“Ben, si Datul dah pacaran ya sama Yuna?” Tiba-tiba aja kak Dar ngomong gitu.
“Hah, kak Dar kenal sama Yuna?” Tanyaku.
“Ya lah, dia kan abang letting kak Dar. Kami panggil dia papa.” Jawab kak Dar. “Dia serius sama datul, mo nikah.”
“Dia orangnya gmn? Baik?” Tanyaku
“Iya.” Jawab kak Dar.
“Apa dia suka mainin cewek?” Lanjutku.
“Enggak.” Jawab Kak Dar.
Kategori: Cerita Hati
Berpikir Dengan Sudut Pandang Berbeda
Datul…
Aku pernah menulis dia dalam beberapa episode kehidupanku. Menuliskan betapa aku mencintainya hingga detik ini. Terkadang aku mengerti, terlalu memperhatikan dan terlalu mengacuhkan bisa menjadi petaka dan prahara. Aku salah.
Terkadang aku berpikir, apakah ada pria lain yang mampu sepertiku? Memandangnya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Menatapnya kapan dia sakit dan kapan dia bahagia. Memandangnya tanpa jemu tanpa jeda. Memberikan perlindungan. Lagi-lagi aku salah.
Dulu aku pernah bertanya, “Aku tidak dewasa, bagaimana?”
“Cukuplah kamu, aku tidak membutuhkan yang dewasa.”
“Apa yang kau inginkan?” Tanyaku.
“Sebuah cinta yang tulus.” Katanya sembari tertawa kecil.
Baca Selengkapnya
Pengkhayal
“Sumpah, baru kali ini aku menemukan cowo seperti loe Ben.” Sahabatku tiba-tiba berkata demikian saat kami sama-sama sedang menikmati sensasi ketinggian dari puncak gunung, saat kami sama-sama sedang duduk-duduk di tepi jurang.
”Emang kenapa dengan gw sahabat?” Tanyaku tak mengerti.
”Loe tuh tukang khayal! Dan khayalan loe tuh terlalu jauh. Jauh banget!” Lanjutnya.
”Aku?” Tanyaku menegaskan. ”Aku pengkhayal?”
”Yoha… dan khayalan loe tuh kejauhan. Khayalan tingkat tinggi.” Katanya lagi.
”Apa ada yang salah dengan khayalan? Loe tau kan pesawat terbang itu juga awalnya muncul dari khayalan manusia yang ingin terbang. Loe ga lihat sahabat, bagaimana mobil, listrik, lampu, telepon, handphone tercipta? Semuanya berawal dari khayalan. Dari mimpi. Dan apa salah jika aku bermimpi?” Kataku membela diri.
Baca Selengkapnya
Ternyata Aku Posesif
ArieL FX: blog kmu napa ben?
baiquni: baiquni.net
baiquni: bang
baiquni: mo nanya
baiquni: bole ga
ArieL FX: iiah
ArieL FX: apa itu?
baiquni: dewasa itu gmn seh bang
ArieL FX: hahah
ArieL FX: itu susah definisikannya
ArieL FX: hnya org lain yg bisa menilai
ArieL FX: bukan diri kita sendiri
baiquni: kalo menurut abang
ArieL FX: dewasa itu ada pola berpikir yg matang
baiquni: kalo mnenurut abang
baiquni: beni dewasa ga
ArieL FX: ga
baiquni: abang liatnya darimana
ArieL FX: cara kamu berpikir
ArieL FX: yg kamu tuangkan lewat blog
baiquni: dari sana bisa dilihat ya bang
baiquni: mang ketidak dewasaan beni kelihatannya gmn
ArieL FX: yupz
baiquni: abang liatnya gmn
baiquni: beni sedang mencari arti dewasa bang
baiquni: beni pengen dewasa
ArieL FX: gag bisa di cari itu
ArieL FX: itu hanya org lain yg bisa mendefinisi dan mendeskripsikannya
ArieL FX: gag individual
baiquni: hmm
baiquni: kira2 cara orang mandang shingga bilang beni ga dewasa itu dmn bang
baiquni: dmna letak salah beni
ArieL FX: terlalu possesif
baiquni: possesif maksudnya
ArieL FX: google. posessif
lalu aku mencari di google arti dari posesif. POSESIF sering dikategorikan sebagai rasa tidak percaya diri dan tidak yakin diri, sehingga saat ada yang mencintainya dan mau menerima dirinya sebagai pasangannya, maka dia akan menguasai pasangannya karena selalu diliputi ketakutan kehilangan rasa cinta pasangan.
Baca Selengkapnya
Novelis Yusaku – Sang Psikolog
Semalam, baru kali itu aku begitu jujur pada seseorang. Dia kupanggil Afif. Sekarang sedang kuliah di psikologi jurusan klinis. Bahkan sebuah kejujuran yang tak pernah aku ungkapkan kepada orang lain sebelumnya. Tidak kepada Aik, Wendri, bahkan keluargaku pun tidak.
Sisi-sisi gelapku kuterangkan kepadanya. Siapa aku sebenarnya kujelaskan kepadanya. Hampir tak ada yang kututupi, termasuk dosa-dosaku. Semua kubicarakan.
Aku ingin berubah. Aku ingin dia menganalisa letak permasalahan diriku. Aku ingin Afif menuntunku ke tempat seharusnya aku berpijak, dan bagaimana agar aku mampu lepas dari kegelapan diriku yang bahkan diriku sendiri tak mampu memahaminya.
Perasaan kejam itu, perasaan beringas, benci, dendam, khayalan, juga rasa kasih, rasa ingin berubah, penyendiri, introvert, wajah yang penuh topeng, traumatisme, dan lain sebagainya. Aku ingin segera menghilangkan sisi-sisi burukku tersebut. Aku sangat ingin.
Ada beberapa halangan saat menghubunginya. Namun semuanya berjalan dengan lancar.
Namun semua langkah besar selalu diawali dengan langkah kecil terlebih dahulu, begitu aku katakan kepada Afif. Aku tidak mungkin berubah total dalam semalam, semua harus dimulai dari hal yang paling kecil dan mendasar. Hal yang paling fundamental.
Mungkin aku harus tetap menjaga konsultasiku dengan Afif untuk mencapai perubahan yang sempurna. Semoga saja Afif tidak merasa terganggu karena ada orang sinting dan gila yang akan berkonsultasi dengannya. Semoga saja.
Ahh…
Waktu itu semakin dekat. Waktu untuk menghapus langit dan bumi. Aku mampu menghirup udara itu, udara ketakutan anak manusia ketika matahari terbenam di timur. Sebelum hari itu tiba, aku harus segera berubah. Aku ingin saat berjumpa dengan-Nya nanti, Dia tak mengacuhkan aku atau malah berpaling. Aku ingin Dia tersenyum padaku dengan senyuman hangat dan sambutan tangan terbuka.
Tuhan, aku rindu Kamu.
Jantung yang Kau titipkan telah semakin lemah. Itu berarti waktuku untuk menuntaskan takdir kali ini akan segera usai bukan? Aku tak sabar! Tak sabar merasakan pelukan hangat-Mu.