Tak Sama Lagi

Manusia harus berubah
Manusia harus berubah
Kepada temanku, dalam ramah-tamah khas Aceh, di sebuah cafe sepi di Banda Aceh, aku pun mulai bertutur. Aku merasa tak sama lagi seperti dulu, semenjak aku mulai mengenal bahwa blog mampu menghasilkan uang. Aku kehilangan hampir separuh ruhku. Ruh menulisku yang ternyata begitu mudah terbeli dengan uang.

Saban hari, aku lebih cenderung memeriksa, apakah hari ini ada yang klik iklan di Google AdSense daripada memeriksa apakah ada yang membaca blogku atau malah memberikan komentar?

Dulu, aku paling suka saat orang-orang datang ke blogku lantas memberikan komentar. Sekarang, rasa itu masih ada walau mulai meredup padam. Sekarang, aku lebih suka melihat, apakah ada yang mengklik iklan? Sehingga aku bisa mendapatkan penghasilan dari 600 tulisan yang ada di blog ini?

Aku merasa, ruh yang dulu ada padaku mulai menghilang. Aku memang seorang pemalas, yang menjadikan mood cuma sebagai alasan sebuah produktivitas. Seharusnya, seorang idealis mampu menciptakan moodnya sendiri untuk menulis. Dan aku, ternyata, hanyalah seorang: pemalas dan juga gagal. Aku tidak akan membantah hal tersebut.

Menulis, seharusnya, selain pelepasan apa yang ada di benak, juga seperti meracik bumbu masak. Dan sekaligus, menulis juga berarti membaca ulang setiap informasi yang tersimpan di dalam memori kita untuk disampaikan ke khayalak. Begitulah menulis menurutku. Tanpa dengan banyak membaca, mustahil menulis dengan tulisan yang sarat informasi. Dan aku, memiliki kekurangan dua hal tersebut: kurang membaca maka aku pun kurang menulis.

Lantas, apakah dengan demikian aku menjadikan alasan monitize blog sebagai alasan mengapa aku malas menulis? Aku menjawabnya, “IYA.”

Uang adalah hal yang membuat manusia banyak terlena. Berkenalan dengan uang membuat aku menjadi gagap dalam menulis. Aku tidak lagi menulis “apa yang aku sukai,” namun malah berubah menjadi tema “apa yang orang-orang ingin baca.”

Aku menulis seolah ingin orang baca, lantas share ke sana-sini. Aku seperti melupakan bahwa, sesungguhnya, dulu saat aku menulis, aku membenamkan makna. Aku ingin orang-orang mengambil apa yang aku tuliskan untuk diriku sendiri dan semoga menjadi pelajaran buat mereka.

Terkadang, dulu aku menulis dengan memberikan penjabaran dari apa yang aku pelajari tentang kehidupan. Yah, aku memang lebih banyak dan lebih menyukai pelajaran kehidupan daripada pelajaran etika yang ada di kertas-kertas yang mulai orang-orang tinggalkan. Mempelajari manusia, memetakan mereka, melihat ke dalam retina-retina mereka, mencoba menduga seperti apa mereka, lebih aku sukai. Manusia penuh dengan misteri. Terutama hati-hati mereka.

Itu yang mulai aku lupakan saat aku menulis. Aku mulai kehilangan ide untuk menuliskan apa.

Aku. Seperti kata orang. Tidak lagi sama.