Massive Earthquake Triggers Tsunami in Japan

Lets pray for Japan. The massive earthquake triggers tsunami in Japan.

A large earthquake about 8.8 on the Richter scale hit northeastern Japan and set off tsunami. The Japan earthquake hit 125 kilometres off the eastern coast and has set off a tsunami. Officials state that waves as high as 20 feet could hit the coast.

Reports are out that 28 people have been found dead, but it could get much worse.

When a 9.0-magnitude earthquake struck the Banda Aceh area of Indonesia on Dec. 26, 2004, it caused a massive tsunami that killed about 250,000 people in 14 countries and washed away entire communities.

Baca Selengkapnya

Negeri di Awan

Di bayang wajahmu
Kutemukan kasih dan hidup
Yang lama lelah aku cari
Dimasa lalu

Kau datang padaku
Kau tawarkan hati nan lugu
Selalu mencoba mengerti
Hasrat dalam diri

Kau mainkan untukku
Sebuah lagu tentang negeri di awan
Dimana kedamaian menjadi istananya
Dan kini tengah kaubawa
Aku menuju kesana

Ternyata hatimu
Penuh dengan bahasa kasih
Yang terungkapkan dengan pasti
Dalam suka dan sedih

Baca Selengkapnya

Tertawa Itu Indah

Tertawalah. Bahkan hingga air matamu berderai karenanya.

Dalam sejuta kegundahan, kadang tertawa adalah jalan keluar untuk menentramkan segalanya. Tertawa itu seperti psikotropika bagi mereka yang dilema, bagi mereka yang memangkul beban. Maka tak heran, penuh rumah sakit jiwa dengan orang yang tertawa. Mereka cuma mengikuti apa yang alam telah mengaturnya, jika saraf-sarafmu telah terlepas, maka biarkanlah tawa itu bebas.

Namun, sebagian penuh dengan rasa histeris dan kemenjeritan. Tragis.

Tak ada yang baik dengan segala keterlaluan. Termasuk tertawa. Bahkan tawa pun jika terlalu berlebihan akan merusak jiwa. Hatimu akan keras karenanya, dan wibawamu akan jatuh olehnya. Tertawalah sekedar, seperti seorang nabi tertawa. Tertawa yang memiliki tempat. Tertawa seadanya.

Baca Selengkapnya

Anak Haram

Bapakku setan. Ibuku jalang. Orang-orang bilang, aku anak haram.

Aku pernah ingin tanya, “Ibu, mengapa tidak aborsi saja?” Mengapa harus melampiaskan dendam kepada Bapak terhadapku. Mengapa pula harus selalu memakiku, menumbukkan kepalaku ke dinding, menamparku, dan menyuapi aku dengan darah yang mengalir dari bibir-bibirku yang pecah. Pernah aku ingin bertanya tentang hal itu, namun aku tak berani.

Lelaki yang disebut Bapak yang tidak aku tahu siapa dia. Kelak jika aku bertemu dengannya, aku ingin juga tanya hal yang serupa, “Bapak, mengapa tidak paksa saja Ibu aborsi. Agar aku tidak pernah lahir, agar aku tidak tersiksa.

Anak-anak lain jika ditanya, ingin bercita-cita menjadi apa? Mereka mungkin akan riang menjawab ingin menjadi dokter, pilot, guru, atau apapun. Aku, jika ditanya hal yang serupa, aku cuma ingin jawab: aku ingin bunuh mereka.

Baca Selengkapnya