Anak Haram

Bapakku setan. Ibuku jalang. Orang-orang bilang, aku anak haram.

Aku pernah ingin tanya, “Ibu, mengapa tidak aborsi saja?” Mengapa harus melampiaskan dendam kepada Bapak terhadapku. Mengapa pula harus selalu memakiku, menumbukkan kepalaku ke dinding, menamparku, dan menyuapi aku dengan darah yang mengalir dari bibir-bibirku yang pecah. Pernah aku ingin bertanya tentang hal itu, namun aku tak berani.

Lelaki yang disebut Bapak yang tidak aku tahu siapa dia. Kelak jika aku bertemu dengannya, aku ingin juga tanya hal yang serupa, “Bapak, mengapa tidak paksa saja Ibu aborsi. Agar aku tidak pernah lahir, agar aku tidak tersiksa.

Anak-anak lain jika ditanya, ingin bercita-cita menjadi apa? Mereka mungkin akan riang menjawab ingin menjadi dokter, pilot, guru, atau apapun. Aku, jika ditanya hal yang serupa, aku cuma ingin jawab: aku ingin bunuh mereka.

Baca Selengkapnya

Ubud Writers Festival

Beberapa hari yang lalu, aku mendapatkan notifikasi email di facebook. Kata ada kiriman surat di facebook untukku. Ternyata yang mengirim adalah Winda, teman sekelasku waktu smu dulu. Dia mengabarkan bahwa dia sedang mengikuti kontes flash fiction di Ubud Writers Festival dan meminta kami mem-vote-nya.

Penasaran, aku membaca ceritanya dan kesanku adalah bagus. Ceritanya bagus, lebih bagus daripada cerita-ceritaku.

Aku pun merasa tersindir, karena seperti yang orang-orang tahu, yang lebih sering menulis adalah aku. Maka aku pun ikutan juga, aku mencoba membuat sebuah fiksi mini di ajang Ubud Writers Festival tersebut, judulnya Anak Haram.

Judul link tulisanku itu ada di http://flashfiction.ubudwritersfestival.com/2010/09/anak-haram/ TOLONG DI VOTE YA !!!

Baca Selengkapnya