anak sakit

Aku Sakit

Sudah seminggu aku sakit. Bahkan sekarang masih terasa lemas. Di mulai dari Senin lalu, sudah mulai flu dan puncaknya hari Selasa ketika aku melakukan presentasi konsep desain untuk alat yang akan dijadikan bahan tesis: Horizontal Impact Testing System (HITS).

Karena lemas, bahkan ke kampus sekarang aku masih nebeng dengan temanku. Biasanya dengan Pak Saiful atau dengan Fadhli.

Sakit itu tidak menyenangkan. Kepala pusing. Hidung bocor. Perut terasa berangin. Dan semua ketidaknyamanan di dunia rasanya terkumpul menjadi satu. Dan parahnya lagi, setiap sakit aku paling malas ke dokter. Apalagi dokter sekarang suka banget apa-apa kasih antibiotik. Terkadang, jika tidak tahan, aku biasanya minum Paracetamol, tetapi entah kenapa sepertinya sekarang ini Paracetamol tidak begitu berefek lagi.

(lebih…)

Saya Sakit Demam Berdarah

Fase Demam Berdarah
sumber: askep-net.blogspot.com
Terhitung, mungkin sudah 10 hari saya sakit demam berdarah. Lupa, kapan mulai sakit ini berjangkit, yang jelas sehari setelah saya memotong rambut dan diskusi soal pluralisme bersama si Baiquni (baiquni yang lain), Irfandi, Abdul Ghaffar, dan Mirza Abdi. Padahal, besoknya direncanakan akan bertemu dengan salah seorang bule untuk mendengarkan sejarah kristenisasi (bukan sebagai ajang debat namun sebagai pengetahuan tambahan tentang perkembangan kristen), tetapi karena sakit saya tidak bisa menghadiri diskusi tertutup tersebut.

Saya baru ke dokter pada hari kedua. Saat itu kepala saya sudah terlalu pusing dan panas tinggi. Mendengar keluhan saya tentang badan yang nyeri, sakit kepala, dan demam maka dokter pun berkesimpulan besar kemungkinan saya teridap penyakit demam berdarah. Namun kata dokter saya tidak perlu khawatir, yang penting banyak minum saja. Oh ya, kata dokter juga, juga trombosit saya di bawah 100, saya disuruh segera opname di rumah sakit.

Jadi, selama sakit saya cuma tertidur di rumah. Mamak sempat bertanya, mengapa tidak ada teman yang menjenguk? Saya sebenarnya tidak ambil pusing mengapa tidak ada yang menjengguk, sudah cukup repot dengan sakit mengapa pula harus direpotkan mengapa orang lain tidak peduli terhadap sakit saya? Ya, saat itu saya tidak ambil pusing.

(lebih…)

Hal Yang Paling Menyakitkan

Hal yang paling menyakitkan adalah ketika kita menyakiti orang lain.

Aku merasa telah berkali-kali menyakiti orang lain. Kali ini, yang aku sakiti adalah orang yang paling aku cintai. Entah mengapa, apakah aku si makhluk tega? Dia yang mampu menyakiti orang-orang yang paling dia cintai. Entahlah.

Andai orang itu langsung katakan, “Beni! Kamu menyakiti diriku!

Walau tidak dalam sekejap, mungkin aku akan berangsur berubah. Namun hal tersebut harus dikatakan dengan tegas, bukan dengan candaan atau suara yang lembut. Terkadang, lelaki memang harus dikerasi.

Manusia seringnya lupa. Hal yang mereka rekam dengan mudah mereka lupakan. Aku pun sama, ada banyak hal nilai-nilai yang aku rekam namun aku lupakan. Entah demi kepuasan sejenak, demi kesenangan, atau apapun itu, intinya adalah terlupa atau dilupakan.

Aku berharap sedapat mungkin tidak menyakiti orang lain. Rasanya sungguh pedih, walau orang lain yang tersakiti namun aku pun merasa sangat bersalah dan berdosa. Walau mungkin sejam kemudian aku mampu kembali tertawa, namun ingatan tentang menyakiti lama mungkin baru mulai akan pupus.

Aku berharap tidak akan menyakitinya lagi, karena bagiku itu pun teramat sakit. Mungkin lebih baik aku pergi menghilang daripada kehadiranku cuma mampu menimbulkan rasa sakit yang mendalam.

Anak Ingusan

Well, hari ini aku menjadi anak ingusan. Anak ingusan dalam pengertian yang sebenarnya yaitu hidungku terus menerus mengeluarkan ingus dan mengeras. Agak aneh rasanya ketika hidungnya mengeras, aku menjadi merasa tidak mood untuk mengupil.

Tetapi ada yang aneh di sini. Ingusku tidak seperti ingus anak pada umumnya yang kental, berlendir, dan lengket. Ingusku ini cair, malah seperti air dan warnanya kuning. Jika aku menengadah ke atas dan mengesap ingus yang belum keluar itu kembali, kepalaku terasa saat pusing dan sakit. Sama seperti rasanya ketika tanpa sengaja kamu mengesap air melalui hidungmu. Parahnya lagi adalah, aku tidak mampu menghentikan ingus cair ini seperti ingus-ingus pada umumnya.

Aku baru tersadar bahwa aku beringus pagi tadi. Saat aku terbangun dengan terpaksa karena aku mengesap ingus tanpa sengaja yang membuat kepalaku seperti kemasukan alien. Saat aku bangun, ingusnya belum keluar. Baru saat aku membaca beberapa journal yang sudah aku print, tanpa kusadari ada air yang keluar dari hidungku dan menetes di lembaran-lembaran putih jurnalku. Warnanya kuning.

(lebih…)

Mentawarkan Kesedihan

Ada banyak kesedihan yang harus ditawarkan dalam setiap perjalanan kehidupan. Bahkan pun gembira harus ditawarkan, agar tidak menjadi terlalu manis, asin, ataupun pahit. Kebanyakan orang tidak pernah mentawarkan diri mereka kepada kebahagian, seperti manis yang selalu hidup di dalam diri kita. Kita terus mengkonsumsi manisnya kehidupan sehingga tidak punya ruang untuk mengingat bahwa dalam setiap episode, ada namanya kesedihan.

Kesedihan seringnya datang dengan berbagai rasa. Aku kadang merasakannya sebagai suatu yang pahit, lebih pahit dari obat. Kadang asin, lebih asin dari lautan ataupun tambang garam. Kadang serupa manis yang keterlaluan.

Banyak yang bingung. Bagaimana kesedihan mampu datang dalam bentuk yang begitu manis. Kadang, dalam suatu rasa kesedihan, ada sebuah rasa seperti mendapatkan berita baru dalam suatu kehidupan. Menambahkan satu poin kebijakan dalam memandang hidup ini. Aku memberikan rasa manis terhadap kesedihan yang demikian. Manis yang keterlaluan.

Namun, apa yang aku rasakan saat ini belum mampu aku jabarkan. Dalam kategori manakah kesedihan yang sedang berlangsung ini. Apakah dia akan menjadi sesuatu yang aku sebut pahit, ataukah asin, atau mungkin jika kelak di ujung aku akan menyebutkan sebuah rasa manis yang ditawarkan kehidupan oleh rasa luka.

(lebih…)