Poligami dalam Padangan Syariah

Sebuah tulisan menarik tentang poligami, dengan tinjauan yang cukup berimbang dari berbagai sisi. Sumber : http://www.eramuslim.com/ust/nkh/4573eb6e.htm
Assalaamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh.

Pak Ustadz, bagaimana sebenarnya hukum poligami di Islam, apakah ini syariatkan? Kenapa manusia sekarang sepertinya sangat buruk menganggap orang yang mampu melakukan poligami, seakan-akan poligami ini suatu yang tidak manusiawi?

Pengaruh pola pikir orang-orang kafir yang ingin merusak Islam ini telah diadopsi oleh umat Islam itu sendiri. Orang-orang yang tidak melakukan poligami tapi melacur, selingkuh, berzina malah tidak dijadikan masalah, padahal nyata-nyata itu suatu kemaksiatan, tetapi yang halal malah mereka hina?

Bagaimana seharusnya umat Islam menyikapi hukum poligami ini?

Wassallamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh

Ahmad Wanto
aw at eramuslim.com

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Sebelum kita bicara tentang pandangan syariah Islam tentang poligami, kita harus pahami terlebih dahulu bahwa poligami sudah ada jauh sebelum zaman kedatangan agama Islam.

Boleh dibilang bahwa poligami itu bukan semata-mata produk syariat Islam. Jauh sebelum Islam lahir di tahun 610 masehi, peradaban manusia di penjuru dunia sudah mengenal poligami, menjalankannya dan menjadikannya sebagai bagian utuh dari bentuk kehidupan wajar. Bahkan boleh dibilang bahwa tidak ada peradaban manusia di dunia ini di masa lalu yang tidak mengenal poligami.

Lebih jauh, kalau kita buka sejarah umat manusia, sesungguhya peradaban kita sudah mengenal poligami dalam bentuk yang sangat mengerikan. Misalnya, seorang laki-laki bisa saja memiliki bukan hanya 4 isteri, tapi ratusan isteri.

Dalam kitab orang Yahudi perjanjian lama, Daud disebutkan memiliki 300 orang isteri, baik yang menjadi isteri resminya maupun selirnya. (silahkan baca buku Ruang lingkup Aktivitas Wanita Muslimah, hal. 184 oleh Dr. Yusuf Al-Qaradawi).

Dalam Fiqhus-Sunnah, As-Sayyid Sabiq dengan mengutip kitab Hak-hak Wanita Dalam Islam karya Ustaz Dr. Ali Abdul Wahid Wafi menyebutkan bahwa bila kita runut dalam sejarah, sebenarnya poligami merupakan gaya hidup yang diakui dan berjalan dengan lancar di pusat-pusat peradaban manusia.

Bahkan bisa dikatakan bahwa hampir semua pusat peradaban manusia (terutama yang maju dan berusia panjang), telah mengenal poligami dan mengakuinya sebagai sesuatu yang normal dan formal. Para ahli sejarah mendapatkan bahwa hanya peradaban yang tidak terlalu maju saja dan tidak berusia panjang yang tidak mengenal poligami.

Bahkan agama Nasrani sekalipun mengenal dan mengajarkan poligami. Berbeda dengan apa yang sering diungkapkan hari ini, namun Nabi Isa dan para pengikutnya mengajarkan dan mengakui poligami.

Kalau pun para pengikut kristiani sekarang ini seolah-olah anti dengan poligami, menurut ahli sejarah, karena saat itu penyebaran Nasrani terjadi di Romawi dan Yunani, sementara kedua peradaban ini memang tidak mengenal poligami, jadilah akhirnya seolah-olah agama Nasrani itu melarang poligami. Sesuatu yang sebenarnya bertentangan dengan sumber asli ajaran mereka sendiri.

Ustaz As-Sayyid Sabiq menyebutkan bahwa peradaban maju seperti Ibrani yang melahirkan bangsa Yahudi mengenal poligami. Begitu juga dengan peradaban Shaqalibah yang melahirkan bangsa Rusia. Termasuk juga negeri Lituania, Ustunia, Chekoslowakia dan Yugoslavia, semuanya sangat mengenal poligami.

Masih ditambah lagi dengan bangsa Jerman, Swis, Saksonia, Belgia, Belanda, Denmark, Swedia, Norwegia dan tidak terkecuali, Inggris.

Jadi pendapat bahwa poligami itu hanya produk hukum Islam adalah tidak benar. Sebab bangsa Arab sebelum masa kedatangan Islam pun mengenal poligami. Dalam salah satu hadits disebutkan bahwa ada seorang masuk Islam dan masih memiliki 10 orang isteri. Lalu oleh Rasulullah SAW diminta untuk memilih empat saja dan selebihnya diceraikan. Beliau bersabda:

Dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Pilihlah 4 orang dari mereka dan ceraikan sisanya.” (HR At-tirmizy1128 danIbnu Majah1953)

Masih menurut beliau, poligami itu bukan hanya milik peradaban masa lalu dunia, tetapi hari ini masih tetap diakui oleh negeri dengan sistem hukum yang bukan Islam seperti Afrika, India, China dan Jepang.

Sehingga jelaslah bahwa poligami adalah produk umat manusia, produk kemanusiaan dan produk peradaban besar dunia. Islam hanyalah salah satu yang ikut di dalamnya dengan memberikan batasan dan arahan yang sesuai dengan jiwa manusia.

Islam datang dalam kondisi di mana masyarakat dunia telah mengenal poligami selama ribuan tahun dan telah diakui dalam sistem hukum umat manusia. Justru Islam memberikan aturan agar poligami itu tetap selaras dengan rasa keadilan dan keharmonisan.

Misalnya dengan mensyaratkan adanya keadilan dan kemampuan dalam nafkah. Begitu juga Islam sebenarnya tidak membolehkan poligami secara mutlak, sebab yang dibolehkan hanya sampai empat orang isteri. Dan segudang aturan main lainnya sehingga meski mengakui adanya poligami, namun poligami yang berkeadilan sehingga melahirkan kesejahteraan.

