Parcel

Di rumah Cekpi ada satu kiriman parcel. Tadi pagi, waktu kami sahur parcel itu dibuka. Sudah beberapa bulan ini aku tinggal di rumah Cekpi karena rumahku sedang direnovasi. Semua rumah dibobok, serta hendak dinaikkan jadi lantai 2 (dua). Padahal, arsiteknya sudah mengatakan ongkos untuk membobok dan renovasi rumah serta menaikkan menjadi lantai 2 ongkosnya lebih mahal daripada membuat sebuah rumah baru, tetapi karena mamak sudah kerasan tinggal di lingkungan Kuta Alam, maka alternatif yang lain tidak diambil.

Berbicara tentang parcel, ingatanku terbang ke beberapa tahun yang lalu. Dulu, aku suka sekali yang namanya hari raya. Mengapa? Karena jika sudah hari raya dapat dipastikan rumah kami akan kebanjiran puluhan parcel dari orang-orang. Parcel yang paling aku suka dan kutunggu adalah dari cabang Aceh Utara atau Lhokseumawe, berkotak-kotak minuman bersoda seperti Fanta, Coca-cola, dan Sprite dikirim dari sana.

Dulu, ketika ayahku masih menjabat sebagai direktur bank di Bank Pembangunan Daerah, hampir setiap hari raya rumah kami yang kecil dipenuhi parcel-parcel. Hari raya juga berarti bahwa kami harus menyiapkan rumah dengan ekstra keras, karena ada satu tradisi dari keluarga BPD, yaitu mereka akan berbondong-bondong berombongan datang ke rumah para pucuk pimpinan tertinggi institusi tersebut.

Menyenangkan sekali rasanya mendapatkan parcel-parcel dari kantor-kantor cabang ke rumah, itu belum lagi kiriman dari pihak personal. Dulu, sama sekali tidak ada larangan untuk mengirimkan parcel. Parcel menjadi salah satu gaya hidup, bukan sesuatu yang dianggap sebagai suap.

Baca Selengkapnya

Ayo Tersenyum!

Senyum itu indah, walau terkadang teramat pahit melakukannya. Apalagi jika sesuatu yang terlalu menyakitkan dada, bahkan ketika engkau menangis. Senyum itu sungguh teramat indah.

Dia menjadi diam, lebih diam dari biasanya. Aku cuma tahu, dia sedang menangis. Begitu pun aku di sini, aku menangis.

Sulit memang rasanya jika seseorang yang kita cintai namun ditolak oleh orang-orang sekitar kita cuma karena mereka belum mengenal dia. Rasanya begitu sesak, bahkan bergalon-galon air mata rasanya tidak juga cukup untuk menutupi seluruh lara yang mendera.

Yang harus kamu pahami bahwa, mereka melakukan itu karena mereka mencintai dirimu. Ribuan kali rasa cinta lelaki itu terhadapmu tiada mampu menggantikan rasa cinta ibumu kepadamu. Ikutilah ibumu, sebelum ucap kata dengan seorang lelaki mengikatmu, kamu masih menjadi milik ibumu. Kelak, ketika ucap kata terikat, baru engkau akan menjadi milik lelaki itu.

Baca Selengkapnya

Aku Munafik

Beberapa hari ini aku merasa menjadi munafik. Mengapa? Karena ada banyak janji yang tidak bisa kupenuhi dan aku terus berjanji.

Sore kemarin, Ibnu telepon apa aku bisa bertemu dengannya di mesjid Oman selepas Ashar? Aku iyakan dengan menjawab iya. Namun apa yang terjadi? Karena terlalu asik menonton film “The Blind Side” aku terlupa untuk pergi ke mesjid dan shalat berjamaah di mesjid Oman. Film selesai dan aku melihat jam sudah pukul 16:00 lewat. Aku sadar namun aku menunda.

Sadar hal tersebut, selesai shalat aku menelepon Ibnu namun ternyata terjadi masalah jaringan. Telepon tidak diangkat dan terus bernada sibuk dan mengatakan bahwa Ibnu tidak dapat dihubungi. Baru setelah beberapa lama, setelah aku berada di Aceh IT Center, aku dapat menghubungi Ibnu.

Aku kecewa sekali dengan diriku sebagai seseorang yang tidak mampu menepati janji. Aku merasa, aku ini munafik.

Baca Selengkapnya

Cinta Tanpa Kelamin

Ya, aku mencintai lelaki itu. Jangan berburuk sangka bahwa ini adalah percintaan sejenis. Bukan, ini adalah cinta tanpa kelamin.

Lelaki yang kucinta itu adalah lelaki yang selalu kurindu. Aku teramat salah kepadanya. Cintaku yang membuta, menjadikan nasipnya nestapa. Aku terlalu cinta, tak kusadari telah terlalu jauh aku mengguncang pribadinya. Aku salah. Aku berdosa.

Cintalah yang menggerakkan aku agar dia mendapatkan cintanya. Namun, mungkin caraku dianggapnya salah. Namun, untuk segala prasangkanya itu kepadaku, dia juga salah. Tak pernah ada di dalam hatiku mencintai wanita yang sedang dicintainya. Tak pernah sekalipun.

Baca Selengkapnya

Reruntuhan Langit-langit Biru

Langit-langit biru runtuh, tepat di mataku. Langit berganti rupa, hitam lebih pekat dari malam. Bintang-bintang pun padam. Matahari telah terhapus dari gugus galaksi. Bumi, negeriku, seolah padam dan tersedot lubang hitam. Segala hal suram, tak ada ruang bernapas. Bahkan oksigen pun menjadi sesuatu yang tak mampu diterima paru.

Ah cinta. Segala hal yang kusebut di atas semerta berubah warna. Bahkan cinta membuat polusi nuklir menjadi seindah pupuk kompos. Menghidupkan bunga segala bunga. Aku yang sepi terbangun. Bukankah cinta adalah anugerah?

Berapa lama lagi harus kutahan. Sangat hendak aku bilang: engkaulah segala napas mengapa aku tetap hidup, denyut-denyut yang tak terbantahkan mengaliri tiap pori kulitku. Warna dalam setiap dimensi hidup.

Baca Selengkapnya