Learn From The Experts: Marketing Online with Anne Ahira

Anne Ahira
Anne Ahira. Tadi siang, dari pukul 13.00 sampai 17.30, di Gedung AAC Dayan Dawood, Beswan (Beasiswa Djarum Plus) mempersembahkan sebuah seminar yang luar biasa sekali bertajuk Learn From The Experts: Marketing Online with Anne Ahira. Sebelumnya sekitar dua minggu yang lalu aku melihat sebuah invite events tentang acara ini di halaman facebookku. Melihat nama Anne Ahira, aku langsung setuju untuk mengikuti kegiatan ini dari awal sampai akhir.

Dari janji pukul 13.15 WIB mulai acara dengan skema waktu pendaftaran ulang mulai dari pukul 12.00 WIB s.d 13.00 WIB, ternyata acara molor mulainya pukul 14.00 WIB. Sesudah itu, setelah kata sambutan oleh Pembantu Rektor, juga ada sesi presentasi perkenalan apa itu Beasiswa Djarum Plus atau yang sering dikenal dengan nama Beswan. Beasiswa yang cuma diberikan kepada mereka dengan umur di bawah 21 tahun, sudah menyelesaikan semester 4 dan memasuki semester 5, ber-IPK 3.0 ke atas. Dari segudang syarat tersebut, aku jelas tidak layak lagi untuk mengambil beasiswa ini.

Baca Selengkapnya

Cemburu

Aku cemburu. Tetapi bukan kepada manusia. Aku cemburu sama blogku yang lain yang beralamat di http://blog.baiquni.net. Kenapa? Karena ternyata blog itu lebih banyak pengunjung daripada blogku yang ini. Padahal blog yang di sana sengaja jarang aku update dibandingkan blogku yang ini.

Kemarin aku melihat, statistik pengunjung blogku di sana sekitar 200-an orang. Sedangkan pengunjung di sini masih berkisar 100-an orang.

Padahal aku ingin menurunkan alexa blogku ini. Memang sih, di blogku yang di sana beberapa artikel tentang komputer dan pemograman, sedangkan di sini isinya cuma curhat-curhat-curhat dan sesekali tentang apa yang aku pikirkan.

Tetapi, yang jelas aku cemburu.

Baca Selengkapnya

Hujan Yang Aneh

Hujan yang aneh. Biasa orang menyebutnya hujan lokal. Sudah dua kali aku diserang. Dia yang turun dari langit yang membuatku kuyup. Basah. Lantas kedinginan.

Tadi aku di FLP, menjaga sekretariat untuk pendaftaran LMuS (Lomba Menulis Untuk Siswa). Kebetulan, kuitansi dan anak klip sudah habis, jadi aku ditugaskan untuk membeli peralatan tersebut.

Seorang anak FLP, yang berjenis kelamin laki-laki dan bernama Syukri Aba ternyata membawa sepeda. Berbeda dengan aku dan Ibnu yang membawa Honda. Di sini, di Aceh, kami lebih sering menyebutkan sepeda motor itu dengan Honda. Terserah mau merek apa, baik itu honda Yamaha, honda Supra, atau honda Suzuki. Pokoknya yang orang Jakarta sebut motor, atau sepeda motor, di sini disebut honda.

Jadi, aku yang sudah lama tidak bermain sepeda meminjam sepeda milik si Syukri Aba. Aku pun berjelajah mencari fotokopi terdekat dengan FLP. Di daerah Lampriet, akhirnya ada sebuah fotokopi yang buka. Tokonya kecil, hampir seluruhnya cuma terbuat dari kayu.

Lepas setelah aku membeli anak klip dan kuitansi, aku pun mencari toko swalayan terdekat. Aku membeli Pulpy Orange. Nah, kesialan bermula di sini. Saat hendak pulang, hujan pun turun. Tanpa komando, langsung menderas. Aku pun tiba di FLP dalam keadaan tenggelam.

Baca Selengkapnya

Gelisah

Pulang dari kampus tadi, sekitar jam 14.00 WIB. Entah mengapa hatiku deg-degan. Gelisah.

Aku sendiri tidak paham, dari mana datangnya gelisah mengapa dia harus sampai hadir. Aku cuma tahu, debar jantungku tidak enak. Terasa sekali tanganku gemetar dan mendingin. Segala hal menjadi tidak enak. Duduk tidak nyaman, tidur pun tidak menyenangkan. Kepala ini pusing sekali. Sangat.

Entah apa yang terasa. Apakah ini yang disebut firasat buruk?

Rasaku tidak. Tidak ada firasat buruk apa-apa. Aku menduga bahwa ini efek salah makan, atau mungkin salah minum. Kafein sedang mencoba merusak tubuhku. Seingatku tadi sekitar pukul 12.00 WIB, di kantin aku makan sepiring Indomie basah dicampur telur dan segelas besar Cappucino dingin.

Aku memang mulai alergi kopi. Dulu tidak, sampai akhirnya aku mendengarkan cerita tentang Aik yang bagaimana dia begitu alergi terhadap kopi. Seteguk kopi bisa membuat dia harus kehilangan napas dan begitu gelisah.

Baca Selengkapnya

Mencari Binaan

Kata murabbi-ku, dakwah ini perlu regenerasi, karenanya kelompok kami diwajibkan untuk mencari binaan, minimal satu orang. Kita tidak cukup menjadi orang saleh, namun dalam agama dakwah ini kita dituntut agar menjadi bekal bagi kesalehan orang lain. Mungkin dakwah ini akan berjalan di tangan kita, namun jika kita telah habis masa maka akan berhenti jika tidak ada proses berkelanjutan dalam membina suasana tarbawi ini.

Ketika dipaparkan hal demikian, aku cuma terdiam. Diam yang mendalam.

Aku merenung. Jangankan untuk memberi makan hati orang lain, untuk memberi seteguk iman kepada hatiku sendiri saja aku kerepotan. Aku compang-camping. Mungkin tanpa berada dalam lingkungan orang-orang yang ketika berada di dekat mereka kita menjadi tenang, aku akan lebih liar dari saat ini. Bahkan ketika berada bersama mereka, aku masih belum lagi mampu menegakkan muka.

Baca Selengkapnya