Kamu Jangan Menangis

Kamu jangan menangis. Setiap membayangkan kamu menangis pasti aku ikut menangis. Berat derita yang kamu tanggungkan begitu membuatku miris. Aku bingung harus berbuat apa. Bingung bagaimana cara agar air mata mampu berubah menjadi bahagia.

Aku minta maaf atas keteledoranku. Atas semua khilafku. Atas semua salahku yang harus kamu tanggungkan itu.

Apakah masih tersisa waktu untuk seribu hari? Setapak demi setapak aku membangun langkah, mencoba agar tegak punggung itu segera tiba. Lalu, mencoba bersamamu dalam tegaknya itu.

Apakah masih ada sisa hari untuk bersabar?

Setiap lelaki sejati pasti ingin membuat setiap orang bahagia. Namun, lemahku cuma mampu menghadirkan derita. Aku malu untuk terus meminta setiap orang bersabar. Aku tidak akan lagi meminta, setiap orang punya pilihan. Kamu, aku, harus memilih.

Aku memilih untuk berlari secepat yang aku bisa. Menegak secepat yang aku mampu. Kali ini untuk kamu yang ketiga. Kamu jangan menangis lagi, aku mohon.

Migrain

migrain
sumber: tanyadokteranda.com
Tiada hari tanpa keluhan. Kadang saya merasa wajar jika saya mengeluh, “toh saya adalah manusia“, demikian pembelaan saya terhadap diri saya sendiri setiap saya mengeluh. Beberapa hari ini saya suka migrain, sakit kepala sebelah pada bagian tengkorak koyo sebelah kiri.

Biasanya kejadiannya berlangsung singkat. Tidak sampai 5 menit saya sakit kepala kemudian sudah sembuh dengan sendirinya begitu saya menekan-nekan pada bagian yang berdenyut-denyut itu. Tetapi, kadang begitu saya terlalu banyak mengkonsumsi cahaya (seperti berada di terik matahari, atau di depan komputer) rasa sakit itu kembali muncul. Mungkin itu erat kaitannya dengan masalah optik mata saya.

Aneh sekali rasanya. Menurut yang saya baca, otak adalah salah satu bagian tubuh yang tidak merasakan sakit. Karenanya, jika seorang dokter akan melakukan pembedahan otak, yang dibius tentu bukan otak si pasien. Saya tidak tahu benar atau salah tentang hal itu, untuk pastinya silahkan bertanya kepada dokter terdekat.

Baca Selengkapnya

Selagi Masih Sempat

Beberapa waktu yang lalu saya mendapatkan sebuah direct message di akun twitter. Seorang teman yang baru saya kenal mengatakan bahwa 12 Agustus yang lalu dia telah kehilangan sosok seorang Ayah. Membaca pesan itu, hati saya terasa pilu. Terlebih, dia juga mengatakan sebelum Ayahnya meninggal dia sempat mengkomentari tulisan saya tentang Memeluk Ayah.

Saat itu saya bertanya, “Apakah kamu sudah mencium kening Ayahmu Kak, untuk terakhir kali?

Sudah,” jawabnya. “Namun setelah beliau tak ada.

Kebanyakan dari kita, mungkin selalu terlambat untuk mengungkapkan rasa sayang kepada orang tua kita. Mungkin, hanya ada tetes air mata kerinduan setelah mereka pergi, namun saat mereka masih bersama-sama kita, saling tertawa atau berbagi rasa, kita seperti melupakan kehadiran mereka. Dan setelah masa keberpisahan itu tiba, baru kita sadar, betapa kita mencintai mereka.

Baca Selengkapnya

Cinta Diantara Dua

Kemarin, sekitar jam 2 pagi dering handphone-ku berbunyi. Ada 2 panggilan masuk yang memang sengaja tidak aku angkat, selain karena nomornya tidak aku kenal, juga aku memang sangat mengantuk sekali saat itu. Merasa diabaikan, sebuah sms hadir dari nomor yang sama mengucapkan “Assalamu’alaikum”.

Sekitar pukul 3, aku membalas sms tersebut dari nomor yang berbeda. Kebetulan, nomor simpatiku habis pulsa. Baru tadi siang aku isi pulsa simpati karena memang khusus ingin menelepon seseorang, namun malah seseorang itu tidak mengangkatnya.

Ternyata, yang meneleponku itu adalah seorang anak remaja berumur 15 tahun. Seorang anak yang sedang galau untuk memilih apakah tetap ke pacarnya atau beralih kepada selingkuhannya. Dia sedang mencintai seseorang yang berbeda dari yang menjadi haknya.

Salah tidak kak aku mencintai seseorang selain pacarku?

Baca Selengkapnya