Ruang Penuh Debu

Ruang Penuh Debu

Hi kamu. Lama sudah tidak aku sentuh, bahkan aku lirik pun jarang. Jika kamu adalah sebuah buku, mungkin saat ini ada banyak sarang laba-laba yang bersatu dengan warna sampulmu. Atau mungkin, asamnya udara membuat pudar warnamu dan menjadi semakin menguning. Entah mengapa, aku tidak lagi suka menulis seperti dulu. Sempat aku kuatkan tekad untuk menulis namun rasanya seperti sia-sia, jemariku tak kunjung berhasrat untuk memberitakan berpatah kata pada laman blog ini.

Aku tidak tahu, apa yang membuatku demikian. Mengasingkanmu. Membuatmu tersudut di pojok ruang sepi yang tiada siapa peduli. Apakah kegalauanku terhadap hidup sudah sedemikian pudar? Tidak juga. Malah aku merasa semakin tidak mengerti dengan diriku sendiri. Aku seperti asing dengan sosok yang bernama Baiquni ini. Aku semakin tidak mengenal aku, mungkin karena aku semakin jauh dari dekapan Tuhan. Bukankah sering terdengar, mereka yang mengenal dirinya adalah yang mengenal Tuhannya. Lantas, mengapa?

Namun, bolehlah aku sedikit membuka satu tabir rahasia. Aku selalu ingin menulis banyak hal lagi. Terkadang, saat aku dalam perjalanan, aku mengingat tentangmu. Aku mencoba memperanakkan kata di dalam kepalaku, mencoba membangun embrio tulisan, lantas menjadikannya janin. Tetapi, sekali lagi, ketika tekad itu telah muncul selalu saja kalah oleh kemalasanku. Beribu kata yang telah terjahit kembali urai menjadi benang-benang basah yang tak mampu ditegakkan.

Baca Selengkapnya

Mungkin Jodoh

Aku teramat sering merindukanmu
Menunggumu seringnya dalam diam
Berkaca di layar yang penuh dengan aksara
Melihatmu bercerita tentang segala hal
Walau sejujurnya, yang aku tunggu
:kau bercerita tentangku

Pikiranku terbang
Di awan yang tidak putih
Dan langit tidaklah serupa bumi
Di sini, setiap rintik hujan
Jatuh menetes, membentuk namamu

Dari seluruh perjumpaan
Ingin rasanya aku hidup dalam sel-mu
Menuliskan namaku dalam setiap dna-mu
Jadi, jika engkau beregenerasi, aku pun ikut
Saat kau membiak, aku pun ada
Namaku abadi dalam jejak keturunanmu

Entah mengapa,
Kata orang, mereka yang serupa adalah jodoh
Dan kau perhatikanlah
Senyum manisku berubah menjadi semanis kamu

— Bandung, 6 Juni 2015 —

Incoming search terms:

Hati Yang Berbicara

holding hands
sumber: matthewsparty.com/

Masih ingatkah engkau, saat kita menghitung bilangan tahun. Dan sekarang, hanya menghitung bulan. Lantas kemudian hari, dan di ujung ada haru yang akan tumpah untuk setiap detik penantian.

Tapi, aku tak tahu apa yang menjadikan diam sebagai dinding. Apakah mungkin relief-relief yang kita ukirkan pada tembok-tembok ratapan membuat kita jemu. Atau, karena sibuknya kita mengalihkan segala sesuatu yang berujung rindu. Mencoba menekan sampai ke dalam sumsum tulang. Sampai-sampai, bahkan angin pun tak akan tahu.

Hatta, berminggu-minggu penantian aku rasakan bagai bilangan abad. Yang tidak mampu kuhitung kapan akan menciut menjadi tahun. Dan saat engkau mengabarkan kedatangan, maka sepenuh itu aku menjadi cemas. Apakah rupaku yang dulu kau lihat, masih tetap sama engkau cintai. Karena aku takut, elok rupa pria akan memalingkanmu dari dunia.

Lihatlah olehmu, dengan mata yang ada di kepalamu, tentang ringkihnya tubuhku semakin menjadi. Tentang uban-uban yang semakin lebat bersemai di kepalaku. Tentang mata yang semakin letih dan menjadi sendu. Dan urat-urat yang hadir menonjol di antara lenganku.

Baca Selengkapnya

Rindu

Dia Dia Dia

Rindu
sumber: icysnowhite.blogspot.com

Ada sebuah rasa yang hadir di dalam diri setiap anak-cucu Adam yang bernama rindu. Sebuah rasa hebat ingin bertemu, berjumpa, dan melihat rupa. Sesuatu yang jika telah jumpa, maka pisah bukanlah sebuah jawaban ataupun opsi. Hampir-hampir, tidak boleh ada kosakata yang bermakna pergi atau berpisah yang hadir, jika rasa itu telah muncul. Iya! Demikianlah adanya.

Kamu yang membaca tulisan ini pun mungkin telah merasakan hal yang sama. Segala rasa yang terkumpul di dalam dada. Perasaan berkecamuk hebat yang ingin segera dituntaskan: bahkan hanya dengan sebuah suara yang hadir atau tulisan yang datang tiba-tiba.

Menunggu. Terkadang itulah alasan mengapa perasaan ini hadir. Perasaan yang akan selalu hadir pada seluruh anak-cucu Adam di dunia ini. Siapapun dia. Perasaan menunggu yang saat telah cukup terkumpul akan menciptakan kerinduan hebat yang bahkan pribadinya akan sulit mengungkapkannya. Hanya hati yang mampu berbicara, namun tidak ada lisan anak manusia yang mampu merapalnya.

Baca Selengkapnya

Random

blankSaya sedang duduk di kursi, di depan meja, berhadapan dengan laptop yang sedang menyala. Di sisi kanan saya ada teh yang tadi mengepul dengan asap putih tebal tetapi kini mulai memudar. Saya membuat teh lebih awal. Membiarkannya tetap begitu, dan akan mulai menyesap perlahan saat azan magrib berkumandang. Laptop saya masih menyala terang, di dalamnya layar admin WordPress terbuka, bersisi dengan tab facebook yang juga selalu ada. Saya cuma terpekur.

Pikiran saya jauh melayang ke antarpulau. Seseorang yang saya cintai sedang bekerja di pulau yang berbeda. Mungkin dia juga merindukan saya (harapan saya), atau bahkan mungkin saja acuh tak peduli. Siapa sih seorang saya? Tetapi saya benar-benar teramat rindu.

Kemarin mama juga mengutarakan hal yang sama. Sesuatu tentang rindu, begitu manusia bumi menyebutnya. Hal yang mengganjal di pikiran seseorang saat berharap kehadiran orang lain di sisinya namun tidak tercapai, sehingga yang mampu dilakukan adalah cuma memikirkan dan mengirimkan segala doa. Saya pun demikian. Sedang merindukan seseorang.

Baca Selengkapnya