Mungkin Jodoh

Aku teramat sering merindukanmu
Menunggumu seringnya dalam diam
Berkaca di layar yang penuh dengan aksara
Melihatmu bercerita tentang segala hal
Walau sejujurnya, yang aku tunggu
:kau bercerita tentangku

Pikiranku terbang
Di awan yang tidak putih
Dan langit tidaklah serupa bumi
Di sini, setiap rintik hujan
Jatuh menetes, membentuk namamu

Dari seluruh perjumpaan
Ingin rasanya aku hidup dalam sel-mu
Menuliskan namaku dalam setiap dna-mu
Jadi, jika engkau beregenerasi, aku pun ikut
Saat kau membiak, aku pun ada
Namaku abadi dalam jejak keturunanmu

Entah mengapa,
Kata orang, mereka yang serupa adalah jodoh
Dan kau perhatikanlah
Senyum manisku berubah menjadi semanis kamu

— Bandung, 6 Juni 2015 —

Bilanya Rindu Maka Tahanlah

Bilanya rindu, maka tahanlah
Belum digenapkan hari
Takdir kita belum lagi sampai

Engkau, aku pun sama
Merindu durjana
Memberontak batin ingin jumpa
Bersitatap dengan si putih di kepala
Bersama menentukan hari-hari bahagia

Bilanya rindu, maka tahanlah
Tak perlu gusar menghitung hari
Jangan tanya ucap kapan datang
Bila waktu telah sampai
Nanti, pasti tiada akan menghalangi

Hari belum lagi genap seribu
Janji belum lagi waktu untuk tunai
Maka bersabarlah
Semoga Tuhan lapangkan jalan kita

Mari kita bungkam
Diamkan segala peri-peri ini

Apa kau sama?
Bila rindunya, gelisah menjadi tanda
Makan melamun
Setiap sudut ada kau wajah
Setiap zikir ada kau nama

Bilanya rindu, maka tahanlah
Menunggu terbit waktu pagi
Takdir tunai ditepati
Maka olehmu, sekarang diam
Jangan sepatah kata terucap
Cinta, bukan untuk dibincangkan

(lebih…)

Puisi Untuk Jiwa

“Le, do you study poetry?” Confucius asked his son.

“No,” Le replied shamefacedly.

“He who does not study poetry is like a man with his face turned to the wall. Does a man with his face turned to the wall ever see anything beautiful?”

How The Great Religions Began (Joseph Gaer) –

puisi
sumber: kumpulremaja.blogspot.com
Puisi, nyatanya diciptakan oleh hati. Saya jarang membaca puisi yang tertuang oleh karena alam pikiran semata. Seringnya, saya membaca puisi-puisi yang ditulis dengan hati. Dan karena sebuah puisi ditulis oleh hati, maka yang membacanya pun harus menggunakan hati.

Semakin sering suatu puisi dibacakan, semakin indah dia. Seolah, antara dua hati sudah semakin mengenal. Pertama membaca, seperti malu tapi mau. Berikutnya membaca, seolah adalah seorang teman baru. Kemudian, lanjut menjadi sahabat lama. Lalu terjadi ikatan hati dan ada sebuah rindu dalam tiap bait kata.

Apa pernah mencium harum puisi? Tiap kata yang terpilih menjadi satu komposisi yang berbeda. Puisi seolah memiliki nyawa. Terkadang, ada puisi dengan harum kecut, ada pula yang mewangi. Untungnya, terlalu banyak mengkonsumsi puisi tidak akan menyebabkan obesitas.

Bacalah puisi. Semoga hatimu akan lembut karenanya.

(lebih…)

Benci Benci Benci

jangan heran
bila langitmu malam ini tanpa bintang
telah ku telan semua bintang
dan bahkan hitam telah hilang

kau tak ada
aku tak berarti
jangan pernah ada bayang lagi,
walau setitik elektron yang menjalari sel abu-abu

kamu hilang
aku terbakar ilalang
sudah cukup…
cukup sudah…
kita bermain dengan api dan benci
lebih baik ku pergi menghilang
atau kau mati saja, lalu hilang tertelan bumi

benci benci benci
sepenuh aku benci
kepadamu
sepenuh aku cinta juga kepadamu

lebih baik kamu pergi, atau aku yang mati
tapi lebih baik kamu mati lalu aku pergi
sehasta menjauh, sedepa lari, pergilah jauh hingga mataku buta
dan bayangmu sirna

cukup cukup cukup
aku mencintaimu
sekarang kisah baru kita dibentangkan
episode baru
AKU MEMBENCIMU

Cerita Aninditha: Lelaki Layang-layang

Bergemuruh hati, kian menerpa
Entah mengapa sayangku tak kunjung reda
Padahal jauh di pelupuk mata terpejam asa
Tertinggal mimpi-mimpi yang kian merajut
Ia menjalin makna kata demi kata
Berjalan perlahan aku mengeja namamu
Huruf demi huruf
Kutata dengan bangga
Hingga bertaut menjadi Lelaki Layang-layang
Yang pergi menghilang
Walau mengambang
Aku tetap sayang…

(Januari, untuk Ditha)

Puisi ini karya temanku Windri Septi Januarini