Rasanya lama sekali, aku tidak memanggilnya dengan sebutan bidadari ketiga. Aku sekarang lebih sering memanggilnya dengan sebutan kamu, atau cuma memanggil dengan sebutan namanya.
Aku kembali ke masa-masa di mana aku memiliki alasan untuk memanggilnya bidadari ketiga. Dia mengajarkan aku apa yang tidak diajarkan oleh kedua bidadari sebelumnya: “mimpi, harapan, keinginan, kehidupan”
Akhir-akhir ini aku kembali sering mengunjungi blognya. Kemarin-kemarin aku mempuasakan diri melihat apa yang ditulis olehnya. Sering sekali, tulisannya membuat jantungku berdetak lebih kencang karena seringnya aku menangkap sesuatu dengan tafsiran yang berbeda dengan inti dari sebenarnya yang tertulis. Kadang aku suka cemburu ketika dia menuliskan tentang salah seorang tokoh, atau berkenaan dengan seseorang.
Dari dua bidadari sebelumnya, cuma bidadari kedua yang aku suka. Sedangkan bidadari pertama bagiku adalah seorang teman dekat. Aku menyukai bidadari kedua karena dia memang “good looking” atau manis, yang namanya juga manusia pasti kita menyukai hal yang indah-indah. Tetapi, pada bidadari ketiga, aku menyukainya bukan karena fisik. Awal mengenal bidadari ketiga, aku tidak mengganggap bahwa dia cantik, bahkan sama sekali tidak tertarik.
