Dan Pasir Pun Berbisik

Kami berdua berjalan diantara pepasir pantai. Aku dan dia, sahabatku. Terkadang kami berjalan bersama diantara riak awan atau menyelam jauh ke dasar samudera. Kami melakukan itu hanya untuk satu hal, berkata dan berbicara.

Sore itu, langit cerah. Sore pantai tak ada panas, hembusan angin sepoi-sepoi mengibarkan ujung-ujung baju kami berdua. Diantara riak ombak kami berjalan bersama, tak memakai alas kaki, begitu terasa di kulit-kulit saraf bagaimana deburan ombak menggelitik.

Bagaimana?” Dia membuka pembicaraan.

Apanya yang bagaimana?” Tanyaku tak mengerti.

Melihat reaksiku, dia hanya terkekeh. “Bagaimana dengan si dia, seseorang yang ada di sini.” Ucapkan sembari menepuk dadaku.

Ahh, akhirnya aku mengerti arah pembicaraannya. “Entahlah.” Jawabku datar.

Siapa namanya? Biasanya kamu menyebutnya dengan sebutan khas.

Hah?” Aku setengah terkejut, pecah dalam lamunan. “Taman Surga, namanya Taman Surga.
Baca Selengkapnya

Futur

Futur…

Entah mengapa, semakin lama aku merasa imanku ini semakin meruntuh. Dia tidak turun teman, tetapi dia meruntuh. Meruntuh seperti longsoran tanah yang tak kokoh menahan beban. Meruntuh seperti awan yang terseret garam. Imanku benar-benar meruntuh.

Aku pernah berkata kepada salah seorang temanku, “Sahabat, mungkin aku satu-satunya generasi gagal tarbiyah.”

Walau dihadapan teman-temanku aku masih sering tertawa, namun hati ini menangis. Setiap malam di sepertiga malamku aku merajuk. Betapa aku ingin Tuhan tidak membolak-balikkan hatiku sedahsyat ini. Aku selalu memohon keimanan lebih, karena aku menyadari betapa kurangnya diriku.

Terkadang aku iri, iri melihat cara mereka menundukkan pandangan. Aku iri melihat betapa kuat hati mereka seperti baja. Aku iri melihat betapa mereka mampu menjaga keistiqamahannya. Aku benar-benar iri, saat aku berdiri dalam rantai yang kuat, rantai persaudaraan, aku hanya menjadi beban mereka, hanya menjadi kait yang begitu lemah.

… dan segalanya bermula dari pikiran …
Baca Selengkapnya

Mitos

Biarkan aku berjalan diantara tebing-tebing curam, mendaki gunung-gunung tertinggi hingga batas awan tertembus. Biarkan aku menyelami laut-laut terdalam hingga mutiara terindah kan kumiliki. Biarkan aku terbang di ufuk angkasa, hingga aku mengerti hingga batas mana luas jagat raya.

Dan aku berjalan secepat cahaya berjalan.

Dan aku berhembus seperti hembusan angin-angin muson.

Dan aku terbang layaknya elang diantara jejaring mentari.

Akulah gelombang dalam perambatan konstan. Akulah panas dalam api murni nan abadi. Akulah ketakutan dalam kegelapan sempurna. Akulah dingin dalam musim es tak berganti. Maka mengapa dirimu masih meragukan?
Baca Selengkapnya

Sudahlah Pria, Tak Perlu Menangis Hanya Karena Cinta

Sudahlah pria, tak perlu menangis hanya karena cinta…

Tiba-tiba saja pria di sampingku bertutur demikian. Yah, aku memang sedang menangis. Menangisi diriku sendiri, menangisi cintaku.

Rasanya telah terlalu lama aku bersabar, terlalu lama. Rasanya tak ada lagi yang ingin aku simpan untuk hanya menjadi beban, rasanya ingin ku ungkap semua rasa. Ingin ku ungkap semua perih ini, semua sakit ini, semua beban rindu ini.

Bidadari, mengertikah kamu?
Baca Selengkapnya

Neraka Hati

Aku ingin tak peduli padamu, namun aku selalu menjadi peduli.

Aku ingin segera melupakanmu, namun kamu selalu dalam ingatanku.

Aku ingin membencimu, namun tahukah dirimu betapa aku saat ini begitu mencintaimu?

Aku ingin pergi jauh darimu, namun aku selalu merindukanmu di sisiku.

Aku ingin memalingkan wajahku darimu, namun parasmu selalu ada dalam hatiku.

Betapapun aku berbuat sesuatu, aku hanya dia yang tak pernah ada bukan? Aku tak pernah berada dalam posisi penting dihatimu. Aku hanya mereka yang kau jadikan pelampiasan. Dan aku segera muak dengan semua itu. Dan aku segera benci dengan tingkahmu. Dan aku menjadi benar-benar benci.

