Yang Pantas Untuk Dikenang

Tolong kenanglah aku.” Pintanya suatu ketika.

Dan aku menggeleng. Tidak! Tegasku dalam ucap gerak tubuh itu. Aku tidak ingin mengenangmu, walau engkau adalah yang paling indah jika kukenang. Aku belum lagi pupus mencintaimu, jangan buat aku menyerah sebelum sebuah ucap kata pinta meminangmu tiba. Jikalah itu telah sampai, dan engkau pun di waktu itu menolak pintaku membangun rumah di antara setengah agama, maka aku rela. Saat itu, engkau, yang pantas untuk dikenang.

Tegakah engkau merobek sayap hatiku? Mencabiknya menjadi serpihan, lantas memintaku cuma mengenang. Mengapa tak kau minta saja aku mendaki Nepal, berdiam lama dengan mata tertutup di sana. Mungkin suatu laksana aku akan menjadi Budha, tercerahkan, dan karmaku dalam mengingatmu hilang ditelan Nirvana.

Atau kau buang bungkam, untuk kata aku menitilah api suci para Brahmana, seperti ketika Sinta berjalan di sana ketika Rama menguji masihkan suci cinta Sinta selepas dia disekap Rahwana. Dan kisah pun berakhir, tak pernah lagi terdengung lanjutan tentang Sinta selepas dia meniti api suci. Terbakarkah ia oleh cinta, atau cinta meredam api.

Baca Selengkapnya

Belajar Menjadi Jahat

Sebenarnya judul di atas salah. Seharusnya yang benar adalah BELAJAR MENJADI BAIK. Kejahatan tidaklah sepatutnya dipelajari. Lebih baik dijauhkan, tak usah didekati. Kejahatan itu mampu membuatmu ketergantungan. Membuatmu benar-benar terikat tanpa mampu terlepas. Kejahatan itu mampu mengurai benang-benang kebaikan yang telah kamu rajut dahulu ketika, dan akan terurai sepenggal demi sepenggal saat ini.

Tetapi aku benar-benar ingin belajar menjadi jahat. Banyak orang mengiri, aku adalah orang baik. Melihat tampangku dan membaca blogku membuat mereka merasakan bahwa aku mungkin paling tidak adalah bagian dari kebaikan. Mereka tidak sepenuhnya benar, namun juga tidak salah.

Aku takut menjadi jahat. Namun apa yang telah kuperbuat, tiada menafikan bahwa aku ini adalah seorang yang sangat jahat. Kadang aku suka menangis jika mengingat betapa jahatnya aku.

Baca Selengkapnya

Brother of Badar

Brother of Badar. Dia adalah temanku, teman liqoat-ku. Teman yang paling sering mengingatkan kami kalau ada haloqah, dan juga ketika ada peristiwa-peristiwa penting. Dia juga adalah teman yang paling sering mentraktir kami makan BAKSO, karena dia adalah pecinta Bakso sejati.

Bakso yang bagiku dari Sabang sampai Merauke itu sama saja rasanya, tetapi dilidahnya bisa berbeda-beda. Dia bisa tahu dengan pasti, mana bakso yang enak dan mana yang kurang enak. Lidahnya itu entah terbuat dari apa, sampai rasa bakso yang semuanya sama bisa berbeda-beda.

Mengapa dia memilih nama Pemuda dari Badar?

Baca Selengkapnya

Kecewa dengan Starone

Mungkin aku termasuk kecewa dengan starone. Padahal aku tinggal di Leung Bata, di lantai dua, dan mendapatkan sinyal 3 bar dari 4 bar full sinyal. Namun koneksi kok macam setan !!!

Kemarin aku menggunakan paket harian starone yang berdurasi Rp 2500 per hari unlimited. Aku merasa puas dengan paket tersebut. Kecepatan stabil dan membuatku nyaman.

Setelah puas dengan paket harian, aku coba beralih ke paket bulanan yang berharga Rp 45000 per bulan unlimited. Di sini aku mulai kecewa. Koneksi suka hidup-mati tidak jelas. Kalau buka website harus berkali-kali refresh.

Aneh, mengapa pelanggan yang ingin berlangganan bulanan harus diberikan koneksi lebih buruk daripada pelanggan harian?

Aku bukan orang yang begitu mengerti masalah teknis, jaringan dan lain-lain. Yang jelas, aku benar-benar kecewa.

Baca Selengkapnya