Barat adalah Pendukung Poligami yang Tidak Manusiawi

Dan kini karena masyarakat barat banyak menganut agama nasrani, ditambah lagi latar belakang budaya mereka yang berangkat dari Romawi dan Yunani kuno, maka mereka pun ikut-ikutan mengharamkan poligami.

Namun anehnya, sistem hukum dan moral mereka malah membolehkan perzinahan, homoseksual, lesbianisme dan gonta ganti pasangan suami isteri. Padahal semua pasti tahu bahwa poligami jauh lebih beradab dari semua itu. Sayangnya, ketika ada orang berpoligami dan mengumumkan kepoligamiannya, semua ikut merasa `jijik`, sementara ketika hampir semua lapisan masyarakat menghidup-hidupkan perzinahan, pelacuran, perselingkuhan, homosek dan lesbianisme, tak ada satu pun yang berkomentar jelek.

Semua seakan kompak dan sepakat bahwa perilaku bejat itu adalah `wajar` terjadi sebagai bagian dari dinamika kehidupan modern.

Dr. Yusuf Al-Qaradawi mengatakan bahwa pada hakikatnya apa yang dilakukan oleh Barat pada hari ini dengan segala bentuk pernizahan yang mereka lakukan tidak lain adalah salah satu bentuk poligami juga, meski tidak dalam bentuk formal.

Dan kenyataaannya mereka memang terbiasa melakukan hubungan seksual di luar nikah dengan siapapun yang mereka inginkan. Di tempat kerja, hubungan seksual di luar nikah menjadi sesuatu yang lazim dilakukan oleh mereka, baik dengan sesama teman kerja, atau antara atasan dan bawahan atau pun klien mereka.

Di tempat umum mereka terbiasa melakukan hubungan seksual di luar nikah baik dengan wanita penghibur, pelayan restoran, artis dan selebritis.

Di sekolah pun mereka menganggap wajar bila terjadi hubungan seksual baik sesama pelajar, antara pelajar dengan guru atau dosen, antar karyawan dan seterusnya. Bahkan di dalam rumaah tangga pun mereka menganggap boleh dilakukan dengan tetangga, pembantu rumah tangga, sesama angota keluarga atau dengan tamu yang menginap.

Semua itu bukan mengada-ada karena secara jujur dan polos mereka akui sendiri dan tercermin dalam film-film Hollywood di mana hampir selalu dalam setiap kesempatan mereka melakukan hubungan seksual dengan siapa pun.

Jadi peradaban barat membolehkan poligami dengan siapa saja tanpa batas, bisa dengan puluhan bahkan ratusan orang yang berlainan. Dan sangat besar kemungkinannya mereka pun telah lupa dengan siapa saja pernah melakukannya karena saking banyaknya. Dan semua itu terjadi begitu saja tanpa pertanggung-jawaban, tanpa ikatan, tanpa konsekuensi dan tanpa pengakuan. Apabila terjadi kehamilan, sama sekali tidak ada konsekuensi hukum untuk mewajibkan bertanggung-jawab atas perbuatan itu.

Poligami tidak formal alias seks di luar nikah itu alih-alih dilarang, malah sebaliknya dilindungi dan dihormati sebagai hak asasi. Lucunya, banyak negara yang mengharamkan poligami formal yang mengikat dan menuntut tanggung jawab, sebaliknya seks bebas yang tidak lain merupakan bentuk poligami yang tidak bertanggung jawab malah dibebaskan, dilindungi dan dihormati.

Untuk kasus ini, Syiekh Abdul Halim Mahmud menceritakan sebuah kejadian lucu yang terjadi di sebuah negeri sekuler di benua Afrika. Ada seorang tokoh Islam yang menikah untuk kedua kalinya (berpoligami) secara syah menurut aturan syar`i. Namun berhubung negeri itu melarang poligami secara tegas, maka pernikahan itu dilakukan tanpa melaporkan kepada pemerintah.

Rupanya, inteljen sempat mencium adanya pernikah itu dan setelah melakukan pengintaian intensif, dikepunglah rumah tokoh ini dan diseretlah dia ke pengadilan untuk dijatuhi hukuman seberat-beratnya. Melihat situasi yang timpang seperti ini, maka akal digunakan. Tokoh ini dengan kalem menjawab bahwa wanita yang ada di rumahnya itu bukan isterinya, tapi teman selingkuhannya. Agar tidak ketahuan isteri pertamanya, maka mereka melakukannya diam-diam.

Mendengar pengakuannya, kontan saat itu juga pihak pengadilan atas nama pemerintah meminta maaf yang sebesar-besarnya atas kesalah-pahaman itu. Dan memulangkannya dengan baik-baik serta tidak lupa tetap meminta maaf atas insiden itu.

Pandangan Syariah Islam Tentang Poligami

Poligami atau dikenal dengan ta`addud zawaj pada dasarnya mubah atau boleh. Bukan wajib juga bukan sunnah (anjuran). Karena melihat siyaqul-ayah memang mensyaratkan harus adil. Dan keadilan itu yang tidak dimiliki semua orang. Allah SAW berfirman:

Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap perempuan yang yatim, maka kawinilah wanita-wanita yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.(QS. An-Nisa: 3)

Jadi syarat utama poligami adalah adil terhadap isteri, baik dalam nafkah lahir batin, atau pun dalam perhatian, kasih sayang, perlindunganserta alokasi waktu. Jangan sampai salah satunya tidak diberi dengan cukup. Apalagi kesemuanya tidak diberi cukup nafkah, maka hal itu adalah kezaliman.

