Saya Sakit Demam Berdarah

Fase Demam Berdarah
sumber: askep-net.blogspot.com
Terhitung, mungkin sudah 10 hari saya sakit demam berdarah. Lupa, kapan mulai sakit ini berjangkit, yang jelas sehari setelah saya memotong rambut dan diskusi soal pluralisme bersama si Baiquni (baiquni yang lain), Irfandi, Abdul Ghaffar, dan Mirza Abdi. Padahal, besoknya direncanakan akan bertemu dengan salah seorang bule untuk mendengarkan sejarah kristenisasi (bukan sebagai ajang debat namun sebagai pengetahuan tambahan tentang perkembangan kristen), tetapi karena sakit saya tidak bisa menghadiri diskusi tertutup tersebut.

Saya baru ke dokter pada hari kedua. Saat itu kepala saya sudah terlalu pusing dan panas tinggi. Mendengar keluhan saya tentang badan yang nyeri, sakit kepala, dan demam maka dokter pun berkesimpulan besar kemungkinan saya teridap penyakit demam berdarah. Namun kata dokter saya tidak perlu khawatir, yang penting banyak minum saja. Oh ya, kata dokter juga, juga trombosit saya di bawah 100, saya disuruh segera opname di rumah sakit.

Jadi, selama sakit saya cuma tertidur di rumah. Mamak sempat bertanya, mengapa tidak ada teman yang menjenguk? Saya sebenarnya tidak ambil pusing mengapa tidak ada yang menjengguk, sudah cukup repot dengan sakit mengapa pula harus direpotkan mengapa orang lain tidak peduli terhadap sakit saya? Ya, saat itu saya tidak ambil pusing.

Baca Selengkapnya

Belajar Bahasa Jerman

Belajar Bahasa Jerman
Stolen from Ellie Goes to Germany
Hari ini merupakan hari terakhir aku belajar bahasa Jerman. Dari informasi temanku si Ayu, aku tahu ada les bahasa Jerman gratis di pusat bahasa Unsyiah selama 10 hari yang diajarkan oleh Frau Nova. Jadilah aku mengikuti les tersebut secara bersemangat 45!

Les dimulai pada tanggal 23 Agustus 2012, lalu. Walau gratis, namun ada syarat yang harus dipenuhi, yaitu: setiap keterlambatan selama 1 jam, kami dikenakan sanksi 1 Euro per jam. Jadi jika dalam 1 hari kami membolos, maka karena dalam 1 hari sesi belajarnya ada 3 jam (1 jam = 45 menit) maka kami harus membayar sebanyak 3 Euro. Aku sendiri membolos selama 1 hari, karena kebiasaanku mogok tidur malam selama Ramadhan semakin menjadi. Aku kadang baru tidur pukul 3 pagi, dan terbangun pukul 4 pagi untuk sahur. Kadang setelah shalat subuh aku sempatkan tidur sampai pukul 7 pagi, lalu mandi untuk pergi les.

Aku merasa perkembanganku dalam belajar bahasa Jerman meningkat drastis setelah diajarkan oleh Frau Nova, padahal selama ini aku selalu mandek jika masuk ke dalam ranah bahasa baru. Apa mungkin karena bahasa Jerman itu yang mudah, atau boleh jadi metode Frau Nova yang luar biasa! Lebih-lebih, ini adalah pertama kali lho aku mendengarkan dan belajar bahasa Jerman!

Baca Selengkapnya

Daftar FlexiNet Broadband Hotspot di Banda Aceh

Aku senang, akhirnya aku mendapatkan daftar lengkap area FlexiNet Hotspot di daerah Banda Aceh. Awalnya aku cuma tahu di Haba Cafe, makanya aku sering kemari.

Aku suka dengan FlexiNet Broadband Hotspot, karena dengan modal 2500, aku sudah bisa internatan sepuasnya dengan koneksi yang dewa! Mau lihat hasil speedtest? Nih gue kasih!

Hasil Speedtest FlexiNet Broadband Hotspot

Mau tahu daftar selengkapnya daerah mana saja yang sudah tercover jaringan FlexiNet Broadband Hotspot? Cek aja daftar berikut di bawah yoooo…!

Baca Selengkapnya

Aku Menangis (Lagi)

Malam ini, aku menangis. Tepat saat seseorang memberikan tautan tentang sebuah tulisan berjudul “Karena Ukuran Kita Tak Sama” karya seorang Salim A. Fillah. Tulisan itu membuat aku ingin terus membaca tulisan berikutnya.

Dadaku bergetar, tentangnya yang dikisahkan oleh seorang Salim. Tentang banyak “nya” yang telah aku lupakan, terlupakan, atau memang sengaja aku ingin agar menjadi lupa. Dadaku hebat bergetar, hingga mungkin, rahang-rahang menjadi kaku setelahnya.

Sudah lama aku tidak menangis. Tidak seperti ini.

Terakhir aku menangis adalah kemarin. Saat gempa hebat melanda Aceh dan aku mengira kiamatlah hari itu akan tiba. Aku mengira tsunami akan kembali hadir di bumi ini. Dan aku, tetap aku, tanpa bekal yang cukup jika menghadap Tuhan nanti. Menangis di antara sujud-sujud yang lebih panjang dari biasanya.

Aku menangis. Aku tidak mengusapnya. Tidak mencoba agar ini berhenti. Aku membiarkannya. Memberikan diriku, hatiku, jiwaku, sedikit kesempatan untuk mengeja makna-makna yang Tuhan sampaikan melalui tangan-tangan yang lain. Aku ingin tangis ini tidak henti, tidak cukup sampai di sini.

Baca Selengkapnya

Lagi-lagi Tentang Kentut

dilarang kentutMasih ingat kisahku tentang kentut?

Jadi begini, ternyata setelah aku menuliskan tentang hal yang memalukan kentut kemarin, kentutku tetap saja tidak berkurang. Faktanya, bahkan kentutku semakin sering saja keluar dengan bunyi yang nyaring. Masalah bau kentut, walau memang mengganggu, bagiku tidak begitu masalah asalkan tidak ada bunyinya. Jika aku kentut namun tidak bunyi, aku bisa saja mengelak bahwa ada orang lain yang kentut. Namun, jika kentut sudah berbunyi, kuping siapa yang harus ditulikan? Terlebih, semua orang punya mata untuk melihat, refleksi dari pendengaran mereka kepada sumber suara dengan bunyi nyaring yang mungkin saja sebentar lagi akan segera membusukkan ruangan.

Yah. Kentut memang sebuah dilema, terutama jika dia berbunyi.

Aku heran. Dulu, aku kentut bisa tanpa suara juga tanpa bau. Seperti orang buang napas, segalanya terjadi dengan indah tanpa harus membuat jantung berdetak lebih cepat. Sekarang, jika ingin kentut, aku harus lihat kiri-kanan jika-jika ada orang di sekelilingku. Parahnya adalah, kentutku itu seperti nervous system, muncul tiba-tiba tanpa aba-aba bahkan aku baru sadar setelah bunyinya hadir.

Baca Selengkapnya