Tentang Bidadari Ketiga

Rasanya lama sekali, aku tidak memanggilnya dengan sebutan bidadari ketiga. Aku sekarang lebih sering memanggilnya dengan sebutan kamu, atau cuma memanggil dengan sebutan namanya.

Aku kembali ke masa-masa di mana aku memiliki alasan untuk memanggilnya bidadari ketiga. Dia mengajarkan aku apa yang tidak diajarkan oleh kedua bidadari sebelumnya: “mimpi, harapan, keinginan, kehidupan

Akhir-akhir ini aku kembali sering mengunjungi blognya. Kemarin-kemarin aku mempuasakan diri melihat apa yang ditulis olehnya. Sering sekali, tulisannya membuat jantungku berdetak lebih kencang karena seringnya aku menangkap sesuatu dengan tafsiran yang berbeda dengan inti dari sebenarnya yang tertulis. Kadang aku suka cemburu ketika dia menuliskan tentang salah seorang tokoh, atau berkenaan dengan seseorang.

Dari dua bidadari sebelumnya, cuma bidadari kedua yang aku suka. Sedangkan bidadari pertama bagiku adalah seorang teman dekat. Aku menyukai bidadari kedua karena dia memang “good looking” atau manis, yang namanya juga manusia pasti kita menyukai hal yang indah-indah. Tetapi, pada bidadari ketiga, aku menyukainya bukan karena fisik. Awal mengenal bidadari ketiga, aku tidak mengganggap bahwa dia cantik, bahkan sama sekali tidak tertarik.

Baca Selengkapnya

Saya Mencintai Anda

Saya kaget saat membaca tulisan baru yang ada di wordpressnya. Tentang perasaan tertekan, dan lega yang telah pupus hilang. Padahal, baru semalam saya menemukan kembali rasa bahagia itu bersamanya namun mengapa sontak bahagia itu hilang.

Saat membaca tulisannya, saya merasa bertanggung jawab atas apa yang saya tulis sebelumnya, tentang “Ketakutan Manusia”. Di sana saya mengambil sampel seorang wanita yang dilanda duga dan keraguan apakah melanjutkan hubungan dengan seorang lelaki atau tidak. Mungkin pada alinea lelaki paling tidak suka didiamkan, dia merasa bahwa dialah aktor tunggal itu.

Saat membaca tulisannya, saya bergetar. Seperti ada sedikit kerikil di dalam dada ini, rasanya agak-agak sakit, dan air mata pun tumpah. Lab sedang sepi, cuma ada saya seorang sehingga saya tidak perlu malu untuk menangis sepuasnya.

Lagi-lagi, saya menyakiti dirinya. Memohon maaf, lantas kembali menyakiti.

Baca Selengkapnya

Menanam Mawar

bunga mawar
bunga mawar
Atas saran seorang teman, aku disarankan untuk menanam bunga agar saat aku bosan memiliki kegiatan lain untuk menghilangkan rasa bosanku. Awalnya dia menyarankan aku menanam bunga “lidah mertua”, nama bunga yang aneh sekali menurutku. namun saat itu aku bertanya, “bunga apa yang paling susah untuk ditanam?

Bunga mawar,” jawabnya.

Tetapi jangan bunga mawar yang sudah ada di polibet, yang dijual-jual itu. Harus bunga yang belum dirawat. Kalau beli mawar yang udah jadi itu namanya merawat bukan menanam.” Lanjutnya lagi.

Aku mengangguk-angguk ketika itu. Saran itu aku catat di dalam hati.

Tadi siang, di kantin aku tanya sama Mirza, bagaimana cara menanam mawar? Soalnya aku ingin menghilangkan stressku dengan menanam mawar. Tetapi jawaban Mirza lebih aneh, kalau aku menanam mawar malah ko semakin bosan dan stress!

Mendapatkan jawaban itu aku jadi bingung. Haruskah aku menanam mawar?

Baca Selengkapnya

Hal Yang Paling Menyakitkan

Hal yang paling menyakitkan adalah ketika kita menyakiti orang lain.

Aku merasa telah berkali-kali menyakiti orang lain. Kali ini, yang aku sakiti adalah orang yang paling aku cintai. Entah mengapa, apakah aku si makhluk tega? Dia yang mampu menyakiti orang-orang yang paling dia cintai. Entahlah.

Andai orang itu langsung katakan, “Beni! Kamu menyakiti diriku!

Walau tidak dalam sekejap, mungkin aku akan berangsur berubah. Namun hal tersebut harus dikatakan dengan tegas, bukan dengan candaan atau suara yang lembut. Terkadang, lelaki memang harus dikerasi.

Manusia seringnya lupa. Hal yang mereka rekam dengan mudah mereka lupakan. Aku pun sama, ada banyak hal nilai-nilai yang aku rekam namun aku lupakan. Entah demi kepuasan sejenak, demi kesenangan, atau apapun itu, intinya adalah terlupa atau dilupakan.

Aku berharap sedapat mungkin tidak menyakiti orang lain. Rasanya sungguh pedih, walau orang lain yang tersakiti namun aku pun merasa sangat bersalah dan berdosa. Walau mungkin sejam kemudian aku mampu kembali tertawa, namun ingatan tentang menyakiti lama mungkin baru mulai akan pupus.

Aku berharap tidak akan menyakitinya lagi, karena bagiku itu pun teramat sakit. Mungkin lebih baik aku pergi menghilang daripada kehadiranku cuma mampu menimbulkan rasa sakit yang mendalam.