Sebagaimana hukum menikah yang bisa memiliki banyak bentuk hukum, maka begitu juga dengan poligami, hukumnya sangat ditentukan oleh kondisi seseorang, bahkan bukan hanya kondisi dirinya tetapi juga menyangkut kondisi dan perasaan orang lain, dalam hal ini bisa saja isterinya atau keluarga isterinya. Pertimbangan orang lain ini tidak bisa dimentahkan begitu saja dan tentunya hal ini sangat manusiawi sekali.

Karena itu kita dapati Rasulullah SAW melarang Ali bin abi Thalib untuk memadu Fatimah yang merupakan putri Rasulullah SAW. Sehingga Ali bin Abi Thalim tidak melakukan poligami.

Kalau hukum poligami itu sunnah atau dianjurkan, maka apa yang dilakukan oleh Rasulullah SAW untuk melarang Ali berpoligami akan bertentangan.

Selain itu yang sudah menjadi syarat paling utama dalam pertimbangan poligami adalah masalah kemampuan finansial. Biar bagaimana pun ketika seorang suami memutuskan untuk menikah lagi, maka yang harus pertama kali terlintas di kepalanya adalah masalah tanggung jawab nafkah dan kebutuhan hidup untuk dua keluarga sekaligus. Nafkah tentu saja tidak berhenti sekedar bisa memberi makan dan minum untuk isteri dan anak, tapi lebih dari itu, bagaimana dia merencakan anggaran kebutuhan hidup sampai kepada masalah pendidikan yang layak, rumah dan semua kebutuhan lainnya.

Ketentuan keadilan sebenarnya pada garis-garis umum saja. Karena bila semua mau ditimbang secara detail pastilah tidak mungkin berlaku adil secara empiris. Karena itu dibuatkan garis-garis besar seperti maslaah pembagian jatah menginap. Menginap di rumah isteri harus adil. Misalnya sehari di isteri tua dan sehari di isteri muda. Yang dihitung adalah malamnya atau menginapnya, bukan hubungan seksualnya. Karena kalau sampai hal yang terlalu mendetail harus dibuat adil juga, akan kesulitan menghitung dan menimbangnya.

Secara fithrah umumnya, kebutuhan seksual laki-laki memang lebih tinggi dari wanita. Dan secara faal, kemampuan seksual laki-laki memang dirancang untuk bisa mendapatkan frekuensi yang lebih besar dari pada wanita.

Nafsu birahi setiap orang itu berbeda-beda kebutuhannya dan cara pemenuhannya. Dari sudut pandang laki-laki, masalah `kehausan` nafsu birahi sedikit banyak dipengaruhi kepada kepuasan hubungan seksual dengan isteri. Bila isteri mampu memberikan kepuasan skesual, secara umum kehausan itu bisa terpenuhi dan sebaliknya bila kepuasan itu tidak didapat, maka kehausan itu bisa-bisa tak terobati. Akhirnya, menikah lagi sering menjadi alternatif solusi.

Umumnya laki-laki membutuhkan kepuasan seksual baik dalam kualitas maupun kuantitas. Namun umumnya kepuasan kualitas lebih dominan dari pada kepuasan secara kuantitas. Bila terpenuhi secara kualitas, umumnya sudah bisa dirasa cukup. Sedangkan pemenuhan dari sisi kuantitas saja sering tidak terlau berarti bila tidak disertai kualitas, bahkan mungkin saja menjadi sekedar rutinitas kosong. Lagi-lagi menikah lagi sering menjadi alternatif solusi.

Secara fisik, terkadang memang ada pasangan yang agak ekstrim. Di mana suami memiliki kebutuhan kualitas dan kuantitas lebih tinggi, sementara pihak isteri kurang mampu memberikannya baik dari segi kualitas dan juga kuantitas. Ketidak-seimbangan ini mungkin saja terjadi dalam satu pasangan suami isteri. Namun biasanya solusinya adalah penyesuaian diri dari masing-masing pihak. Di mana suami berusaha mengurangi dorongan kebutuhan untuk kepuasan secara kualitas dan kuantitas. Dan sebaliknya isteri berusaha meningkatkan kemampuan pelayanan dari kedua segi itu. Nanti keduanya akan bertemu di ssatu titik.

Tapi kasus yang ekstrim memang mungkin saja terjadi. Suami memiliki tingkat dorongan kebutuhan yang melebihi rata-rata, sebaliknya isteri memiliki kemampuan pelayanan yang justru di bawah rata-rata. Dalam kasus seperti ini memang sulit untuk mencari titik temu. Karena hal ini merupakan fithrah alamiah yang ada begitu saja pada masing-masing pihak. Dan kasus seperti ini adalah alasan yang paling logis dan masuk akal untuk terjadinya penyelewengan, selingkuh, prostitusi, pelecehan seksual dan perzinahan.

Sehingga jauh-jauh hari Islam sudah mengantisipasi kemungkinan terjadinya fenomena ini dengan membuka pintu untuk poligami dan menutup pintu ke arah zina. Dari pada zina yang merusak nilai kemanusiaan dan harga diri manusia, lebih baik kebutuhan itu disalurkan lewat jalur formal dan legal. Yaitu poligami.

Dan kenyataanya, angka kasus sejenis lumayan banyak. Namun antisipasinya sering terlihat kurang cerdas bahkan mengedepankan ego. Hukum agama nasrani jelas-jelas melarang poligami yang legal. Begitu juga hukum positif di banyak negeri umumnya cenderung menganggap poligami itu tidak bisa diterima. Apalagi hukum non formal yang berbentuk penilaian masyarakat yangumumnya juga menganggap poligami itu hina dan buruk.

Secara tidak sadar semuanya lebih memaklumi kalau dalam kasus seperti yang kita bicarakan ini, solusinya adalah ZINA dan bukan poligami. Nah, inilah terjungkir baliknya nilai-nilai agama yang dikalahkan dengan rasa dan selera subjektif hawa nafsu manusia.