Awalnya aku merasa dirimu adalah jawaban pastiku. Awalnya aku merasa dirimu adalah anugerah Tuhan untukku. Bukankah dirimu mengetahui bahwa betapa aku ingin menikahimu? Namun sekarang itu bagai neraka. Neraka Hati, aku menamakannya.

Jauh di dalam hatiku jika kamu bisa menyelaminya, ada sebuah palung dalam. Di dalam palung itu ada sebuah peti besi yang terbungkus rapi oleh sutera tak bercacat. Tahukah kamu apa isi peti itu? Namamu!

Aku cemburu? Yah, kamu benar. Aku benar-benar cemburu!

Bagaimana mungkin makhluk yang hanya kamu ketahui dari chatting, makhluk yang hanya pernah kamu lihat fotonya, makhluk yang hanya berbicara lewat udara lebih kamu cintai daripada aku yang nyata.

Maaf, aku memang tak pandai merayu. Aku bukan tipikal pria seperti itu. Aku hanya seorang pria yang selalu menunggu dan berharap pasti bahwa Tuhan akan menurunkan sesosok bidadari untukku. Aku hanya mengharapkan itu.

Bahwa aku mencintaimu? Yah, itu yang terjadi saat ini. Itulah yang sedang berkelangsungan.

Aku berharap aku segera melupakanmu. Aku berharap bahwa esok dirimu sirna dihatiku. Aku berharap peti yang berada dalam palung terdalam hatiku berganti nama dengan nama seorang bidadari. Aku hanya berharap itu untuk masa depan kelak.

Bagaimana perasaanmu jika dirimu yang berada dalam posisiku. Posisi seseorang yang sedang mencintai seseorang lainnya namun orang lain itu ternyata lebih memilih mereka yang lain. Namun orang itu juga tetap memberi harapan kepadamu seolah kamu sedang dicintai padahal orang tersebut sama sekali tidak mencintaimu.

Dan tidakkah engkau melihat retakan pada palung-palung terdalam? Yang merekah bersama lempengengan yang terus bergerak. Terceruk. Dan saat awan menyentuh bumi, saat udara menjadi tak terkendali dan menghancurkan segala sesuatu.

Dan lihatlah bintang, yang berpendar oleh nyala api. Yang terus hidup hingga mati dalam ledakan indah membentuk mawar merah di langit.

Apakah engkau sering menatap angkasa? Bagaimana gumul-gumul awan yang saling menimpa. Bagaimana mendung tercipta?

Sungguh-sungguh-sungguh-sungguh-sungguh hati ini begitu sakit. Sungguh-sungguh-sungguh sakit sekali rasa hati ini. Hati yang terbakar oleh cemburu. Hati yang terduakan. Sama seperti perasaan Tuhan saat diduakan. Kamu telah syirik sayangku, kamu telah menduakan aku!

Taman Surga…

Dulu aku mengimpikannya, dulu aku begitu menginginkanmu bahkan hingga detik ini perasaan itu terus berkelangsungan. Berkembang pesat hingga aku menjadi aku yang ingin mengembangkan sayap menutupi dirimu dari dingin udara yang tak bersahabat, menjadi payungmu saat mentari terik menyengat, menjadi bilik untukmu berteduh saat hujan dan menjadi selimut untuk malam-malam dinginmu.

Aku ingin menjadi cahaya di malam. Cahaya yang tak perlu begitu terang. Hanya cahaya kecil yang lemah, cahaya yang cukup untuk dirimu merasa bahwa kamu tidak sedang berada dalam tempat yang gelap karena aku tahu kamu takut gelap.

Aku ingin menjadi lagu-lagu tembang kenanganmu untuk membawamu tidur dalam pelukan mimpi-mimpi indah. Karena aku tahu betapa banyak mimpi buruk yang terus menyertaimu.

Aku ingin menjadi seperti semua itu. Aku ingin menjadi pelindungmu. Namun rasanya itu hanya kekonyolanku. Aku tahu kamu tidak mengharapkan itu dariku, karena aku hanya pelampiasanmu. Aku tahu.

Aku ingin menyanyikan satu lagu kepadamu, namun seperti yang kamu tahu, aku tak pernah mampu mengingat syair-syair lagu.

Kamu, telah tinggal dalam hati
Dan takkan aku lepas lagi
Tetaplah kau di sini

Kamu, bagaikan bidadari
Datang dan turun ke bumi
Menetap dalam nadi

Kamu, wanita pilihanku
Kamu cinta matiku
Hiduplah bersamaku

Kamu, redakan ambisiku
Menepiskan khilafku
Bidadari surgaku

Bila kita bersama
Kita kan bahagia
Kan kudendangkan lagu
Itu hanya untukmu

Bila engkau pergi
Bawaku bersamamu
Karena aku setia padamu

Ku mohon padamu
Jadilah pengantinku
Aku takut kehilanganmu

Itu lagu yang selalu ingin kunyanyikan untukmu. Semoga engkau mengerti sekarang. Semoga engkau memahami apa makna Neraka Hati.