Saya menemukan video ini dari blognya Andrie, saya harap semoga video ini berguna untuk mengajari kita agar jangan menyerah. Sebagaimanapun kita…
Kategori: Cerita Hati
Akhir Sebuah Kisah
Lelaki itu terbangun, lagi-lagi disepertiga malam menuju pagi. Mata lelaki itu tiba-tiba saja terbuka, tak ada reaksi yang memaksanya. Cuma tiba-tiba. Tidak juga karena terkejut oleh mimpi. Memang cuma tiba-tiba, secara otomatis, seperti sudah terprogram.
Sesekali dikejap-kejap matanya yang masih terlalu asing dengan spektrum cahaya yang berpendar dari lambu Philips 15 wattnya itu. Cahaya yang terang untuk selalu membuat silau matanya, padahal dulu dia telah terbiasa dengan lampu neon biasa.
Lelaki itu duduk. Badannya membungkuk. Ujung tumit lengannya ditekan ke mata, berusaha untuk menetralisir rasa buram karena cahaya. Rasa pusing yang berat membatui kepala.
Lantas setelah buram mulai memudar, lelaki itu kembali membaringkan badannya. Dipandangnya langit-langit kamar berwarna putih. Pikirannya melayang. Satu persatu benak mulai muncul. Hantu-menghantui mengumpul galau, lelaki itu meringis, matanya mulai berair, dia menangis.
Debur Ombak
Mengapa lautan terus berombak?
kepan mereda
seperti aliran sungai yang mengalir
kemana dia bermuara
Lelaki itu, lelaki yang menemani 23 tahun hidupku berdiri di ujung ombak, sedikit kakinya berpasir, basah. Telah separuh kain celananya pun ikut basah, namun dia seperti tidak hirau. Tidak juga dia mengangkat celana itu hingga ke lutut seperti yang orang-orang lakukan. Bagiku, dia selalu asing.
Kami berdua berjalan menyusuri bibir pantai, bibir yang tak lagi perawan. Di sana-sini penuh sampah. Mulai dari plastik, botol minuman, tali nilon, bahkan sisa arang yang belum lagi habis terbakar. Orang-orang sering mengadakan camping di sini, bagi mereka itu seperti menyatu dengan alam, tetapi mereka tidak pernah bersatu. Mereka cuma menjajah alam, menjamahnya lantas mencampakkan.
Menikmati Kesendirian
Jalan hidupku dituliskan dengan aksara sepi dalam buku panduan takdir. Aku melihat, kata-kata sepi, sendiri, dan terasing mencakup hampir seluruh buku takdirku. Tuhan menuliskannya dengan santai, seperti sedang melukis, dengan senyum; memberi aku takdir kesepian.
Aku pun tersenyum. Pernah aku bertanya, seperti seorang anak lugu nan polos. “Apa itu sendirian Tuhan?”
Tuhan mendekapku, membelai rambutku pelan lantas bersuara lembut, “sendiri adalah ketika engkau tidak bersama seorangpun.”
“Mengapa aku tidak ditakdirkan untuk bersama seseorang?” tanyaku.
Karena Engkau Berharga
Di kesepian malam, entah mengapa jemari tanganku terus tergerak. Di antara berbagai jejaring yang kutelusuri, aku mengingat satu nama. Sebuah nama yang bagiku begitu berharga.
Aku mengetikkan www.google.com kemudian aku mengetikkan namanya. Sebuah nama yang terus menjajah alam pikirku selama ini, sebuah nama yang mampu membuat aku merenung hingga pagi berganti, sebuah nama khayal yang kutahu tak akan mampu kugapai. Bidadari ketiga.
Aku mengetik namanya. Aku menunggu. Google memberiku hasil, sederetan kunjungan persinggahannya di dunia maya, atau berderet-deret namanya di website yang memberitakan tentang dia.
Dia sama sepertiku, tidak menggunakan kekuatan anonymous di dunia maya. Aku melihatnya mengetikkan nama-namanya secara utuh, melihatnya memberikan email dan akses bagaimana cara menghubunginya. Aku tersenyum dengan semua itu, betapa utuhnya kami memiliki sifat yang sama. Aku seperti bercermin. Aku melihat aku dalam dirinya.