Berlebihan Dalam Memahami Masalah Poligami Dalam Islam

Ada orang yang terlalu berlebihan dalam memahami kebolehan poligami dalam Islam. Dan sebaliknya, ada kalangan yang berusaha menghalang-halangi terjadinya poligami dalam Islam, meski tidak sampai menolak syariatnya.

a. Pihak yang Berlebihan

Menurut kalangan ini, poligami adalah perkara yang sangat utama untuk dikerjakan bahkan merupakan sunnah muakkadah dan pola hidup Rasulullah SAW. Kemana-mana mereka selalu mendengungkan poligami hingga seolah hamir mendekati wajib.

Pemahaman keliru seperti itu sering menggunakan ayat poligami yang memang bunyinya seolah seperti mendahulukan poligami dan bila tidak mampu, barulah beristri satu saja. Istilahnya, poligami dulu, kalau tidak mampu, baru satu saja.

Maka kawinilah wanita-wanita yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.(QS. An-Nisa: 3)

Padahal makna ayat itu sama sekali tidak demikian. Karena meski sepintas ayat itu kelihatan mendahulukan poligami lebih dahulu, tapi dalam kenyataan hukum hasil dari istinbath para ulama dengan membandingkannya dengan dalil-dalil lainnya menunjukan bahwa poligami merupakan jalan keluar atau rukhshah (bentuk keringanan) atas sebuah kebutuhan. Bukan menempati posisi utama dalam masalah pernikahan.

Alasan agar tidak jatuh ke dalam zina adalah alasan yang ma`qul (logis) dan sangat bisa diterima. Karena Allah SWT memang memerintahkan agar seorang mukmin menjaga kemaluannya. Allah SWT berfirman:

Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, (QS. Al-Mukminun: 5)

Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman,”Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” (QS. An-Nur: 30)

Dan orang-orang yang memelihara kemaluannya, (QS. Al-Ma`arij: 29)

Bila satu isteri saja masih belum bisa menahan gejolak syahwatnya, sementara secara nafkah dia mampu berbuat adil, bolehlah seseorang untuk menikah lagi dengan niat menjaga agamanya. Bukan sekedar memuaskan nafsu syahwat saja.

Bentuk kekeliruan yang lain adalah rasa terlalu optimis atas kemampuan menanggung beban nafkah. Padahal Islam tetap menutut kita berlaku logis dan penuh perhitungan. Memang rezeki itu Allah SWT yang memberi, tapi rezeki itu tidak datang begitu saja.

Bahkan untuk orang yang baru pertama kali menikah pun, Rasulullah SAW mensyaratkan harus punya kemampuan finansial. Dan bila belum mampu, maka hendaknya berpuasa saja.

Jangan sampai seseorang yang penghasilannya senin kamis, tapi berlagak bak seorang saudagar kaya yang setiap hari isi pembicaraannya tidak lepas dari urusan ta`addud. Ini jelas sangat `njomplang`, jauh asap dari api.

b. Pihak yang Mencegah Poligami

Di sisi lain, ada kalangan yang menentang poligami atau paling tidak kurang bersimpati terhadap poligami. Mereka pun sibuk membolak balik ayat Al-Quran Al-Karim dan Sunnah Rasulullah SAW untuk mencari dalih yang bisa melarang atau minimal memberatkan jalan menuju poligami.

Misalnya dengan mengikat seorang suami untuk janji tidak menikah lagi ketika melangsungkan pernikahan pertamanya. Janji itu diqiyaskan dengan sighat ta’liq yang bila dilanggar maka isterinya diceraikan.

Menanggapi hal ini, para ulama berbeda pendapat tentang syarat tidak boleh melakukan poligami bagi suami yang diajukan oleh isterinya pada saat aqad nikah. Apakah pensyaratan tersebut dibolehkan atau tidak?

Sebahagian ulama menyatakan bahwa pensyaratan tersebut diperbolehkan, sedangkan yang lain berpendapat hal tersebut dimakruhkan tetapi tidak haram. Karena dengan adanya pensyaratan tersebut maka suami akan merasa terbelenggu yang pada akhirnya akan menimbulakn hubungan yang kurang harmonis di antara keduanya.

Bentuk lainnya dari upaya menelikung poligami dalam Islam, dikatakan bahwa Rasulullah SAW tidak pernah melakukan poligami kecuali hanya kepada janda saja. Tidak pernah kepada wanita yang perawan. Memang ketika menikahi Aisyah ra, status Rasulullah SAW adalah seorang duda yang ditinggal mati isterinya.

Dalam menjawab masalah ini, sebenarnya syarat harus menikahi wanita yang berstatus janda bukanlah syarat untuk poligami. Meski Rasulullah SAW memang lebih banyak menikahi janda ketimbang yang masih gadis. Namun hal itu terpulang kepada pertimbangan teknis di masa itu yang umumnya untuk memuliakan para wanita atau mengambil hati tokoh di belakang wanita itu.

Pertimbangan ini tidak menjadi syarat untuk poligami secara baku dalam syariat Islam.

Sebagian kalangan juga ingin menghalangi poligami dengan dasar bahwa syarat berlaku adil dalam Al-Quran Al-Karim adalah sesuatu yang tidak mungkin bisa dilakukan. Dengan demikian, maka poligami dilarang dalam Islam.

Padahal, meski ada ayat yang demikian, yang dimaksud dengan “keadilan tidak dapat dilakukan” adalah keadilan yang bersifat menyeluruh baik materi maupun ruhiyah. Sementara keadilan yang dituntut dalam sebuah poligami hanya sebatas keadilan secara sesuatu yang bisa diukur dan lebih bersifat materi. Sedangkan masalah cinta dalam dada, sangat sulit untuk diidentifikasi.

Namun demikian, Rasulullah SAW mengancam orang yang berlaku tidak adil kepada isterinya dengan ancaman berat.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc.

Incoming search terms:

  • Pingback: Syariah Online » Blog Archive » Poligami dalam Padangan Syariah()

  • Zorion Annas

    POLIGAMI = PELECEHAN WANITA

    Dalam al-Qur’an, ada ayat yang secara eksplisit membolehkan poligami: dua, tiga atau empat orang isteri. Ayat inilah yang selalu menjadi senjata pendukung poligami untuk membenarkannya menurut optik Islam.

