Sebongkah Lelah

Aku tak ingin maksud, untuk mewartakan semua lelah. Tentang jasadku yang mulai melemah, dan batinku yang semakin mengalah. Engkau tidak akan pernah tahu, di hadapanmu aku selalu tersenyum, menyimpan semua tangis berukir air dari pipi-pipiku. Aku simpan semua, agar engkau bahagia.

Bolehkah aku mengeluh? Barang sekali saja. Dan bolehkah aku meminta? Engkau diam dan dengarkan semua apa yang ingin aku sampaikan. Tentang penatku, lelahku, rinduku, juga cintaku.

Aku mencintai dengan tiada lelah. Harus engkau tahu itu. Terserahmu jika engkau bersikap tidak mau tahu.

Lelah yang aku tanggung ini bukan karena aku mencintaimu. Ini adalah lelah fitrahku sebagai lelaki, sebagai manusia, sebagai mereka yang terlalu banyak harap daripada kerja. Namun, bukan pula hendak ingin mengeluh. Aku cuma ingin dimengerti. Tidak lebih. Jangan pula kurang.

Baca Selengkapnya

Menulis dengan Hati

Si Jo Na menulis sebuah artikel yang berjudul “Menulis dengan Hati” dan aku ingin menuliskan pengalaman yang serupa. Sebenarnya, menulis dengan hati itu masih merupakan ilmu baru bagiku, sebelumnya aku masih berkutat dengan rima dan diksi. Jadi, kebanyakan tulisanku selalu aku usahakan memiliki rima dan diksi yang mudah mengena di hati jika dibaca keras atau dibaca dalam hati.

Menulis dengan hati aku dapatkan dari bukunya Gola Gong yang berjudul: “Jangan Mau Gak Nulis Seumur Hidup

Di sana ditekankan bahwa ketika kita menulis, yang paling penting dari sebuah tulisan adalah isi. Sekali lagi ditekankan, isi-lah yang menjadi hal terpokok dalam sebuah tulisan dibandingkan dengan diksi, rima, gaya penulisan, dan sebagainya. Karena, apa yang akan dikenang oleh pembaca bukanlah gaya bahasa kita, bukan pula diksi, tetapi isi. Itulah yang akan selalu dikenang.

Baca Selengkapnya

Aku Mencintai dengan Sederhana

Aku Ingin

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

(Sapardi Djoko Damono)

Andai engkau tahu, telah lama aku memendam rasa. Tak perlu ada ucap untuk engkau tahu betapa aku selalu mengingatmu.

Cinta butuh memahami, dan aku belajar memahamimu. Sejengkal-demi-sejengkal dirimu aku urut, aku pahami, dan aku pelajari. Bahkan terkadang aku sempat tiada duga, betapa banyak darimu yang belum juga mampu aku maknai.

Aku mencintaimu dengan sesederhana cinta, agar tiada usah engkau penat dibuatnya. Sengaja, agar semua menjadi mudah, semudah engkau menarik napas ke dalam paru-parumu.

Baca Selengkapnya

Cinta Butuh Memahami

Cinta butuh memahami? Pasti!

Entah mengapa rasanya aku ingin menulis tentang cerita ini. Bahwa, cinta terkadang berjalan cuma satu arah. Betapa pun kita mencintai seseorang dengan secinta-cintanya, namun kadang orang yang kita cintai tiada mampu membalasnya, bahkan merasa risih.

Betapa pun orang tua kita mencintai kita, terkadang kita membalasnya dengan sekedar. Bahkan tidak jarang kita lebih mencintai orang yang baru kita kenal daripada mereka yang selama ini mengasuh kita sedari kecil. Kita sering merasa ogah-ogahan melakukan apa yang orang tua kita minta, tetapi untuk mereka yang bahkan baru kita tahu, kita menjadi sangat bersemangat luar biasa.

Apa kurang Tuhan memberikan kasih sayang-Nya kepada kita? Sudahkah kita membalasnya? Bahkan mengingat Tuhan saja kita jarang. Kita sering sekali alpa. Tuhan tidak pernah membenci, tetapi kitalah yang menciptakan rasa benci.

Baca Selengkapnya

Nan Tak Serius

Bisa dipastikan, aku orang yang jarang sekali serius. Sejujurnya, aku takut menjadi serius. Aku takut ketika aku serius, dan aku mengerjakan suatu hal dan hasil dari apa yang kukerjakan tersebut jauh dari apa yang aku mau, aku takut kecewa. Jadi aku sering melakukan sesuatu itu tanpa keseriusan, agar jika gagal, aku tidak kecewa.

Namun sepertinya aku tidak boleh terus-terusan begini. Sifat itu seperti sudah mengurat-akar. Dari awalnya sesuatu yang bisa aku ON-OFF kan sesuka hati sekarang menjadi seperti tidak terkendali.

Terkadang, aku juga suka berlagak bloon dan tidak tahu apa-apa. Aku melihat reaksi orang-orang yang bercerita bagaimana mereka bersemangat memberi tahu apa yang dia rasa orang lain tidak tahu. Aku menikmati keadaan seperti itu sehingga aku pun berlagak tidak tahu apa-apa.

Bahkan jika orang bertanya yang mereka tahu itu bidangku, aku pun berkata: “aku tidak tahu.”

Baca Selengkapnya