Manusia Perahu Adalah Saudara Kita

Muslim RohingyaPermulaan tahun 2009, pekan kedua bulan Januari dan awal Februari, Aceh kedatangan ratusan tamu luar negeri yang dibuang oleh negaranya sendiri. Sungguh malang nasib tamu yang terkenal dengan sebutan “manusia perahu” ini. Di negeri asalnya disiksa dan dizalimi, di negeri tetangga diusir dan dibuang. Dan sekarang, tamu yang merupakan Muslim Rohingya itu terdampar diperairan Sabang dan Idi Rayeuk, Nanggroe Aceh Darussalam. Akankah mereka akan mengalami nasib serupa dari pemerintah kita?

Manusia tanpa negara

Etnis Rohingya adalah orang-orang tanpa kewarganegaraan yang mendiami kawasan perbatasan antara Myanmar-Bangladesh. Di Myanmar mereka mengalami penganiayaan dan siksaan yang brutal dari rezim junta militer. Inilah yang memaksa mereka menjadi manusia perahu yang berlayar dari satu negara ke negara lain, terutama Thailand, Malaysia dan Indonesia, untuk mencari tempat penghidupan yang lebih baik. Selain Myanmar, Thailand adalah negeri yang paling tidak bersahabat dengan orang Rohingya. Pemerintah negeri yang dulu bernama Siam itu selalu bertindak keras dan kasar bahkan mengarah ke pembantaian.

Baca Selengkapnya

Negeri di Atas Awan

tafa_putra: Mohon Doa Restu dan Kehadirannya pada 11 Februari 2009 akad nikah kami Mustafa Saputra Dengan Silfia Meri Wulandari di Mesjid Taqwa Blangkejeren Kab. Gayo Lues
baiquni: :p
baiquni: ga jadi ama dia kan bang
baiquni: :-<
baiquni: kalo jadi beni patah hati
tafa_putra: yeeeeeeee
baiquni: alhamdulillah
tafa_putra: siapa tu ben
tafa_putra: akhwat di YM kamu
tafa_putra: jilbab putih
tafa_putra: ntar kubilang ama dia
tafa_putra: beni slingkuh
baiquni: dia ndak suka sama beni bang
baiquni: 🙂
baiquni: mungkin dia telah menemukan sosok pahlawannya
baiquni: ada seh keinginan beni pengen dia jadi pendamping beni
baiquni: tapi apa pantas? seorang baiquni yang terlalu sering futur
baiquni: dia jauh di atas awan
tafa_putra: ya
baiquni: merindukannya seperti membangun negeri di atas awan
tafa_putra: karna beni orang miskin
baiquni: 🙂
baiquni: karena itu juga
baiquni: takdir beni bukan takdir orang kaya
baiquni: beni pengen istri beni kelak orang yang tahan hidup miskin
tafa_putra: ya

Baca Selengkapnya

Kripik Ungu

Semalam, aku berhenti di Sare setelah perjalanan panjang dari Lhokseumawe menuju Banda Aceh.

Jam satu pagi, mamak turun dari mobil Avanza kami. Saat itu sedang hujan lebat, teramat lebat. Mamak turun untuk membeli kripik yang khas yang sering dijual di Sare. Aku hanya melihat, aku menunggu.

Kripik ungu…

Baca Selengkapnya

For Palestine

Tadi siang, aku mendengarkan khutbah Jumat dari laring-laring suara khatib di mesjid Al-Istiqamah, Komplek Arun, Lhokseumawe.

Awalnya aku terkantuk-kantuk mendengarkan khutbah itu, entah setan apa yang bermukim di tubuhku atau mungkin ini pengaruh sakit kepala teramat sangat yang menderita cuma pada sebelah kepalaku. Migrenku memang kumat saat itu.

Namun pada pertengahan Jumat, kantukku sirna. Yah, seperti matahari yang menghapus mendung. Sirna begitu saja. Ketika gemuruh suara khatib menderu menyerbu memberontakkan rasa kantukku. Aku terkesiap.

Baca Selengkapnya

Sang Warna

Sang WarnaAku menyebutnya, Sang Warna.

Sang Warna merupakan sandi yang kuberikan seperti sandi-sandi lain yang pernah kutancapkan kepada orang-orang yang telah melukis namanya dihatiku ini. Seperti sandi MRN, sang puteri, taman surga, atau bidadari.

Mengapa harus Sang Warna? Karena aku tidak mengetahui siapa namanya.

Aku menyebutnya sesuai dengan warna jilbab yang dipakainya pada hari itu. Terkadang aku menyebutnya si hijau lumut, si hitam, si putih, si merah hati, atau si coklat.

Aku bertemu dengannya saat awal kerja praktek (KP) di Arun LNG. Dia peserta magang di sana, telah lebih awal dariku. Dia menjemput kami di balik gerbang Arun yang kokoh, bagai seorang bidadari yang menjemput kami dari balik-balik pintu surga. Aku terpesona.

Baca Selengkapnya