    Potongan pertama “ayat poligami” di Qur’an, seakan menyusun tangga jumlah keutamaan pernikahan. Di mulai dari dua, tiga, lantas empat. Yang paling reflek ditangkap logika biasa: cobalah dua dulu; kalau masih berminat, bisa tiga; jika masih ada kemauan dan kemampuan, boleh nambah menjadi genap empat. Bahkan, sementara umat Islam, ada yang sampai hati menjumlahkan bilangan-bilangan yang disebut Tuhan di al-Quran tersebut. Dua plus tiga, plus empat, sehingga menghasilkan jumlah yang fantastis dan menguntungkan kecenderungan pernikahan seseorang. Perbedanaan pemahaman ini tidak lepas dari permasalah hermeneutika (cara tafsir) atas ayat al-Qur’an. Masalahnya adalah, apakah penyebutan dua, tiga, empat, lantas kemudian satu, menunjukkan yang disebut pertama lebih utama (afdlal) dari yang kemudian? Kalau itu dilihat sebagai urutan keutamaan, ya poligami menjadi pilihan.

    Yang sering terlupakan adalah kelanjutan “ayat poligami” ini. Justru, yang terlupakan inilah sebetulnya ruh ayat itu. Yaitu: masalah keadilan. Keadilan atas siapa? Tentu yang dimadu (perempuan). Dari sudut pandang siapa keadilan itu? Ya, jelas sudut pandang perempuan. Sebab, yang menjadi objek poligami adalah perempuan; yang makan hati dan tahu takaran keadilan poligomos adalah perempuan itu sendiri, utamanya yang dimadu (yang terlecehkan).

  • Zorion Annas

    PERLAKUAN KASAR DIBENARKAN OLEH AL-QUR’AN

    Bacalah kutipan surah an-Nisa ayat 34: “…Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur dan pukullah mereka…”

    Ini jelas sekali bahwa, di lingkungan muslim, wanita adalah korban dari kekerasan fisik, penghinaan, pelecehan seksual. Semuanya itu dihalalkan oleh Al-Qur’an.

    • cute

      kenapa yg lo tulis gak lengkap sih njing,cuma sepotong saja,jelas banget gobloknya

  • B Ali

    Ada yang bertanya: Apakah Islam agama teroris?
    Jawaban saya adalah: Tidak ada agama yang mengajarkan umatnya untuk menjadi teroris.

    Tetapi, di dalam Al-Qur’an, ada banyak sekali ayat-ayat yang menggiring umat untuk melakukan hal-hal yang tidak manusiawi, seperti: kekerasan, anarki, poligami dengan 4 istri, anggapan selain muslim adalah orang kafir, dsb. Sikap-sikap tersebut tidak sesuai lagi dengan norma-norma kehidupan masyarakat modern.

    Al-Qur’an dulu diracik waktu jaman tribal, sehingga banyak ayat-ayat yang tidak bisa dimengerti lagi seperti seorang suami diperbolehkan mempunyai istri 4. Dimana mendapatkan angka 4? Kenapa tidak 10 atau 25? Terus bagaimana sakit hatinya istri yang dimadu (yang selalu lebih tua dan kurang cantik)? Banyak lagi hal-hal yang nonsense seperti ini di Al-Qur’an. Karena semua yang di Al-Qur’an dianggap sebagai kebenaran mutlak, maka orang muslim hanya menurutinya saja secara taken for granted.

    Banyak pengemuka muslim yang berusaha menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an supaya menjadi lebih manusiawi. Tapi usaha ini sia-sia saja karena ayat-ayat Al-Qur’an itu semuanya sudah explisit sekali. Sehingga tidak bisa ditawar lagi. Jadi umat muslim terjebak.

  • Solihin

    Assalaamu’alaikum.
    Saya sangat setuju dengan poligami.
    Saya mempunyai seorang teman yang sudah mempunyai seorang istri + 2 anak. Dia mau tidur seranjang dengan gadis yang berumur 9 tahun. Gadis ini adalah anak dari seorang teman akrabnya. Teman saya ini mau mencontohi Nabi Muhammad SAW.
    Teman saya ini mengetahui bahwa gadis tsb bukan milik ayahnya, melainkan milik Alloh.
    Pertanyaan saya: Berhakkah si Ayah menolak permintaan teman saya ini? Apakah si ayah akan masuk neraka karena menolak ajaran Rasulullah?
    Terima kasih atas pertolongannya untuk menjawab pertanyaan ini.
    Wassalam

  • Ridwan Azari

    Saat ini, Indonesia mengalami krisis multi-dimensi. Sedangkan sebagian besar dari krisis ini disebabkan oleh agama.
    Agama Islam adalah agama dari rumpun Abrahamik seperti halnya Kristen dan Yahudi. Ketiga agama ini menanamkan kebencian, permusuhan dan kekerasan sepanjang massa.
    Penduduk Indonesia adalah 60% berada di Jawa. Jadi kekuatan ada di Jawa. Kalau orang jawa segera meninggalkan agama rumpun abrahamik dan kembali kepada Kepercayaan asli, maka sebagian besar dari krisis ini akan hilang dan Indonesia akan seketika sembuh dari krisis ini.
    Indonesia adalah negara besar, kaya dengan sumber alam. Indonesia tidak berhak mempunyai nasib yang sepuruk ini.

  • Ramli Rais

    Assalaamu’alaikum.
    Saya menemukan posting yang sangat menarik tentang: Doktrin-Doktrin Yang Kurang Perlu dalam Islam. Ini link-nya: http://islamlib.com/id/index.php?page=article&id=1312
    Selamat membaca dan terima kasih,
    Wassalam

  • resist

    Quran dulu dibuat waktu jaman perang. Ayat-ayatnya hanya berlaku untuk situasi saat itu.
    Cilakanya, orang-orang yang membuat ayat-ayat Quran itu tidak memikirkan bahwa kehidupan manusia dan tata sosial masyarakat selalu berubah.

