Bodoh Atau Polos?

Beberapa waktu yang lalu, salah seorang teman kampusku bertanya apa aku jadi mendaftar kerja di PT. Lafarge Semen Indonesia karena ada di buka lowongan di sana. Batas terakhir pendaftaran adalah tanggal 14 Agustus 2011.

Dari awal, aku berencana ingin mencoba mengajukan diri ke sana. Sekedar mengenal bagaimana teknik pengrekrutan pegawai di perusahaan-perusahaan, dan terlebih, aku ingin segera tegak berdiri karena ada seseorang yang harus segera aku genapkan agamanya. (cieee… xixixi…)

Tetapi kemudian, kepada temanku tersebut dengan berat hati aku katakan bahwa aku membatalkan melamar ke perusahaan tersebut. Transkrip nilaiku bermasalah. Seorang kawanku yang lain berkata bahwa di transkrip terbaru, nilai kuliah untuk Kerja Praktekku A padahal nilai sebenarnya B.

Mengetahui hal itu, timbul perasaan tidak enak di dalam hatiku. Walau dalam percakapan chatting itu aku angekin dia tentang nilaiku yang berubah, namun dalam hati kecilku aku tidak suka dengan hal yang sedang terjadi. Aku bertekad, bahwa nilai yang murnilah yang harus ada di transkripku walau pun nilai yang tertoreh lebih baik. Aku lebih menyukai kejujuran.

Aku pun sudah bertanya kepada dosen pembimbing skripsiku, dan beliau pun mengatakan lebih baik nilaiku diganti lagi menjadi nilai yang sebenarnya. Aku mengangguk sepakat.

Baca Selengkapnya

Memeluk Ayah

Ada satu keinginan yang tidak berani aku lakukan, yaitu memeluk ayahku dari belakang terus aku katakan: “Ayah, aku sayang kamu”

Saat umurku sudah semakin tua dan dewasa, aku semakin menjauh dari orang-orang sekelilingku. Aku malu untuk memulai pembicaraan, atau memulai sesuatu yang bersifat istimewa. Pada ulang tahunku yang ke 25, aku dihadiahi sebuah kue besar berwarna coklat, manusia bumi menyebutnya kue tart atau blackforest. Saat itu, aku sangat malu, malu dalam bentuk yang positif yang orang-orang inggris mengatakannya sebagai blushing, sebuah episode yang jika dianimasikan adalah pipimu menjadi merah seperti buah strawberry.

Ayah adalah seorang yang sangat perhatian kepada keluarga ini. Walau terkadang, yang namanya manusia ada kalanya bisa jadi menyebalkan tetapi hal itu seperti setitik debu dibandingkan dengan semua hal yang telah dia lakukan untuk keluarga ini.

Walau samar, namun aku masih mengingat saat umurku beranjak remaja, entah mengapa aku memintanya kembali menggendongku di belakang punggungnya. Dulu sekali, saat aku masih begitu kecil aku suka digendongnya di belakang punggungnya. Kadang, aku suka digendong saat hendak tidur atau bangun tidur.

Baca Selengkapnya

Hal-hal Kecil Yang Berarti

Terkadang ada banyak hal-hal kecil yang menjadi kerikil dalam perjalanan kita. Terkadang pula, hal-hal kecil itu pula yang menjadi batu sandungan, namun tidak pula jarang yang kecil menjadi awal sebuah kejuatan besar, atau menjadi bumbu-bumbu indah dalam sebuah kehidupan.

Hal-hal kecil yang tumbuh, dipupuk, dibangun, kelak suatu saat akan menjadi besar. Aku masih mengingat ketika seseorang menceritakan kepadaku kisah Bilal. Nabi, mendengarkan terompah Bilal di surga, karena hal kecil yang secara kontinu dilakukannya, yaitu shalat sunnah setelah wudhu.

Atau masihkah engkau mengingat, tentang seorang pelacur yang rela turun ke dalam sumur terdalam untuk memberi minum seorang anjing yang kehausan? Perbuatannya itu mengantarkannya ke surga, walau mungkin dia adalah seorang pezina.

Dan masih berbekaskah ingatan tentang seorang wanita di zaman Rasulullah yang harus masuk neraka hanya karena menyiksa seekor kucing mati kelaparan, padahal dia adalah seorang ahli ibadah, juga seorang yang gemar berpuasa.

Ada banyak hal yang kecil yang ada di dunia ini terkadang walau tidak terlihat penting namun menjadi kunci penting. Terlebih hal-hal kecil yang dilakukan secara berketerusan.

Baca Selengkapnya

Kemarau dan Hujan

Kata orang, “kemarau semusim bisa terhapus oleh hujan sehari.”

Sebentar lagi mau musim pemilukada di Aceh, kita saksikan berbagai orang bertarung mengiklankan dirinya bahwa merekalah yang terbaik yang layak dipilih. Dan masyarakat seperti terhipnotis dengan hal tersebut, walau cenderung kebanyakan mulai apatis dengan apa yang terjadi pada negeri ini.

Saat puncak, orang-orang seperti lupa, apa yang telah dikerjakan 5 tahun lewat oleh partai-partai yang mereka pilih. Oleh orang-orang dengan wajah yang terus berganti, namun watak, kelakuan, tingkah laku, tabiat yang tetap sama. Namun, hampir setiap orang lupa. Bahwa kemarau yang mereka rasakan, terhapus oleh hujan iklan kampanye bakal calon yang mengguyur datang.

Begitu pula hal sebaliknya terjadi, “Setitik nila, rusak susu sebelanga.”

Baca Selengkapnya