Malaysia I Am Here

Terhitung sudah 4 hari aku di Malaysia, setelah mendarat pada hari Minggu di Bandara Internasional di Kuala Lumpur. Malaysia menurutku indah, untuk sebuah kota besar namun dengan tingkat kemacetan yang rendah jika dibanding dengan Jakarta dan suasana jalanan yang sangat mendukung orang untuk bebas bepergian dengan kaki.

Di Kuala Lumpur, aku melihat banyak orang yang patuh dengan lalu lintas. Itu yang membuatku salut. Traffic light yang telah maju serta aturan jalanan yang luar biasa. Di sini bahkan aku ada melihat jalur khusus untuk sepeda motor, orang-orang sini menyebutnya dengan “motor sikal”.

Menariknya lagi, stasiun bus pun hampir mirip seperti Bandara, sangat jauh berbeda dengan yang aku lihat di Indonesia. Mungkin itu khusus untuk Kuala Lumpur, karena di Penang waktu mau menyeberang ke Ipoh, stasiun bus juga tidak seindah di KL, tetapi masih lebih tertip dan terata rapi.

Lebih menarik lagi adalah, jalanan di sini bersih, tidak macet, orang-orang tertip dan mentaati peraturan, juga aku tidak takut akan di-tokoh-i atau ditipu di sini. Hal ini tidak aku dapatkan di Jakarta.

Baca Selengkapnya

Menertawai Masa Lalu

Beberapa hari ini aku punya hobi yang unik. Melihat komentar orang-orang di blogku dan melihat tulisan apa yang mereka komentari. Kebanyakan pengunjung di blogku berkomentar tentang tulisanku yang lama, yang lebay, dan menyayat hati.

Menertawai Masa Lalu
http://pipin217.wordpress.com/
Entah kenapa aku merasa geli sendiri dengan masa laluku. Merasa geli, ternyata betapa lebay-nya aku ini.

Salah satu contoh kelebayanku ada pada tulisan “Cinta Itu Berat” — bercerita tentang kisah aku yang patah hati, dulu mungkin saat menuliskannya, membacanya, bertutur tentangnya, hal itu bisa jadi sangat menyayat hati, namun sekarang aku merasa itu terlalu lebay.

Aku mungkin memang kurang mampu menulis hal yang sederhana dengan cara yang sederhana. Misal, aku sedang bahagia dan aku tuliskan saja bahwa aku bahagia. Tidak harus dengan cara mendramatisir keadaan, melakukan antraksi tari-tari India, diiringi musik, di bawah lautan hujan. Harusnya aku bisa menjadi lebih sederhana dalam menyajikan sesuatu.

Aku iri dengan orang-orang yang bisa bercerita secara jernih. Mereka yang tidak menambahkan, melebaykan, atau mendramatisir. Mereka bertutur dengan pure, sebenar-benar penuturan.

Baca Selengkapnya

Dakwah Di Mana Saja

Kemarin, ada sebuah peristiwa yang berkesan bagiku. Saat itu aku baru pulang dari Hermes Palace Hotel menuju ke kantor walikota untuk memperpanjang KTP-ku. Jam sudah menunjukkan pukul 12 lewat. Aku terhenti di Simpang Surabaya karena lampu merah, tiba-tiba seorang bapak melirik-lirik ke tanganku. Hingga akhirnya dia mencokehku dan bertanya, “sudah jam berapa?

Aku melihat dia juga menggunakan jam tangan berwarna keemasan, khas jam tangan orang tua, namun akunya bahwa arloji yang dikenakannya telah habis masa, baterainya sudah tidak mampu lagi menghidupkan jarum-jarum jam untuk bergerak.

Saat aku katakan pukul berapa saat itu, kemudian dia lanjut berkata, “sudah mau azan ini.” Saat itu aku cuma mengangguk.

Saya hendak ke mesjid,” lanjutnya.

Baca Selengkapnya

Motorku Hilang Part 2

Saat motorku hilang. Jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya, mungkin sekitar 2 atau 3 kali lebih cepat. Saat itu, aku merasa sangat lemas. Lututku gemetaran dan kakiku seperti tidak mampu berpijak di bumi ini.

Aku kalut. Aku bingung. Motorku itu hadiah dari kakakku dan sekarang aku telah menghilangkannya. Harus ditaruh di mana mukaku ini! Terlebih, kredit motor itu belum lagi lunas. Oh Tuhan…

Hidup rasanya mendadak berputar dengan tidak menyenangkan. Aku tidak bisa berpikir dengan jernih. Teman yang tadi aku ajak tertawa, si Nurul tiba-tiba menghampiri namun dan saat diajak bercanda, aku tidak bisa. Aku cuma katakan dengan muka pucat, “motorku hilang.

Aku bingung harus bagaimana. Akhirnya, dengan berat hati aku telepon Ayahku, pertama yang mengangkat adalah Mamak. Saat itu aku bertanya, apakah Ayah ada? Ketika telepon sudah ada di tangan Ayahku, aku katakan dengan suara yang agak bergetar (karena lemas, takut, dan kebingungan) bahwa motorku telah hilang.

Ayahku bertanya di mana posisiku, aku jawab “di Gedung Sosial.

Baca Selengkapnya

Selamat Idul Adha 1432 H

Selamat Hari Raya Idul Adha 1432 H

Buat kamu yang masih kurus di tahun ini, coba deh mulai sekarang makan yang lebih banyak biar di tahun depan lulus uji seleksi untuk di-kurban-kan.

Hehehe, met hari raya semuanya. Mohon maaf jika banyak kata yang salah selama ini. Mohon dimaafkan.