    Hasilnya, disamping ayat-ayat Quran mengandung banyak kesalahan tata bahasa, ayat-ayat ini makin tidak relevan untuk kehidupan umat.

    Jadi musuh utama bagi Quran adalah WAKTU.

  • Zulfiki Bin Taha

    Memang satu-satunya agama yang dibela oleh pemerintah adalah agama Islam.

    Sikap pemerintah seperti ini sangat berbahaya.

    Resikonya adalah:
    Bagi umat Islam yang anti pemerintah, hal ini adalah peluang yang sangat bagus untuk menentang pemerintah. Umat muslim tidak usah menunggu pemilihan umum untuk menentang pemerintah yang sekarang.

    Kalau umat muslim mau menentang pemerintah yang sekarang, cukup dengan meinggalkan agama Islam untuk memeluk agama lain selain Islam. Meninggalkan agama Islam berarti anti pemerintah yang sekarang. Reaksi ini lebih ampuh dari pada menyoblos di pemilu. Hasil penghitungan suara di pemilihan umum bisa direkayasa dan dicurangi. Tetapi meninggalkan agama Islam ke agama lain adalah reaksi yang tidak bisa dikontrol oleh pemerintah. Dan pemerintah nanti hanya bisa gigit jari.

    Inilah resiko yang dihadapi oleh pemerintah yang kerjanya hanya membela agama Islam.

  • Khairun Abubaker

    Organisasi-organisasi muslim yang bringas didukung oleh oknum-oknum kepolisian & aparat keamanan pemerintah.

    Sudah sering terjadi pengerusakan rumah-rumah ibadah umat lain, sweeping, fatwa-fatwa dan kekerasan lainnya yang dilakukan oleh organisasi muslim terhadap umat agama lain. Sedangkan sebagian dari para preman ini adalah anggota polisi dan aparat keamanan lainnya yang berpakaian sipil. Pemerintah juga bersikap seolah-oleh memberi semangat kepada preman-preman ini sehingga mereka merasa berada di atas hukum apapun yang berlaku di negara Indonesia.

    Juga anggota polisi pada umumnya hanya menonton para preman yang melakukan pengerusakan & sweeping. Anggota polisi malah melindungi oknum-oknum yang berkelakuan bringas itu.

    Sedangkan polisi dan aparat keamanan pemerintah seharusnya melindungi seluruh lapisan masyarakat tanpa membeda-bedakan agama, kepercayaan, suku, dsb.

    Kita yakin bahwa ada umat muslim yang tidak mentolerir dan tidak setuju dengan kelakuan polisi dan aparat keamanan yang secara terang-terangan memihak kepada golongan mayoritas.

    Tetapi, pemerintah tidak menyadari bahwa walaupun polisi dan aparat keamanan mempunyai senjada api, rakyat jelata (masyarakat muslim yang kurang simpati terhadap polisi) mumpunyai senjata yang jauh lebih ampuh dari pada senjadi api. Sejata yang ampuh ini adalah agama.

    Masyarakat muslim yang tidak simpati terhadap tindakan polisi yang memihak ini bisa mengeluarkan reaksi yaitu mereka bisa meninggalkan agama Islam. Mereka bisa mengalih ke agama lain. Kalau hal ini terjadi/sedang terjadi, maka senjadi api polisi itu tidak ada artinya.

  • cap jempol

    terus terang gue heran deh ngebaca komentar-komentar kalian yang asal ngibul en asbun alias asal bunyi.
    sama sekali gak punya dasar eh uda kasih komentar. dah gitu merasa benar lagi, coba sesuatu itu jangan hanya pake dengkul tapi pakailah otak bila ingin berkomentar.
    kalian benar2 misionaris yang ingin merusak citra islam tanpa belajar bagaimana sebenarnya islam itu.
    sesungguhnya islam itu agama monogami, bukankah ada ayat quran yang menyatakan bila engkau tidak sanggup berlaku adil maka cukup dengan satu istri.
    tidak ada kekerasan dalam rumah tangga di dalam islam. seorang suami tidak boleh berlaku keras walaupun kekerasan verbal terhadap istrinya.
    bila istri nusyuz, yang dimaksud pukul bukan menghajar tapi tepukan ringan atau dengan kata2 yang mengingatkan. mohon yang tidak bisa bahasa arab jangan asal nyerocos mengartikan ayat2 Allah seenak dewe.
    JADI PESAN GUE : ELU PADE TOLONG DEH PAKE OTAK JANGAN CUMA PAKE DENGKUL YE KALO KASIH KOMENTAR.
    GAK SALAH KALO ADA SEBAGIAN UMAT MUSLIM YANG TERPANCING DAN AKHIRNYA MENJADI ANARKIS KALO KOMENTAR KALIAN SEPERTI ITU.
    BUKANKAH TIDAK ADA ASAP KALO TIDAK ADA API.
    JADI KENAPA HARUS MENGHIDUPKAN API KALO KITA PENGEN TENTREM.

  • Anwar N.

    BERAPAKAH TINGGI BADAN NABI MUHAMMAD SAW ?

    Buat teman-teman yang ahli matematika. Saya perlu bantuan dari kalian.

    Saya mau mengetahui tinggi badan Rossul SAW waktu berumur 54 tahun (waktu beliau menikahi Aysiah yang berumur 9 tahun). Rossul SAW lahir sekitar 1500 tahun yang lalu.

    Kita mengetahui bahwa semakin tahun, tubuh manusia semakin tinggi. Seorang anak yang menginjak umur dewasa selalu lebih tinggi tubuhnya dari ayahnya sekitar 5 sampai 10 cm. Sedangkan, perbadaan umur antara anak dan ayah adalah sekitar 25 – 30 tahun.

