Mengapa Aku Malas Infak

Akhir-akhir ini aku malas infak.

Bukan apa-apa, tapi sepertinya kok di Banda Aceh ini semakin banyak saja pengemis. Dan rasanya mengemis itu bukan lagi suatu yang memang dilakukan karena terpaksa, namun sudah menjadi pekerjaan tersendiri.

Jangan salah, omset mengemis itu satu bulan lebih tinggi daripada gaji seorang PNS.

Kadang aku kecewa dengan para pengemis. Mereka sepertinya tidak sadar, akibat kebanyakan dari mereka yang mengemis untuk pekerjaan telah membuat banyak orang menjadi apatis dengan kemiskinan. Paling tidak contohnya aku.

Baca Selengkapnya

Aceh Blogger Goes To School

Rencananya nanti waktu ultah ABC (Aceh Blogger Community) akan mengadakan pelatihan blogs untuk anak-anak sekolah. Tapi aku sendiri belum tahu di mana dan kapan acara itu akan dilaksanakan pastinya, tapi yang penting di milis sedang hangat-hangatnya pembicaraan tentang itu.

Aku sendiri lebih respek di Taman Sari, soalnya di sana ada hotspot. Tapi dari waktu chatting dengan Muda Bentara via YM di BPDE juga bagus tempatnya, malah ada komputer kosong sekitar 50 buah.

Kalau begitu jadi terpikir ide berikutnya, bagaimana jika dibuat pelatihan lepas (di Taman Sari). Sediakan bangku, pasang spanduk sapa yang mau ikutan silahkan. Di sediakan modul sekedarnya. Jadi tidak perlu ada pendaftaran, cuma sediakan bangku dan spanduk bahwa di sana sedang ada acara. (Idenya muncul waktu baca majalah Neotek waktu buat acara pembicaraan lepas di mall-mall tentang security computer, yang diikuti oleh orang yang lalu lalang di mall dan merasa tertarik maka meraka ikutin pembicaraan tersebut).

Maklumlah ABC belum memiliki banyak dana.

Nanti rencananya, dalam sesi pelatihan nanti setiap peserta akan diberikan sebuah blogs dengan domain nanggroe.com.

Wahh… ga sabar menunggu ABC ultah. Pasti seru!

Tunggu liputan berikutnya yaa…

Aku Bukan Pengecut

sekarang aku malah bingung
malu menyebut nama setelah lahir cinta
takut-takut nama akan menjadi belati
menghunusku dalam…
ahh, cerita sang pengecut kembali terukir

haruskah seperti itu?
pengecut ditandai dengan katakan tidaknya cinta
haruskah seperti itu?
pengecut adalah mereka-mereka yang tidak punya malu

lantas kemana sabda nabi,
saat dia berkeras kata:
jika sudah tidak punya malu, maka lakukanlah sesukaku
kemana?
matikah kata itu ditelan jaman?
atau telah menjadi pasir yang tersapu ombak

salahkah bila aku malu?
salahkah bila nama itu hanya terkata dalam relung
salahkah bila nama tak pernah terucap
ini karena malu
bukan karena aku pengecut

maaf teman,
aku bukan pengecut
terlalu salah engkau menduga

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1429 H

Berbaik-baiklah kamu terhadap umat manusia, walau kebanyakan dari mereka bukanlah makhluk yang baik. Bersikap lemah-lembutlah kamu dan tahanlah amarahmu kepada mereka walau terlalu banyak dari mereka yang membuatmu ingin menengadah tangan ke langit meminta bencana segera ditimpakan. Maka bersabarlah.

Mari kita mengevaluasi diri, setelah Ramadhan singkat yang kita lalui, status sebagai apakah yang kita sandang? Sang pemenang atau sang pecundang.

Apakah setelah Ramadhan ini kita lebih bersikap hati-hati? Apakah kita telah mampu melatih emosi kita? Apakah kita masih seperti yang dulu atau lebih buruk lagi!

Baca Selengkapnya

Lelaki Abu-abu

Aku bukan pria yang baik. Aku tidak putih namun tidak juga hitam. Aku tidak berada di kiri namun bukan berarti aku ada di kanan. Aku di tengah-tengah. Aku, lelaki abu-abu.

Temanku pernah mendebatku tentang ini. Katanya, ”Ben, tidak ada yang namanya kaum tengah. Yang ada adalah kiri atau kanan, kebaikan atau keburukan. Nanti jika dihisap kelak, cuma ada dua pilihan; surga atau neraka dan tidak ada yang ditengah-tengah.

Temanku benar, tak ada yang di tengah. Kaum tengah tidak pernah memiliki ruang, abu-abu bukanlah warna, dia tidak pernah memiliki tempat. Namun, terkadang aku mendebatnya, ”Bukankah Islam itu pertengahan? Yang tengah antara Yahudi dan Nasrani. Yahudi yang begitu kaku atau Nasrani yang terlalu asih. Islam adalah jawaban dari kesempurnaan. Sebuah jalan tengah bagi umat manusia.

Baca Selengkapnya