Dewasa (?)

Aku baru tahu, ternyata dia telah berubah. Sudah lama aku tidak bertemu dengannya, dan memang bukan hakku lagi untuk meluruskannya lagi. Hanya akan menjadi petaka baru jika dia kuluruskan, telah terlampau menyimpang apa yang ada padanya.

Dewasa. Mungkin sudut pandang kami tentang dewasa itu berbeda.

Baru ku tahu, cara berpakaiannya telah berubah. Kata temannya, sekarang dia telah dewasa. Aku cuma tersenyum, miris, geleng-geleng kepala.

Entah apa yang telah terjadi sehingga dia berubah menjadi begitu cepat. Semoga tidak liar. Yang aku takutkan semoga tak terjadi, semoga dia tidak seperti makhluk-makhluk yang sering bercerita hingga pagi tiba kepadaku, tentang bagaimana mereka hilang dalam hidup. Atau cerita tentang mereka-mereka yang telah terpeleset hingga ternoda dan tercederai.

Berjuta kali aku berdoa. Tuhan, selamatkan dia.

Baca Selengkapnya

Cinta Butuh Dewasa

Jikalau ku mengenang jejak, ada satu pelajaran berharga yang kudapat: Cinta Butuh Dewasa.

Dulu, aku pertama mengenal cinta yang dapat kupahami secara kasat. Aku mampu memberikan cinta, aku mampu menelepon cinta, aku mampu tertawa bersama cinta. Hingga prahara datang, membordirku dalam bentuk yang tidak lagi kupahami.

Sadar. Cinta telah hilang.

Pernah kutanyakan pada cinta, “apakah engkau membutuhkan aku menjadi dewasa? Sungguh aku tidak dewasa.”

Cinta tersenyum. “Tidak.” Begitu katanya.

Awalnya aku paham cinta adalah jujur, hingga ketika prahara datang bahwa semua adalah dusta. Ternyata, cinta butuh dewasa.

Dewasa datang bak hantu blawu. Seperti gundorowo. Aku takut, aku tak berani menyerangnya. Aku ingin cinta bahagia, makanya aku diam. Aku tahu, cinta butuh dewasa.

Aku berlari ke belakang, aku takut. Aku bingung ketika cinta bilang, “kamu jangan lagi menghubungiku, ya!”

Baca Selengkapnya

Sampai Saat Ini, Aku Masih Cinta

Pada satu orang aku berkata jujur, “sampai saat ini aku masih cinta.”

Dia minta aku ke rumahnya, ambil tutorial animasi membuat bearing dengan software Blender. Tapi ketika dia memintaku, kukatakan aku tidak bisa.

“Daerahmu terlalu mengundang sejuta kepingan waktu yang ingin ku lupa. Aku tak sanggup!” Ucapku via YM saat itu.

Dia yang tahu problemku cuma terkekeh. Sialan! Umpatku.

Kemudian dia menyindirku dengan perkataan seseorang itu, perkataan seseorang kepadaku yang akhirnya ku tahu cuma alasan picisan. Alasan yang membuatku semakin tidak paham dengan makhluk yang bernama perempuan.

Baca Selengkapnya

Masih Tentang Lagu Gaza

Masih tentang lagu We Will Not Go Down in Gaza Tonight, seharian aku mendengarkannya. Disela-sela sakitku yang begitu menggebu. Sakit? Lho, aku belum cerita ya kalau aku sudah 4 hari sakit. Awalnya ketika dari Lampuuk, sehabis mamam Pop Mie plus kelapa muda kepalaku langsung pusing-pusing dan perutku terasa sakit sekali. Untung saja aku perginya barengan fifi, jadi ga repot bawa kereta dengan kondisiku yang seperti itu.

Jadi kira-kira sudah 3 hari aku ndak masuk kantor juga. Berat rasanya badan ini, mana perutku tegang. Semalam baru ke dokter, gile bayarannya 75 ribu sekali periksa. Perasaan terakhir sakit aku cuma bayar 50 ribu doank gitu.

Pokoknya disela-sela tanpa rutinitas itu, aku mendengarkan sayup-sayup lagu Gaza Tonight didendangkan. Suara khas Michele Heart bertalu-talu memenuhi gendang telingaku. Seperti biasa, aku menangis. Aku meresapi apa yang juga dirasakan oleh anak-anak Palestina, mereka yang kehilangan ibu/bapak/anak/saudara. Bagaimana mereka merasakan apa yang dinamakan genocide, suatu cara keji pemusnahan suatu etnis.

Baca Selengkapnya

Lelaki Menangis, Pantaskah?

Gimana, bisa dengar tidak dengan lagu yang dinyanyikan? Jika tidak maka kemungkinan flash Anda belum diupdate atau speaker Anda belum dihidupkan. Lagu di atas adalah lagu Gaza Tonight, sebuah lagu yang bercerita tentang keadaan Palestine.

Tahu tidak apa reaksiku setiap mendengar lagu ini disenandungkan? Menangis!

Aku menangis, air mataku meleleh. Bayanganku terjun bebas ke Palestine, tanah dimana kemerdekaan diinjak dan kebebasan terkurung. Aneh, seluruh dunia malah membela “sang monster”. Mereka yang mengagungkan hak asasi seolah lari, menutup mata, telinga, dan bisu. Tak ada yang berani berbicara lantang, mereka mengulur meminta perdamaian-perdamaian padahal sedetik yang terlewat menghabiskan nyawa manusia-manusia Palestine. Mereka tidak mampu pongah seperti ketika WTC rubuh menjadi abu, menunjukkan semua orang teroris dan membangun kubah iblis di Guantanamo.

Baca Selengkapnya