    Ambillah sebuah patokan yang minimal bahwa seorang anak selalu lebih tinggi dari ayahnya paling tidak 2 cm. Sedangkan perbedaan umur antara anak dan ayah, kita ambil patokan 30 tahun.

    Saat ini: Tinggi badan orang dewasa di daerah Timur Tengah (Arab), kita ambil patokan 180 cm.

    Kalau dilihat dari patokan-patokan di atas, berarti tubuh manusia bertambah tinggi minimal 2 cm setiap 30 tahun.

    Sedangkan kita mengetahui bahwa Rossul SAW lahir 1500 tahun yang lalu.

    Selisih ukuran badan Rossul SAW adalah (1500 dibagi 30 ), kemudian hasilnya dikalikan 2 cm. Hasilnya adalah 100 cm (lebih pendek dari sekarang).

    Kalau rata-rata orang dewasa di Timur Tengah mempunyai tubuh setinggi 180 cm, maka tinggi tubuh Rossul SAW pada saat itu adalah (180 cm dikurangi 100 cm) = 80 cm.

    Jadi Rossul SAW mempunyai tubuh setinggi 80 cm.

    Berarti kita yakin bahwa, pada saat itu (1500 tahun yang lalu), Rossul Nabi Muhammad SAW berukuran badan sangat pendek, yaitu sekitar 80 cm.

  • w

    Jawaban yang disusun oleh Ust. Ahmad Sarwat Lc. sangat lengkap, sesuai dg syari’at Islam dan menunjukkan bahwa dibalik perkara yang sering dijadikan sbg bahan serangan terhadap Islam ternyata banyak yang perlu dipelajari dan dipertimbangkan dalam poligami, ajaran Islam benar2 sangat agung. Namun sayang komentar2 dibawahnya banyak yg tidak nyambung (saya tidak tahu kenapa mungkin mengira dari judulnya/obyeknya adalah poligami yg sering dipakai untuk menyerang Islam sehingga sudah siap2 dg serangan2nya, tetapi ternyata penjelasan dari ustad sangat2 membuat susah diserang) so, serangannya menjadi tidak nyambung.

  • anton

    Mat 19:3-6
    3 Maka datanglah
    orang-orang Farisi
    kepada-Nya untuk
    mencobai Dia. Mereka
    bertanya: “Apakah diperbolehkan orang
    menceraikan isterinya
    dengan alasan apa
    saja?”
    4 Jawab Yesus:
    “Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang
    menciptakan manusia
    sejak semula
    menjadikan mereka
    laki-laki dan
    perempuan? 5 Dan firman-Nya:
    Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. 6 Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia. ” Dari ayat2 diatas kita
    dapat melihat , pada saat
    orang Farisi bertanya
    kepada Yesus tentang
    Hukum Pernikahan, maka
    Yesus langsung membawa mereka ke Firman Tuhan
    dan Ketetapan Allah sejak
    semula mengenai
    pernikahan. Yesus
    merujuk Firman Tuhan di
    Kej 2:24 Kej 2:24
    Sebab itu seorang laki- laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging . Dan dari Mat 19:3-6, Yesus
    menekankan bahwa
    pernikahan dimaksudkan
    untuk seumur hidup. Dan
    Yesus menekankan
    bahwa Kesatuan Suami dan Istri sehingga
    keduanya menjadi satu
    daging yang tidak dapat
    dibatalkan / dipisahkan
    oleh ketetapan manusia.
    Jika kita lihat kembali Mat 19:3-6, mengapa Yesus
    merujuk kepada Kej 2:24,
    dimana Kej 2:24 adalah
    Kisah “pernikahan” Adam
    dan Hawa, mengapa Yesus
    tidak merujuk kepada kisah “pernikahan” Raja
    Daud??
    Jawabannya: seperti yang
    sudah saya jelaskan diatas
    bahwa Yesus merujuk
    kepada Firman Tuhan dan Ketetapan Allah sejak
    semula mengenai
    pernikahan yaitu kisah
    Adam dan Hawa. Sejak
    semula Allah hanya
    menciptakan 1 perempuan yg bernama
    Hawa untuk dipersatukan
    bersama Adam. Allah
    tidak menciptakan 2
    perempuan yang bernama
    Hawa dan Santi untuk dipersatukan dengan
    Adam, atau menciptakan 3
    perempuan (dstnya) utk
    dipersatukan dengan
    Adam. Namun Allah hanya
    menciptakan 1 perempuan untuk
    dipersatukan dgn adam,
    dan inilah Ketetapan Allah
    sejak semula.
    Dan ini pula yang
    menyebabkan Yesus tidak merujuk kepada Kisah
    Raja Daud, dll (yg
    berpolygami). Karena
    Kisah mereka sudah tidak
    sesuai dengan Ketetapan
    Allah sejak semula. Disini secara tidak langsung
    Yesus mengajarkan
    bahwa tidak semua
    perbuatan Nabi2 harus
    diteladani apalagi yg telah
    menyimpang dari ketetapan Allah sejak
    semula. Atau dengan kata
    lain orang Kristen harus
    melihat mana yg patut
    diteladani perbuatan dari
    Nabi2 dengan “kacamata” Firman Tuhan, yang sesuai
    dengan Firman Tuhan
    patut utk diteladani
    sebaliknya yg
    menyimpang jangan
    diteladani. Jika tidak maka hal tsb menjadi sebuah
    pembenaran dari
    perbuatan yg sudah
    menyimpang dari
    ketetapan Allah sejak
    semula, dan inilah yang diluruskan oleh Yesus di
    Mat 19:7-9 mengenai
    “surat cerai” Mat 19:7-9
    7 Kata mereka kepada-
    Nya: “Jika demikian,
    apakah sebabnya Musa
    memerintahkan untuk
    memberikan surat cerai jika orang
    menceraikan
    isterinya?”
    8 Kata Yesus kepada
    mereka: “Karena
    ketegaran hatimu Musa mengizinkan
    kamu menceraikan
    isterimu, tetapi sejak
    semula tidaklah
    demikian.
    9 Tetapi Aku berkata kepadamu:
    Barangsiapa menceraikan isterinya, kecuali karena zinah, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah .” Kadang2 Ayat diatas
    seringkali disalah artikan
    atau disalahtafsirkan atau
    bahkan diplesetkan
    (diplintir maknanya). Ada
    yang berkesimpulan sbb: Ayat diatas menyatakan
    bahwa jika seseorang
    cerai kemudian kawin
    dengan perempuan lain
    berarti ia sudah berzinah,
    berarti kalau tidak cerai kemudian menikah lagi
    maka tidak berzinah (alias
    polygami).
    Nah ini adalah kesimpulan
    yg salah karena salah
    tafsir dan tidak teliti dalam memahami ayat2 tsb.
    Apabila kita melihat
    dengan teliti jawaban
    Yesus pada Mat 19:7-9 ,
    maka kita dapat
    memahami bahwa pernyataan Yesus ini
    harus dimengerti di dalam
    relasi dengan perceraian
    yang tidak sah atau tidak
    legal. Apabila seseorang
    diberikan izin(secara manusia) untuk bercerai,
    sedangkan Allah tidak
    mengizinkannya, maka
    pasangan itu tetap dalam
    status menikah di dalam
    pandangan Allah. Oleh karena itu, pernikahan
    kembali dari perceraian
    yang tidak sah
    menjadikan orang
    tersebut memasuki
    hubungan perzinahan. Atau dengan kata lain
    seseorang dalam status
    menikah kemudian
    menikah lagi, “di mata
    Allah” orang tsb sudah
    memasuki hubungan perzinahan. Inilah yang
    dimaksud oleh Yesus
    dalam perkataan-Nya di
    Mat 19:7-9
    Oleh karena itu ,jika ada
    Pendeta atau umat Kristen yg mengajarkan atau
    mengizinkan jemaatnya
    atau dirinya sendiri untuk
    berpolygami maka
    Pendeta atau umat Kristen
    tsb sudah melawan ajaran dari Yesus. Dan orang
    yang melawan ajaran
    Yesus jelas bukan
    pengikut Yesus yang
    sejati.

