Jadilah Bumi

Ada berapa ribu gempa yang terjadi setiap hari di bumi? Badai yang memporak-porandakan. Laut yang menelan. Namun bumi ini tidak pernah sedetik pun berhenti berputar.

Aku seharusnya menjadi bumi. Tidak terhenti ketika begitu banyak masalah menghantam bertubi. Terlebih, jika itu soal cinta.

Kesepakatan. Aku belajar banyak dari kawanku bahwa kesepakatan tidak berarti apapun!

Si nomor 34 yang telah bersepakat dengan jiwa untuk melupakan sebelas huruf toh tidak juga melupakannya. Dia masih saja mengigil jika suara sebelas huruf bergema. Lima tahun bukan waktu yang singkat, jika terhitung dari umur-umur manusia.

Sang lelaki yang mencemburui diriku. Aku rasa dia juga telah bersepakat untuk melupakan wanita idamannya. Bahkan pernah kata dalam arus kecemburuannya yang mendalam bahwa dia rela aku bersama wanitanya padahal aku dan wanitanya TIDAK ADA saling keterkaitan yang mampu membentuk cinta. Dia telah telah bersepakat untuk rela, toh juga dia gagal. Dia mencemburuiku buta.

Dan aku rasa, tidak perlulah aku bersepakat dengan apapun. Cuma akan menambah takdirku menjadi si munafik: jika berjanji dia berkhianat, jika berkata dia berbohong, jika diberi amanah dia ingkar. Terlebih memunafikkan terhadap diriku sendiri.

Aku bukanlah satu yang sedang dirundung duka. Temanku yang aneh juga sedang pilu, inginnya kuat menembus badai luka. Keinginan untuk tidak memberikan hatinya kepada selain dari yang berhak mendapatkannya. Jempol! Untuk semua lara, duka, dan nestapa.

Yang kita butuhkan adalah cahaya.

Ibnu Qayim juga manusia. Dia pernah merasa sesak yang begitu dalam, bumi serasa menyempit, dunia serasa neraka, ke mana arah memandang, di situ luka bersemayam. Ibnu Qayim juga merasakan apa yang aku rasakan. Cahaya adalah obat. Bagaimana? Jika sudah itu terjadi, kami akan menemui guru kami: Ibnu Taimiyah.

Aku. Siapa yang harus aku temui?

Di duniaku, tak ada Ibnu Taimiyah di sini. Aku cuma punya teman-teman yang mampu saling bertukar tawa. Beberapa diantara mereka aku coba selipkan cerita, bahwa duka juga terjadi padaku yang selalu tertawa. Bahkan untuk seorang yang selalu tertawa, setitik luka berarti nestapa.

Larut. Yang paling sering aku pahami dalam laraku adalah larut. Aku yang larut dalam kesedihan, membuatnya semakin mendalam. Membongkar tanah duka lebih dalam seperti manusia eskimo yang membongkar tanah untuk membangun Iglo agar terhindar dari badai dingin yang menghujam. Aku pun demikian, tanah-tanah duka aku keruk semakin dalam, padahal yang aku butuhkan bukan membangun rumah dari tanah-tanah duka, namun melakukan perjalanan ke selatan untuk bertemu matahari, bertemu cahaya.

Manusia lain bertempur dengan apapun, namun mengapa aku harus jatuh tersungkur karena cinta?

Jadilah bumi. Dia yang mampu menikmati semua lara, nestapa, dan duka namun tidak menyangsikan cahaya di setiap ufuk yang melewatinya. Semua tangis itu sebenarnya adalah kematian, dan setiap kematian adalah jalan baru bagi kehidupan. Setiap tangisan seharusnya menjadikan kita lebih kuat, menjadi lebih hidup, dan mampu memaknai setiap tetes kehidupan.

Tak ada yang salah dari gugur-gugur pohon. Kelak daun mati yang terurai akan menjadi humus bagi tanah, menjadi makanan baru bagi bibit-bibit masa depan. Dan jika pun kemarau tandus menyerang setahun, kelak semua akan terhapus pada satu episode hujan walau barang sehari. Tidakkah engkau memperhatikan?

Jadi, tak perlu kita bersedih terhadap satu episode yang membangun luka serta air mata. Tidak perlu juga kita menyayat nadi cuma karenanya. Belajarlah bersabar untuk jejak langkah ke depan yang mungkin akan lebih mengandung bara. Belajar bersukur bahwa, setelah kesedihan akan muncul kebahagiaan.

Sekarang sedang hujan. Angin kencang menerpa di mana-mana. Dingin sekujur badan. Namun, apakah semua itu membuat kita lupa, lepas setelah awan hujan pergi, matahari akan kembali. Matahari terus bersinar, hanya saja tertutup sinarnya karena awan hujan. Badai pun akan pergi, karena telah ditetapkan jalan-jalannya pada setiap perjalanan. Dingin pun akan berganti hangat.

Jadilah bumi. Terima semua kesedihan karena kita selalu berharap, selalu ada cahaya di hari depan.

Incoming search terms: