Cinta Tanpa Kata

Seseorang membaca blogku dan mulai berbicara. “Cintamu tidak sedalam cinta yang aku punya.”

Saat itu aku tidak membalas apapun yang hendak dikatakannya. Aku cuma diam, takzim, mendengarkan runut cerita berikutnya.

Engkau mencintai dengan kata-kata, dengan berbicara, dengan berbahasa. Engkau bercerita di mulut keduamu ini, tentang segala hal yang engkau rasa. Pitin-pitin hati yang memilin. Sebuah rasa yang sulit engkau tanggung, membeban di dalam hati lantas engkau tumpahkan di sini. Dan aku sungguh berbeda darimu. Cintaku lebih tulus daripada cintamu. Cinta tanpa kata.

Baca Selengkapnya

Semakin Melekat

Saban hari, ingatan-ingatanku tentangnya semakin melekat. Ya. Hampir tanpa jeda kepada dia yang aku sebut istimewa. Terkadang ketika aku membuka email, aku cuma ingin melihat log kunjungan dia ke tiap halaman di websiteku ini.

Kadang ketika malam tiba, aku pun membuka Yahoo! Messenger-ku lebih lama cuma ingin melihat namanya ada. Terkadang aku membiarkannya, tidak menyapa, karena aku mencoba untuk mengerti betapa sibuknya dia dengan segudang kegiatannya. Cukup hanya melihat nama, hatiku sudah dingin dibuatnya.

Di dalam keheningan, kerinduan tentangnya semakin saja hebat dan berkelebat. Rasanya, 1000 hari yang aku janjikan kepada diriku sendiri terlalu lama datangnya. Aku berusaha membangun pondasi-pondasi punggungku. Aku memang salah. Teramat lalai dalam hidup, membuatku lupa bahwa kelak aku akan hidup sebagai seorang lelaki dewasa yang harus memikul tanggung jawab juga kiranya.

Baca Selengkapnya

Kebingungan Mutlak

Dari kemarin aku tidak enak mood, tetapi berusaha tetap menjadi biasa. Perasaan itu sangat mengangguku. Perasaan bersalah. Nantilah akan kuceritakan bagaimana kronologisnya tentang kesalahan yang aku perbuat terhadap dosenku tersebut. Aku sangat kebingungan.

Sebenarnya tidak butuh pendapat orang lain bahwa yang jelas-jelas salah adalah aku, namun aku ingin menuangkan semua rasa kesalku terhadap diriku sendiri. Dan keadaan semakin rumit. Aku adalah tipe cowok yang agak penakut dan hampir dipastikan tidak berani memasang wajah untuk meminta maaf.

Makan rasanya hambar. Aku cuma makan kalau memang sudah teramat lapar dan kakiku menggigil serta kedinginan. Aku ingin bercerita kepada dia namun rasanya dia terlalu sibuk. Jadi lebih baik aku bercerita kepada kawanku yang lain.

Baca Selengkapnya

Istimewa

Aku cuma ingin bilang, bagiku dia teramat istimewa.

Setiap hari, dia menjadi semakin istimewa. Aku berharap, aku bisa melakukan sesuatu yang berarti baginya, namun pada kenyataannya dialah yang sering membantuku. Menyemangatiku. Berdoa atas namaku. Dan beberapa hari ini aku sering memintanya melakukan sesuatu, ini-itu, seperti memintanya mendownloadkan bahan kuliahku.

Ketika ada sesuatu file yang ingin aku ambil dan aku membaca, aku bertanya kepadanya. “Apakah file ini bisa diunduh?”

Jika ya, aku sangat senang karena pasti emailku esoknya akan kemasukan surat dari hotfile mengabarkan aku tentang seseorang yang telah mengirimkan aku sebuah berkas yang hendak aku baca.

Baca Selengkapnya

Mencintai dan (tanpa) Dicintai

Ketika aku mencintai seseorang, aku ingin yang terbaik bagi kebahagian seseorang itu. Walau itu berarti, dia berbahagia dengan orang selain diriku. Bagiku itu bukan suatu masalah. Malah aku merasa senang, bahagia yang sulit untuk dijelaskan.

Seseorang yang aku cintai pernah bertanya kepadaku, mengapa aku selalu meminta dia untuk menyukai seseorang yang sedang dia cintai? Dalam artian, mengapa aku tidak memintanya untuk mencintai diriku sendiri.

Aku cuma ingin dia mencintaiku dengan setulus hati. Ketika di dalam hatinya aku mampu meraba ada orang lain di dalam sana, aku ingin dia menuntaskan dulu segala kegilaannya. Aku ingin dia mencerna, dia berpuas berjuang untuk cintanya. Saat dia telah lelah, saat dia telah berputus asa, saat itu ada aku di sana. Masih terus mencintainya.

Bagiku tidak masalah, ketika aku mencintai seseorang tanpa orang itu mencintai diriku. Sama sekali bukan masalah. Yang menjadi masalah adalah ketika kami sudah saling berikrar untuk sehidup-semati atas jawaban cinta, ketika itu dalam hati-hati kami muncul pengkhianatan. Itu yang menjadi masalah. Namun, sebelum ucap kata itu tiba, aku ingin segalanya menjadi jelas, terang, dan sejujur-jujurnya.

Aku tidak pernah meminta dia mencintai diriku. Yang aku ingin cuma satu, dia tahu bahwa aku mencintai dirinya.

Baca Selengkapnya