Maka Shalatlah Kamu

Setelah muntah-muntah, mengigil, gemetaran, takut, sakau, dan kolaps, aku tak tahu harus bagaimana. Aku benar-benar terkapar. Mungkin cuma sms dari Wendri yang membuatku tidak malu untuk menangis. Mungkin cuma itu.

Lalu lembaran-lembaran Quran itu mulai kubuka, kubaca dengan tartil, ayat demi ayat. Namun rasa sesuatu yang mengganjal di dalam hati ini belum sepenuhnya terbebas. Masih banyak sesuatu yang tidak kumengerti mengganjal di dalam hati ini. Dan aku tak tahu harus bagaimana.

Lalu kira-kira jam 10.00 bang Riza datang, soalnya aku ingin mendaftar ERANET. Sebuah bisnis jaringan yang berkutat dalam bidang pulsa elektrik. Sebelum bertemu bang Riza kusempatkan shalat dhuha sejenak, tentunya dengan pergegas karena khawatir bang Riza akan menunggu lama kedatanganku.

Setelah itu kami sama-sama ke Beurawe tepatnya ke BoES Studio tempatnya bang Iskandar sang leader ERANET daerah Aceh. Padahal saat itu aku belum juga mandi lho, soalnya hari ini aku ga ada kuliah.

Setelah urusan dengan ERANET selesai, bang Riza mengantarkan aku pulang kembali. Ternyata di rumah ada bang Chaled, bawa nasi soto untuk kakakku. Hohohoho…. kebetulan sekali lagi laper, sukses dah aku makan nasi soto bagi dua dengan kakakku.

Setelah makan, aku langsung tidur plus berurai air mata. Jujur, kejadian pagi itu belum mampu kulupakan dan masih menusuk relung ini. Sebuah kejadian dimana aku tak tahu berada dalam posisi benar atau salah hingga aku harus dicampakkan. Rasa yang tidak kumengerti itu masih berjejal pejal liat di dalam dadaku.

Dekat-dekat azan Jumat baru aku terbangun, lalu langsung mandi. Selama khutbah Jumat aku terus memikirkannya, terus memikirkan dia. Jujur, aku benar-benar jatuh cinta kepadanya.

Pulang Jumat aku masih sesak, perasaan-perasaan itu masih mengganjal. Lantas kuambil Quran dan kubaca lagi secara tartil, ayat demi ayat, namun rasa itu tidak juga kunjung berhenti. Akhirnya pilihan terakhir kulakukan, aku wudhu lalu shalat sunnah empat rakaat dua kali salam. Alhamdulillah, rasa itu mulai reda sedikit. Lantas Quran di tempat tidur kuambil kembali dan ku baca. Alhamdulillah, rasa itu semakin mereda.

Maka shalatlah kamu!

Setelah rasa itu reda, aku contact bang Qudri, ”Bang, Beni lagi sedih, gi patah hati neh. Kasi tausiah donk.” Sms-ku.

Tak lama berselang, sebuah sms masuk ke inbox-ku. Sms dari bang Qudri.

Rasulullah pernah bersabda ke Abu Dzar Al-Ghifari; 1. Perbaikilah perahumu karena lautan itu sangat dalam, 2. Carilah perbekalan yang lengkap karena perjalanan itu sangat jauh, 3. Kurangilah beban karena rintangan amatlah sulit untuk diatas, 4. Ikhlaslah dalam beramal karena yang menilai baik dan buruk adalah Dzat Yang Maha Melihat.

”:). Makasih bang, ada lagi yang lain?” Balasku.

Ya Allah berikanlah hamba seorang istri yang shalehah, yang ketika bersamanya hamba akan merasa dekat dengan-Mu, seorang wanita yang dapat menyejukkan hati hamba serta dapat menjadi partner dakwah-Mu.

Dua sms itu cukup membuatku mengerti. Lantas aku pun bertanya, “Bang, gi dimana? Ngopi yok!”

Dan waktu pun akan terus berputar. Esok, siapa yang tahu.

  • ”Ya Allah berikanlah hamba seorang istri yang shalehah, yang ketika bersamanya hamba akan merasa dekat dengan-Mu, seorang wanita yang dapat menyejukkan hati hamba serta dapat menjadi partner dakwah-Mu.”
    I like this…
    this is Islam…
    succes for you brother.

  • “Ya Allah semoga beben dapat istri yang shalehah”

    amin …..

  • Jadi ingat dia aku ben….. still make me crying till now
    Terlalu berat…
    Moga waktu bisa membunuh rasa itu ya… seperti kemarin2 agar aku bisa kembali kuat dan mampu berjalan seperti biasanya.. Menjadi seperti ayik yang dulu lagi..