  • anton

    jangan sok tau soal nasrani deh tuan uztad!
    acuan org beriman adlh FIRMAN ALLAH BUKAN PERILAKU MANUSIA SeKALIPUN NABI.
    Nasrasi mengajarkan kesetiaan.

    Islam itu agama yg MENYIMPANG dari Tuhan JHVH si PEMBELAH LAUT MERAH Tuhan ISRAEL Tuhan Kristen Tuhan ALAM SEMESTA Tuhannya Abraham & Ishak & Yakub, bapak-bapak PENDIRI agama JHVH BUKAN agama Aulloh, JADI MEMANG agama Islam itu SANGAT MENYIMPANG JAUH dari NAMA Tuhannya Abraham & Ishak & Yakub, dan mereka SEMUA BUKAN beragama Islam KARANGAN nabi PALSU Muhammad yg bertuhan Aulloh BUKAN JHVH Tuhan ISRAEL & Kristen. JADI BISA DILIHAT dari NAMA Tuhan yg ASLINYA Tuhannya Nabi Abraham SAJA yaitu : JHVH Jireh BUKAN Aulloh SWT. Kel 2:24
    Maka didengar Tuhan akan pengaduh mereka itu serta ingatlah Tuhan akan perjanjian-Nya dengan Ibrahim dan dengan Ishak dan dengan Yakub.

    1 Sam 23:2
    Maka Daudpun bertanyakan JHVH , sembahnya: Bolehkah saya pergi mengalahkan orang Filistin itu? Maka firman JHVH kepada Daud: Pergilah, maka engkau akan mengalahkan orang Filistin itu dan melepaskan Kehila dari padanya.

    Tuan Uztad, apakah Nabi Ibrahim beragama Muslim sampai kakeknya Maria & Maria yg berdewakan dewa bulan orang-orang KAFIR Arab dg nama dewa yg LAIN yaitu : dewa aulloh swt yg BARU diKARANG oleh si PENIPU 600 th kemudiannnnnn????? Siapakah yg DISEMBAH oleh Nabi Ibrahim, Daud, Sulaiman sampai kakeknya Maria & KIAMAT , Tuhan mereka SEMUA Adalah Tuhan JHVH Jireh BUKAN dewa bulan dewa aulloh swt yg DIKARANG oleh nabi PALSU nabinya dewa bulan yaitu : nabi PALSU Muhammad. Apakah 1 Saksi SAH , PASTI TIDAK BUKANNNN? Minimal 2 Saksi-Saksi BARU PENGADILAN DI SELURUH DUNIA MENGAKUI itu SAH . Apakah Nabi Daud bertuhankan dewa bulan aulloh swt? Hakim-Hakim 2:12,13 Mereka meninggalkan JHVH , Tuhan nenek moyang mereka yang telah
    membawa mereka keluar dari tanah Mesir, lalu mengikuti tuhan-tuhan lain, dari antara berhala bangsa-bangsa di sekeliling
    mereka, dan mereka itu menyembah sujud kepadanya, dan mengeluarkan murka JHVH . karena meninggalkan JHVH , lalu berbuat bakti kepada Baal dan Astarot . 1 Sam 23:2 Maka Daudpun bertanyakan JHVH , sembahnya: Bolehkah saya pergi mengalahkan orang Filistin itu? Maka firman JHVH kepada Daud: Pergilah, maka engkau akan mengalahkan orang Filistin itu dan melepaskan Kehila dari padanya. Siapakah yg DISEMBAH oleh Nabi MUSA?

    JANGAN bikin dosa lagi KALAU TIDAK kamu AKAN Mendapat yang LEBIH Parah Lagi!