Lagu Tentang Hujan

Lagu Tentang Hujan

Hujan turun. Lantas aku menutup mata. Mendengarkan tiap syair dari air yang terjun ke bumi. Tentang angin yang bertabrakan, antara air dan daun yang saling berpelukan. Tanah basah. Aku mendengarkan kisah mereka, tentang rindu yang tertahan. Membumbung ke atas lantas terikat. Sampai, mereka melepaskan apa yang telah lama disimpan.

Setiap orang mulai berlari. Meninggalkan basah yang mulai menyapu. Mengangkat tangan menutupi kepala, melangit langkah mencari teduh. Aku mendengarkan kisah mereka, tentang jiwa yang tak ingin terusik. Terganggu roman lain yang mencoba mencari tempat. Satu bait dalam episode hidup. Satu detik dari berjam-jam yang sia.

Guntur pun hadir. Pekik di langit yang telah lama basah. Kilat-kilat yang hadir di awal, laksana ramalan bahwa gelegar gaduh akan tiba. Aku mendengarkan kisah mereka, tentang suara-suara yang lantang, namun senyap dalam kebisuan. Seperti mereka yang tuli, mendengarkan suara tanpa nada, melihat bibir yang bergerak, tetapi yang terdengar cuma diam.

Baca Selengkapnya

Menari Hujan

Aku ingin menari
Lantas hujan turun
Tari semakin menjadi
Gelombang demi gelombang
Yang tercipta cuma indah
Hujan datang, basah
Hingga semua manusia mati

– Muhammad Baiquni –

Aku selalu bertanya, jika nanti aku mati, aku akan ke mana?

Sebagian orang percaya dengan kehidupan setelah mati. Begitu pun aku. Namun, sebagian yang lain juga percaya, tidak ada kehidupan setelah kematian. Proses berpikir manusia ada di bagian otak, kematian — dalam ilmu medis — berarti berhentinya kerja otak.

Hujan memberiku pelajaran. Ada sesuatu yang dinamakan siklus. Bumi memiliki langit, dan hidup akan semakin terbuka oleh kematian. Apakah langit adalah akhir? Jauh di atas biru yang sering kita saksikan, ada jutaan hitam dan milyaran bintang. Dan aku percaya, kematian bukan cuma jasad yang akan luruh di makan zaman. Ada dimensi di mana manusia belum mampu menjangkaunya, seperti sebuah pertanyaan di benakku: “Setelah langit, ada apa?

Baca Selengkapnya

Tentang Hujan

Entah mengapa, tiba-tiba aku berpikir ingin seperti hujan. Dia runtuh, namun tidak sendiri. Mereka kompak. Alunan indah, menyerbu gemerisik, saat benturan membentuk vibrasi gelombang, waktu mereka mulai memukuli genteng-genteng rumah kami. Saat itu, aku suka hujan.

Hujan tidak pernah turun sendiri. Mereka selalu bersama. Turun dengan warna yang sama, dari langit yang sama. Hujan adalah representasi kita dan orang-orang sekeliling kita seyogyanya.

Hujan adalah fase, ketika awan gugur luruh terbunuh. Hujan ibarat darah langit, datang membahasi bumi, memberi siklus baru bagi musim yang mulai kerontang. Dan pelangi akan segera tiba setelah hujan mulai hendak usai.

Banyak cerita kesedihan diibaratkan dengan hujan, padahal menurutku: hujan adalah kebahagiaan.

Baca Selengkapnya

Incoming search terms:

Hujan Yang Aneh

Hujan yang aneh. Biasa orang menyebutnya hujan lokal. Sudah dua kali aku diserang. Dia yang turun dari langit yang membuatku kuyup. Basah. Lantas kedinginan.

Tadi aku di FLP, menjaga sekretariat untuk pendaftaran LMuS (Lomba Menulis Untuk Siswa). Kebetulan, kuitansi dan anak klip sudah habis, jadi aku ditugaskan untuk membeli peralatan tersebut.

Seorang anak FLP, yang berjenis kelamin laki-laki dan bernama Syukri Aba ternyata membawa sepeda. Berbeda dengan aku dan Ibnu yang membawa Honda. Di sini, di Aceh, kami lebih sering menyebutkan sepeda motor itu dengan Honda. Terserah mau merek apa, baik itu honda Yamaha, honda Supra, atau honda Suzuki. Pokoknya yang orang Jakarta sebut motor, atau sepeda motor, di sini disebut honda.

Jadi, aku yang sudah lama tidak bermain sepeda meminjam sepeda milik si Syukri Aba. Aku pun berjelajah mencari fotokopi terdekat dengan FLP. Di daerah Lampriet, akhirnya ada sebuah fotokopi yang buka. Tokonya kecil, hampir seluruhnya cuma terbuat dari kayu.

Lepas setelah aku membeli anak klip dan kuitansi, aku pun mencari toko swalayan terdekat. Aku membeli Pulpy Orange. Nah, kesialan bermula di sini. Saat hendak pulang, hujan pun turun. Tanpa komando, langsung menderas. Aku pun tiba di FLP dalam keadaan tenggelam.

Baca Selengkapnya