Asing!

Mereka yang tidak memperdulikanmu maka tinggalkan. Mereka yang mengiringi jalanmu maka tinggikan. Menghabiskan hidup terhadap mereka yang menjadikanmu asing cuma menghabiskan waktu.

Kamu lebih berharga daripada apa yang mereka sangkakan.

asing
sumber: peperonity.com
Aku tidak sendiri. Ya, benar! Aku tidak sendiri menghadapi perasaan terasing ini. Ada banyak orang yang mendera perasaan yang sama seperti yang aku alami. Perasaan keterbuangan atau ketidakpedulian.

Dalam kehidupan sosial, tentu kita memiliki seorang, dua, atau tiga bahkan lebih, mereka yang kita sayangi. Kita memiliki orang yang kita perhatikan secara lebih dalam porsi dibandingkan dengan yang lain. Kita memberikan kasih sayang kita kepada mereka secara utuh. Dan secara sadar, kita mengharapkan perlakuan yang sama. Sayangnya, hal itu tidak kita dapatkan.

Manusia. Ah, manusia.

Terkadang dunia ini berjalan tidak seperti yang kita harapkan. Terkadang, manusia datang dalam hidup kita seperti datangnya kumbang pada tanaman. Habis madu lantas sudah. Kita pun nelangsa saat ditinggalkan. Simbiosis yang terjadi bukanlah mutualisme, namun parasitisme, atau paling tidak komensalisme.

Kita pun harusnya mengaca diri. Apakah kita juga ternyata melakukan hal yang sama. Mereka yang memberikan cintanya kepada kita secara lebih malah kita tinggalkan. Kita menjadi asing dengan kasih sayang. Padahal, saat kita mengharapkan ada pintu yang terbuka, kita menjadi terpaku yang tanpa kita sadari ada pintu yang lain sedang menunggu kehadiran kita.

(lebih…)

Aku Kesepian

Aku sering merasa kesepian. Selalu. Hidupku cuma terbentuk dari ruang 3×3 meter dengan pendingin ruangan yang sesekali meneteskan air karena bocor. Berkeliling tumpukan kertas yang terserak. Kabel yang semberaut. Air mineral. Dan tisu-tisu bekas yang belum juga masuk ke dalam tong-tong sampah terdekat.

kesepian
http://yekaputra.blogspot.com
Sore kemarin. Di bawah teduh awan yang mendung, dalam langit yang mulai gelap dan menghitam, kepada seorang teman yang telah aku anggap dekat, aku katakan: AKU KESEPIAN. Aku katakan perasaanku tentang hati orang-orang, mereka yang mendekat saat kita menjadi hebat dan tidak ada yang mengunjungi saat kita bukan lagi apa-apa.

Aku melihat manusia dengan sudut pandang yang sinis. Terkadang ironis. Hiperbola. Personifikasi. Oh, sudahlah, ini kita bukan bercerita tentang majas. Aku melihat manusia sebagai sekelompok makhluk yang hidup dari satu kepentingan kepada kepentingan yang lain. Saat dia perlu, dia hadir, saat tidak, maka semuanya serasa sampah.

Tidak semua memang. Sebagian hadir dalam wujud yang tulus, namun kebanyakan memang demikian praktiknya. Sosokmu ada karena kamu itu dianggap penting.

(lebih…)

Sepi yang Menghujam

Aku sepi menjalar sumsum. Ingin bersamamu hingga akhir zaman. Aku tak kuasa untuk temukan jasad. Maaf, karena cuma sebegini aku mampu cinta.

Kesepianmu adalah kesepianku juga. Kekalutanmu adalah kekalutanku juga. Demikianlah.

Bukankah Tuhan pernah berkata, jika Aku telah cinta maka Aku akan menjadi matamu, Aku akan menjadi kakimu, Aku akan menjadi tanganmu. Sayangnya, aku tak punya kuasa sebisa Tuhan. Aku cuma mampu merasa apa yang engkau rasa. Ketika jenuh melandamu, aku pun rasa. Ketika kekalutan menyertaimu, aku pun ikut gundah. Salahkah?

(lebih…)

Pagiku Segelap Malam

Orang-orang kata, pagi itu adalah cerah tetapi bagiku pagi tak ada beda dengan malam. Pagi bagiku tetap sama kelam dengan malam yang hitam tanpa bulan dan bintang.

Aku hadir ke dunia dengan tangisan. Sebuah penolakan awal untuk dilahirkan, namun manusia bersorak, mereka bergembira. Kau tahu mengapa? Karena mereka menertawakanku, mereka menikmati aku pada suatu ketika, saat kesepian hadir lebih mengkekalkan daripada bayang-bayang manusia tentang tsunami atau ledakan krakatau yang memisahkan Sumatera dan Jawa.

Aku menghela napas. Mampu kurasa aliran-aliran kesunyian, sepi, hampa menjalari pelosok pori-poriku, menggatali sekujur epidermis dan menggoyang-goyang bulu-bulu kulitku. Demikian kekal adanya, tak akan mampu tersangsikan.

Sekujur pagi aku meringguk. Membalutkan lenganku pada kedua ujung lutut yang kuangkat dalam posisi jongkokku. Kepala tunduk dalam kesendirian. Mengertikah engkau bagaimana pekatnya gelap? Lebih pekat daripada hitam saat malam tak berbulan dan berbintang.

(lebih…)

Cahaya, Sepi, dan Waktu

Diantara kelam, ku berharap engkau datang
andai kau tahu bagaimana rasa kesepian
atau ketika malam tak berbintang
dan waktu berhenti berjalan bersama gerakan
seluruh dunia, bayu, dan rotasi terhenti
kita berirama bersama diam

Pernahkah engkau melihat bagaimana cahaya melesat?
diantara pertentangan gelombang dan partikel
tak peduli dia diantara ruang hampa
atau ketika hitam menyelimuti semesta
cahayaku tak pernah sampai ujung surga

(lebih…)