Cinta Tanpa Rupa

Nama-nama hadir, karena manusia terus meminta. Manusia tidak mampu mencintai tanpa wujud, mereka telah hidup dalam berbagai rupa, mencintai dengan banyak rupa. Manusia butuh wujud, mereka butuh nama. Manusia bingung dengan sesuatu yang abstrak, mereka tidak akan pernah khatam tentang cinta. Nama datang karena manusia meminta untuk dia yang tidak terjelaskan.

Nama-nama, dari langit sana, didatangkan dengan beragam. Dia yang tanpa wujud telah menghadirkan 99 nama. Satu nama tunggal untuk bisa manusia ucap dalam setiap doa mereka.

Dia mencintai manusia. Dia paham betul, manusia akan kebingungan dengan cinta tanpa rupa. Dia telah awal mengerti, manusia butuh nama dalam cinta.

Tidakkah engkau diperlihatkan, betapa banyak nama-nama hadir di dalam hati manusia untuk menjadi simbol untuk satu jiwa. Nama yang kadang terus hadir dan terukir, sebagian menjadi abadi, dan sebagian yang lain hanya menjadi sampah hati. Semua terwakili oleh nama, dan dalam wujud rupa.

Aku ingin mencintai, tanpa nama, tanpa rupa.

(lebih…)

Bosan, Tuhan, Budak, dan Manusia

Kadang seseorang bisa menjadi begitu bosan dengan rutinitas harian mereka. Terkadang mereka bosan dengan pekerjaan yang dengannya mulut mereka tersuapi, kadang dengan pasangan yang telah memberi mereka anak. Dan beberapa orang aku ketahui mulai bosan dengan kehidupan, mereka bosan dengan Tuhan. Ada beberapa orang yang semakin hari semakin ramai di kalangan mereka. Mereka percaya bahwa alam mampu hadir tanpa peran Tuhan. Dan manusia mereka anggap berasal dari monyet.

Baiklah. Kita tidak akan membahas tentang mereka. Karena tugas kita adalah berbicara, mengajak dengan sebaik-baik bahasa dan perkataan. Masalah mereka menurut apa yang mereka pikirkan, atau apa yang kita pikirkan, itu adalah urusan Tuhan. Tugas kita bukan memaksa mereka, cuma Tuhan yang mampu memaksa. Tugas kita adalah cuma menyampaikan, apa yang semestinya tersampaikan.

Dan aku bosan. Aku mulai bosan dengan rutinitasku yang cuma hampir 24 jam berada di kamar bahkan tidak menjejakkan kaki ke pintu terluar atau pagar dari areal rumah ini. Sungguh aku bosan untuk terus berada di kamar. Aku ingin pergi, sama seperti orang pada umumnya: menikmati udara dan sinar mentari.

Aku bosan dengan laptopku yang cuma 1 jam aku matikan di antara 24 jam perputaran waktu sehari-semalam. Aku bosan dia tetap hidup dan terus bercahaya. Aku ingin di padam, lantas semua lampu juga aku matikan. Aku ingin nyenyak tertidur tanpa harus bangun dengan perasaan pelik dan gundah.

(lebih…)

Namaku Kathmandu

sufism
sufiroad.blogspot.com
Rosario itu masih mengamit di tanganku. Dalam genggamanku dia berputar, sehaluan dengan bait-bait nama Tuhan yang bertasbih dari bibirku. Bibir kering yang terlalu lama tidak disirami air. Liurku juga telah kering, bahkan sering sekali kerongkonganku terasa sakit. Panas membumbung tinggi, matahari seperti sejengkal di atas ubun-ubun.

Rosarioku adalah tasbih yang unik, terukir dari biji-biji korma yang telah dikeringkan. Korma adalah makanan yang disukai nabiku, aku menjadikannya sebagai rosario sebagai bentuk cinta walau aku tetap memakan gandum yang telah menjadi roti. Cuma sesekali aku memakan korma, aku tidak begitu suka dengan sesuatu yang manis kecuali susu dengan tambahan sedikit gula.

Tidak cuma biji korma. Aku juga menyimpan segenggam pasir dari tanah yang pernah disinggahi oleh nabiku. Pasir itu kumasukkan ke dalam sebuah kantung yang kukalungkan dileherku. Sesekali jika cintaku telah begitu melangit maka aku berdiam sejenak, kutundukkan kepalaku ke tanah lantas kantung pasir itu kuciumi. Aku seperti sedang menciumi kaki nabiku.

Aku cinta nabiku.

Guru sering bercerita, dulu. Dia pernah kata bahwa nabiku adalah manusia suci, yang dosanya terampunkan dahulu, sekarang, dan masa akan datang. Nabiku adalah pecinta Tuhan sejati. Walau Tuhan telah mengampunkan segala dosa-dosanya, namun nabiku tidak langsung naik kepala. Dia tetap tekun bercinta dengan Tuhannya. Saban malam dikorbankan tidurnya demi Tuhannya. Pernah ditanya mengapa hal demikian dia lakukan, dan engkau tahu jawabnya? “Tidak bolehlah aku menjadi hamba yang bersyukur?

(lebih…)

El, Aku Rindu

Peluhku belum lagi kering, tanah masih membara, dipandu terik mentari menyengat. Tanah ini tidak berpasir, namun retak seperti merekah sepenggal. Warnanya kuning, keruh.

Aku berjalan, langkahku gontai. Seperti telah habis tenaga, napasku cuma tinggal satu-satu. Bahkan untuk menghirup dan membuang napas, aku seperti kehilangan tenaga. Terik mentari membuatku sangat lelah. Namun rindu lebih membuatku kebingungan.

El, aku rindu.

(lebih…)