Memeluk Ayah

Ada satu keinginan yang tidak berani aku lakukan, yaitu memeluk ayahku dari belakang terus aku katakan: “Ayah, aku sayang kamu”

Saat umurku sudah semakin tua dan dewasa, aku semakin menjauh dari orang-orang sekelilingku. Aku malu untuk memulai pembicaraan, atau memulai sesuatu yang bersifat istimewa. Pada ulang tahunku yang ke 25, aku dihadiahi sebuah kue besar berwarna coklat, manusia bumi menyebutnya kue tart atau blackforest. Saat itu, aku sangat malu, malu dalam bentuk yang positif yang orang-orang inggris mengatakannya sebagai blushing, sebuah episode yang jika dianimasikan adalah pipimu menjadi merah seperti buah strawberry.

Ayah adalah seorang yang sangat perhatian kepada keluarga ini. Walau terkadang, yang namanya manusia ada kalanya bisa jadi menyebalkan tetapi hal itu seperti setitik debu dibandingkan dengan semua hal yang telah dia lakukan untuk keluarga ini.

Walau samar, namun aku masih mengingat saat umurku beranjak remaja, entah mengapa aku memintanya kembali menggendongku di belakang punggungnya. Dulu sekali, saat aku masih begitu kecil aku suka digendongnya di belakang punggungnya. Kadang, aku suka digendong saat hendak tidur atau bangun tidur.

Baca Selengkapnya

Hal-hal Kecil Yang Berarti

Terkadang ada banyak hal-hal kecil yang menjadi kerikil dalam perjalanan kita. Terkadang pula, hal-hal kecil itu pula yang menjadi batu sandungan, namun tidak pula jarang yang kecil menjadi awal sebuah kejuatan besar, atau menjadi bumbu-bumbu indah dalam sebuah kehidupan.

Hal-hal kecil yang tumbuh, dipupuk, dibangun, kelak suatu saat akan menjadi besar. Aku masih mengingat ketika seseorang menceritakan kepadaku kisah Bilal. Nabi, mendengarkan terompah Bilal di surga, karena hal kecil yang secara kontinu dilakukannya, yaitu shalat sunnah setelah wudhu.

Atau masihkah engkau mengingat, tentang seorang pelacur yang rela turun ke dalam sumur terdalam untuk memberi minum seorang anjing yang kehausan? Perbuatannya itu mengantarkannya ke surga, walau mungkin dia adalah seorang pezina.

Dan masih berbekaskah ingatan tentang seorang wanita di zaman Rasulullah yang harus masuk neraka hanya karena menyiksa seekor kucing mati kelaparan, padahal dia adalah seorang ahli ibadah, juga seorang yang gemar berpuasa.

Ada banyak hal yang kecil yang ada di dunia ini terkadang walau tidak terlihat penting namun menjadi kunci penting. Terlebih hal-hal kecil yang dilakukan secara berketerusan.

Baca Selengkapnya

Tentang Bidadari Ketiga

Rasanya lama sekali, aku tidak memanggilnya dengan sebutan bidadari ketiga. Aku sekarang lebih sering memanggilnya dengan sebutan kamu, atau cuma memanggil dengan sebutan namanya.

Aku kembali ke masa-masa di mana aku memiliki alasan untuk memanggilnya bidadari ketiga. Dia mengajarkan aku apa yang tidak diajarkan oleh kedua bidadari sebelumnya: “mimpi, harapan, keinginan, kehidupan

Akhir-akhir ini aku kembali sering mengunjungi blognya. Kemarin-kemarin aku mempuasakan diri melihat apa yang ditulis olehnya. Sering sekali, tulisannya membuat jantungku berdetak lebih kencang karena seringnya aku menangkap sesuatu dengan tafsiran yang berbeda dengan inti dari sebenarnya yang tertulis. Kadang aku suka cemburu ketika dia menuliskan tentang salah seorang tokoh, atau berkenaan dengan seseorang.

Dari dua bidadari sebelumnya, cuma bidadari kedua yang aku suka. Sedangkan bidadari pertama bagiku adalah seorang teman dekat. Aku menyukai bidadari kedua karena dia memang “good looking” atau manis, yang namanya juga manusia pasti kita menyukai hal yang indah-indah. Tetapi, pada bidadari ketiga, aku menyukainya bukan karena fisik. Awal mengenal bidadari ketiga, aku tidak mengganggap bahwa dia cantik, bahkan sama sekali tidak tertarik.

Baca Selengkapnya

Saya Mencintai Anda

Saya kaget saat membaca tulisan baru yang ada di wordpressnya. Tentang perasaan tertekan, dan lega yang telah pupus hilang. Padahal, baru semalam saya menemukan kembali rasa bahagia itu bersamanya namun mengapa sontak bahagia itu hilang.

Saat membaca tulisannya, saya merasa bertanggung jawab atas apa yang saya tulis sebelumnya, tentang “Ketakutan Manusia”. Di sana saya mengambil sampel seorang wanita yang dilanda duga dan keraguan apakah melanjutkan hubungan dengan seorang lelaki atau tidak. Mungkin pada alinea lelaki paling tidak suka didiamkan, dia merasa bahwa dialah aktor tunggal itu.

Saat membaca tulisannya, saya bergetar. Seperti ada sedikit kerikil di dalam dada ini, rasanya agak-agak sakit, dan air mata pun tumpah. Lab sedang sepi, cuma ada saya seorang sehingga saya tidak perlu malu untuk menangis sepuasnya.

Lagi-lagi, saya menyakiti dirinya. Memohon maaf, lantas kembali menyakiti.

Baca Selengkapnya