“Tolong kenanglah aku.” Pintanya suatu ketika.
Dan aku menggeleng. Tidak! Tegasku dalam ucap gerak tubuh itu. Aku tidak ingin mengenangmu, walau engkau adalah yang paling indah jika kukenang. Aku belum lagi pupus mencintaimu, jangan buat aku menyerah sebelum sebuah ucap kata pinta meminangmu tiba. Jikalah itu telah sampai, dan engkau pun di waktu itu menolak pintaku membangun rumah di antara setengah agama, maka aku rela. Saat itu, engkau, yang pantas untuk dikenang.
Tegakah engkau merobek sayap hatiku? Mencabiknya menjadi serpihan, lantas memintaku cuma mengenang. Mengapa tak kau minta saja aku mendaki Nepal, berdiam lama dengan mata tertutup di sana. Mungkin suatu laksana aku akan menjadi Budha, tercerahkan, dan karmaku dalam mengingatmu hilang ditelan Nirvana.
Atau kau buang bungkam, untuk kata aku menitilah api suci para Brahmana, seperti ketika Sinta berjalan di sana ketika Rama menguji masihkan suci cinta Sinta selepas dia disekap Rahwana. Dan kisah pun berakhir, tak pernah lagi terdengung lanjutan tentang Sinta selepas dia meniti api suci. Terbakarkah ia oleh cinta, atau cinta meredam api.