Menawan Rindu

Pernahkah sampai kepadaku tentang fatwa rindu? Tentang hati yang selalu berdebar ketika nama sang kekasih disebutkan. Saat duduk, tidur, dan berdirimu, nama kekasih tidak juga jeda menemani. Kisah tentang rindu yang tidak memiliki episode untuk berhenti.

Aku ingin menawan rindu, di dalam sel yang bahkan tidak memiliki terali. Aku ingin rindu itu tidak pergi. Telah aku tuliskan satu nama untuk satu rindu di dalam satu hati. Nya.

Dia yang aku sebut kekasih, sesungguhnya telah memiliki nama. Tetapi aku ingin menyebut dengan Nya. Aku ingin nama itu adalah nama persembahanku untuk Nya. Tentang lelaki yang sedang mencintai, dan memberikan nama baru untuk sang kekasih. Dan aku memilih “Nya”.

Aku merindukan Nya. Dalam duduk, tidur, dan tegakku. Nya telah menghisap semua energi rindu. Tidak ada ruang lain selain merindukan Nya. Dan aku teramat mencintai Nya. Aku ingin rindu ini ditawan, agar aku tidak berpaling ke lain hati. Aku ingin, dalam hatiku cuma ada satu Nya yang cuma satu.

Baca Selengkapnya

Aksara Sepi

Tadi siang aku ke kampus. Rencana awalnya hendak bertemu dengan pembimbingku untuk menyerahkan Karya Ilmiah yang sudah aku buat, tetapi di lab tidak ada seorang pun. Cuma ada bangku, meja, dan dinding yang bisu. Lampu lab telah dimatikan, walau siang namun lab tetap tampak gelap. Setelah meletakkan Karya Ilmiah punyaku di meja pembimbingku, aku memutuskan pulang.

Sebelum pulang, aku berjalan ke parkiran. Dalam benakku ketika itu, singkat sekali hari ini aku di kampus, juga aku merasa sepi.

Aku merasa sangat kesepian saat itu. Jantungku juga mulai gugup. Akibatnya, ada banyak kesalahan simple yang aku lakukan dalam keadaan demikian, berjalan tanpa fokus, tertendang batu, aku seperti tidak mampu mengontrol gerakku.

Aku memang agak kaku. Jika di dalam keramaian, aku merasa kurang nyaman. Sering sekali salah tingkah jika sudah beramai-ramai, terutama di antara orang-orang yang tidak aku kenal. Karenanya aku agak malas jika mengunjungi pameran, kecuali pameran komputer. Di pameran komputer pun biasanya aku mengajak teman agar aku memiliki orang yang kuajak berdialog agar gundah dan rasa gugupku sedikit terobati.

Baca Selengkapnya

Kuangen

Kadang rasa kangen bisa saja muncul padahal seseorang itu selalu ada di depan kita. Jadi, ketika seseorang itu berada jauh dari kita, wajar saja jika rasa kangen itu sering mendadak muncul.

Sudah beberapa hari ini aku kehabisan pulsa. Terlebih, mengirim sms ke luar negeri itu cukup mahal, sekitar Rp 600 per sms. Kalau menyapa via ym, seringnya aku atau dia terlalu sering sibuk dengan pekerjaan masing-masing.

Memang lebih enak pakai sms, kapan pun di mana pun selama sinyal masih ada bisa saling berkirim kabar dan menanyakan kabar masing-masing. Tetapi ya itu kendalanya, aku sekarang menjadi korban fakir pulsa. Dulu, aku malah tidak pernah berpikir akan kehabisan pulsa.

Huff. Dunia sedang berbalik di saat aku terserang demam mala-kuangen.

Namaku Kathmandu

sufism
sufiroad.blogspot.com
Rosario itu masih mengamit di tanganku. Dalam genggamanku dia berputar, sehaluan dengan bait-bait nama Tuhan yang bertasbih dari bibirku. Bibir kering yang terlalu lama tidak disirami air. Liurku juga telah kering, bahkan sering sekali kerongkonganku terasa sakit. Panas membumbung tinggi, matahari seperti sejengkal di atas ubun-ubun.

Rosarioku adalah tasbih yang unik, terukir dari biji-biji korma yang telah dikeringkan. Korma adalah makanan yang disukai nabiku, aku menjadikannya sebagai rosario sebagai bentuk cinta walau aku tetap memakan gandum yang telah menjadi roti. Cuma sesekali aku memakan korma, aku tidak begitu suka dengan sesuatu yang manis kecuali susu dengan tambahan sedikit gula.

Tidak cuma biji korma. Aku juga menyimpan segenggam pasir dari tanah yang pernah disinggahi oleh nabiku. Pasir itu kumasukkan ke dalam sebuah kantung yang kukalungkan dileherku. Sesekali jika cintaku telah begitu melangit maka aku berdiam sejenak, kutundukkan kepalaku ke tanah lantas kantung pasir itu kuciumi. Aku seperti sedang menciumi kaki nabiku.

Aku cinta nabiku.

Guru sering bercerita, dulu. Dia pernah kata bahwa nabiku adalah manusia suci, yang dosanya terampunkan dahulu, sekarang, dan masa akan datang. Nabiku adalah pecinta Tuhan sejati. Walau Tuhan telah mengampunkan segala dosa-dosanya, namun nabiku tidak langsung naik kepala. Dia tetap tekun bercinta dengan Tuhannya. Saban malam dikorbankan tidurnya demi Tuhannya. Pernah ditanya mengapa hal demikian dia lakukan, dan engkau tahu jawabnya? “Tidak bolehlah aku menjadi hamba yang bersyukur?

Baca Selengkapnya

Mentawarkan Kesedihan

Ada banyak kesedihan yang harus ditawarkan dalam setiap perjalanan kehidupan. Bahkan pun gembira harus ditawarkan, agar tidak menjadi terlalu manis, asin, ataupun pahit. Kebanyakan orang tidak pernah mentawarkan diri mereka kepada kebahagian, seperti manis yang selalu hidup di dalam diri kita. Kita terus mengkonsumsi manisnya kehidupan sehingga tidak punya ruang untuk mengingat bahwa dalam setiap episode, ada namanya kesedihan.

Kesedihan seringnya datang dengan berbagai rasa. Aku kadang merasakannya sebagai suatu yang pahit, lebih pahit dari obat. Kadang asin, lebih asin dari lautan ataupun tambang garam. Kadang serupa manis yang keterlaluan.

Banyak yang bingung. Bagaimana kesedihan mampu datang dalam bentuk yang begitu manis. Kadang, dalam suatu rasa kesedihan, ada sebuah rasa seperti mendapatkan berita baru dalam suatu kehidupan. Menambahkan satu poin kebijakan dalam memandang hidup ini. Aku memberikan rasa manis terhadap kesedihan yang demikian. Manis yang keterlaluan.

Namun, apa yang aku rasakan saat ini belum mampu aku jabarkan. Dalam kategori manakah kesedihan yang sedang berlangsung ini. Apakah dia akan menjadi sesuatu yang aku sebut pahit, ataukah asin, atau mungkin jika kelak di ujung aku akan menyebutkan sebuah rasa manis yang ditawarkan kehidupan oleh rasa luka.

Baca Selengkapnya