunjukkan pukul 2, padahal aku tertidur pukul satu. Namun aku merasa seperti tidur seharian, capek sekali dengan segudang mimpi buruk itu.

Ketika puasa, aku hampir tidak pernah mimpi buruk lagi. Apa setan-setan itu mengejarku hingga ke sini? Tahukah mereka, padahal aku tidak memberi tanda.

Incoming search terms: